Dark/Light Mode

Hilirisasi Bauksit Nasional, Potensi Nilai Tambah Capai Triliunan Rupiah

Selasa, 13 Januari 2026 08:39 WIB
Fasilitas penambangan dan pengolahan bauksit terintegrasi di Mempawah, Kalimantan Barat. (Foto : ist)
Fasilitas penambangan dan pengolahan bauksit terintegrasi di Mempawah, Kalimantan Barat. (Foto : ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Upaya Indonesia meningkatkan nilai tambah sumber daya alam mineral bauksit memasuki fase baru yang lebih agresif. Pemerintah mempercepat ekspansi smelter alumina di dalam negeri sebagai fondasi penguatan industri aluminium nasional sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.

Salah satu proyek strategis yang tengah digenjot adalah fasilitas penambangan dan pengolahan bauksit terintegrasi di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini dikelola PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), perusahaan patungan anggota Grup MIND ID, yakni PT Aneka Tambang Tbk dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

Kehadiran fasilitas pemurnian tersebut menandai perubahan fundamental struktur industri pertambangan nasional, dari yang selama ini bergantung pada ekspor bahan mentah menuju industri bernilai tambah tinggi.

Indonesia tercatat memiliki total sumber daya bauksit sekitar 7,78 miliar ton. Jika seluruh cadangan tersebut diekspor dalam bentuk bijih mentah dengan asumsi harga US$40 per metrik ton, nilai ekonominya hanya sekitar US$311,2 miliar atau setara Rp5.238 triliun dengan kurs JISDOR Rp16.834 per dolar AS.

Baca juga : IKTN Sosialisasi PP Minerba Di Madina, Tambang Rakyat Diminta Berbenah

Namun, nilai tersebut melonjak drastis ketika bauksit diolah lebih lanjut. Dalam proses pemurnian, setiap 3 ton bauksit dapat menghasilkan 1 ton alumina. Dari cadangan yang sama, potensi produksi alumina diperkirakan mencapai 2,59 miliar ton.

Dengan asumsi harga alumina US$400 per metrik ton, nilai ekonomi yang tercipta meningkat menjadi sekitar US$1.037 miliar atau setara Rp17.435 triliun. Nilai tambah semakin besar ketika alumina diproses menjadi aluminium.

Untuk menghasilkan aluminium dibutuhkan sekitar 2 ton alumina. Dengan estimasi produksi aluminium mencapai 1,29 miliar ton dan asumsi harga US$3.000 per metrik ton, total nilai ekonomi yang dapat diciptakan mencapai sekitar US$3.885 miliar atau setara Rp65.145 triliun.

Perbandingan tersebut menegaskan besarnya potensi value creation dari hilirisasi bauksit, sekaligus menunjukkan pentingnya penguatan kapasitas pemurnian alumina sebagai tulang punggung industri aluminium nasional.

Baca juga : PGN Dorong Hilirisasi Gas Bumi Untuk Tingkatkan Nilai Tambah Energi

Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (ISEW) Ferdy Hasiman menilai, langkah hilirisasi yang diinisiasi MIND ID melalui proyek ini mencerminkan transformasi nyata dari pola pertambangan ekstraktif menuju ekosistem industri terintegrasi.

“Di 2025, MIND ID sudah menunjukkan langkah progresif yang sangat berarti. Mereka mulai meninggalkan pola lama pertambangan ekstraktif dan tampil sebagai garda terdepan dalam menekan defisit neraca pembayaran melalui hilirisasi berbagai komoditas mineral,” ujar Ferdy.

Kajian International Aluminium Institute menyebutkan, kapasitas pemurnian alumina merupakan indikator utama daya saing industri aluminium suatu negara. Dengan beroperasinya fasilitas hilirisasi bauksit-aluminium terintegrasi di Mempawah, posisi Indonesia kian strategis dalam rantai pasok aluminium global.

Kapasitas tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menyuplai kebutuhan aluminium dunia, khususnya bagi industri manufaktur, transportasi, dan energi terbarukan.

Baca juga : Solidaritas Nasional, Kemenimipas Kirim Bantuan Untuk Korban Bencana Sumatera

Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada Fahmi Radhi menilai, keberhasilan hilirisasi di Mempawah menjadi bukti bahwa kebijakan larangan ekspor bijih bauksit mampu dioptimalkan untuk membangun kedaulatan industri yang berkelanjutan.

Dari sisi ekonomi daerah, proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) juga memberikan efek berganda di Kalimantan Barat melalui penyerapan tenaga kerja, peningkatan aktivitas ekonomi, serta pengembangan infrastruktur pendukung.

Secara keseluruhan, penguatan hilirisasi bauksit melalui proyek SGAR menjadi instrumen jangka panjang pemerintah untuk mengamankan pasokan bahan baku industri strategis nasional sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar mineral global.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.