Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
IBC–SEAFIC Teken MoU, Dorong Integrasi Ekonomi Asia Tenggara
Jumat, 13 Februari 2026 22:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Indonesian Business Council (IBC) menggandeng The Southeast Asia Futures Initiative Centre (SEAFIC) untuk memperkuat riset dan dialog kebijakan regional guna mendorong integrasi ekonomi Asia Tenggara di tengah ketidakpastian global.
Kerja sama mencakup konsultasi berkala, pengembangan riset bersama, serta penyusunan rekomendasi kebijakan pada sejumlah isu strategis, seperti ketahanan ekonomi kawasan, konektivitas lintas negara, serta isu lintas batas yang berdampak pada arus perdagangan dan keputusan investasi.
Ketua Dewan Pengawas IBC, Arsjad Rasjid, menilai Asia Tenggara tengah memasuki fase yang sangat dipengaruhi dinamika geopolitik dan geokonomi global.
"Dalam situasi ketika tarif perdagangan, disrupsi rantai pasok, dan ketidakpastian global makin memengaruhi keputusan ekonomi, ASEAN perlu bergerak lebih terkoordinasi dan lebih praktis. Percakapan kebijakan harus berbasis bukti dan relevan bagi pelaku usaha,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).
Baca juga : Dirut PTPN I Dorong Transformasi Ekonomi Lampung Lewat Hilirisasi Terintegrasi
Senada, CEO IBC Sofyan Djalil menekankan pentingnya kualitas dan konsistensi kebijakan untuk memperkuat daya saing kawasan.
“Daya saing lahir dari kebijakan yang jelas, konsisten, dan bisa diterjemahkan menjadi proyek nyata. Penguatan jejaring regional dan basis pengetahuan menjadi kunci agar agenda daya saing Indonesia terus menguat,” kata Sofyan.
Ketua SEAFIC Tengku Zafrul Aziz menyebut Asia Tenggara membutuhkan kolaborasi yang lebih terarah dan berpandangan ke depan.
“Kawasan kita memerlukan jembatan yang kuat antara analisis, kebutuhan dunia usaha, dan rekomendasi kebijakan yang praktis untuk memperkuat integrasi serta ketahanan ekonomi,” ujarnya.
Baca juga : Kapolri–Pupuk Indonesia Teken MoU, Kawal Distribusi Pupuk Agar Tepat Sasaran
Penandatanganan MoU tersebut dilakukan dalam rangkaian peluncuran awal SEAFIC yang juga menghadirkan dialog bertema “ASEAN’s Golden Decade: Turning Geopolitical Overload into Geoeconomic Opportunity".
Forum ini membahas strategi kawasan dalam mengubah tekanan geopolitik menjadi peluang geokonomi.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri memberikan sambutan pembuka, sementara Sekretaris Jenderal ASEAN Dr. Kao Kim Hourn menyampaikan pesan dukungan terhadap penguatan sinergi kebijakan dan praktik guna memperkuat ketahanan ekonomi ASEAN.
Dialog turut menghadirkan Prof. Danny Quah dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, Arsjad Rasjid, serta Tengku Zafrul Aziz.
Baca juga : Cek Endra Dorong Penegakan Lingkungan Terintegrasi di Wilayah Rawan Bencana
Para pembicara menyoroti pentingnya koordinasi kebijakan kawasan agar integrasi ekonomi tidak berhenti pada komitmen formal, tetapi tercermin dalam harmonisasi regulasi, kelancaran perdagangan, serta peningkatan investasi intra-ASEAN.
Kolaborasi ini diharapkan membuka ruang forum dan riset bersama yang memperkaya percakapan kebijakan regional serta mempertemukan pengambil keputusan dan pelaku usaha untuk mendorong implementasi yang lebih konkret.
Di tengah tekanan global yang semakin kompleks, penguatan kerja sama berbasis riset dinilai menjadi langkah strategis agar Asia Tenggara mampu menjaga stabilitas sekaligus memanfaatkan momentum pertumbuhan sebagai kawasan ekonomi yang semakin terintegrasi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya