Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Setelah Venezuela, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membidik Greenland dan Meksiko. Dia juga mendukung demonstran di Iran. Trump makin menggila.
Mengutip laporan AFP, Trump secara terbuka menyatakan keinginannya agar Amerika Serikat mengakuisisi Greenland. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan para pimpinan perusahaan minyak di Gedung Putih.
“Saya ingin membuat kesepakatan dengan cara yang mudah. Namun, jika itu tidak berhasil, kami akan menempuh cara yang lebih sulit,” ujar Trump.
Menurut Trump, penguasaan Greenland yang kaya sumber daya mineral dinilai penting bagi kepentingan keamanan nasional AS. Terutama di tengah meningkatnya aktivitas Rusia dan China di kawasan Arktik.
“Jika kita tidak melakukannya, Rusia atau China bisa mengambil alih Greenland. Kami tidak ingin Rusia atau China menjadi tetangga,” katanya.
Baca juga : Polri Tetap di Bawah Presiden
Selain itu, Trump juga memberi sinyal kemungkinan tindakan terhadap kartel narkoba di Meksiko. Ia menuding, Meksiko sebagai jalur masuk narkoba dan imigran ilegal ke Amerika Serikat.
Mengutip Fox News, Trump mengatakan sejak September 2025 AS telah melakukan operasi terhadap puluhan kapal yang diduga terkait jaringan kartel narkoba di kawasan Karibia. “Kami telah melumpuhkan 97 persen narkoba yang masuk melalui jalur laut. Sekarang kami akan mulai fokus pada jalur darat,” ujarnya.
Trump juga menyinggung situasi di Venezuela. Ia menyatakan sebelumnya mempertimbangkan serangan lanjutan terhadap negara tersebut terkait isu tahanan politik. Namun, rencana itu disebut dibatalkan setelah pemerintah Venezuela membebaskan sebagian besar warga negara asing yang ditahan.
Menurut Trump, pembebasan tersebut merupakan langkah positif. Ia juga menegaskan bahwa hubungan AS dan Venezuela tetap berjalan, khususnya dalam kerja sama sektor minyak dan gas.
“Saya telah membatalkan rencana gelombang serangan kedua yang sebelumnya dipertimbangkan,” kata Trump, seperti dikutip Newsweek.
Baca juga : Penuduh Ijazah Palsu Silaturahmi ke Jokowi
Sementara itu, terkait Iran, Trump menanggapi laporan mengenai demonstrasi besar-besaran di negara tersebut. Dikutip dari Reuters, Trump mengisyaratkan dukungan terhadap para pengunjuk rasa dan memperingatkan pemerintah Iran agar tidak menggunakan kekerasan berlebihan.
Sejumlah pernyataan Trump menuai sorotan internasional karena dinilai berpotensi bertentangan dengan prinsip hukum internasional.
Dalam wawancara dengan The New York Times, Trump menyatakan, hukum internasional tidak selalu menjadi acuan dalam pengambilan keputusan kebijakan luar negerinya. “Saya tidak membutuhkan hukum internasional. Saya tidak berniat menyakiti siapa pun,” ujar Trump.
Ia menambahkan, kepatuhan terhadap hukum internasional bergantung pada interpretasi dan situasi yang dihadapi.
Menanggapi pernyataan tersebut, sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Denmark menyatakan dukungan terhadap Greenland. Dalam pernyataan bersama, Uni Eropa menegaskan bahwa masa depan Greenland tidak dapat ditentukan secara sepihak.
Baca juga : Utang Pinjol Warga RI Naik: November 2024 Rp 90 T, November 2025 Rp 94 T
“Greenland adalah milik rakyatnya, dan hanya Denmark serta Greenland yang dapat menentukan hubungan mereka,” demikian pernyataan tersebut.
Uni Eropa juga menekankan pentingnya menjunjung prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk kedaulatan negara dan integritas teritorial, serta menyerukan agar setiap keputusan ditempuh melalui mekanisme kolektif dalam kerangka NATO.
Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menyambut baik sikap negara-negara Eropa dan menegaskan pentingnya dialog yang berlandaskan hukum internasional. “Dialog harus dilakukan dengan menghormati status Greenland yang berakar pada hukum internasional dan prinsip integritas teritorial,” ujarnya.
Pengamat Hubungan Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menilai, sikap Trump mencerminkan paradoks negara besar terhadap hukum internasional. “Amerika Serikat selama ini kerap mendorong negara lain untuk patuh pada hukum internasional, namun kini justru mengabaikannya,” kata Hikmahanto.
Ia memperingatkan, jika AS menggunakan kekuatan untuk mewujudkan ambisinya, hal itu berpotensi memicu resistensi negara-negara Eropa dan mengguncang soliditas NATO.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya