Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Bamsoet Yakini Kesepakatan Dagang RI-AS Dorong Daya Saing Industri Dalam Negeri
Senin, 23 Februari 2026 10:59 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Anggota DPR Fraksi Partai Golkar sekaligus Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Bambang Soesatyo, mengapresiasi hasil perjanjian dagang Indonesia–Amerika Serikat (AS),yang disepakati Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington D.C., pekan lalu. Dia menilai, kesepakatan bertajuk Agreement on Reciprocal Trade (ART) tersebut sebagai capaian strategis diplomasi ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global dan perlambatan perdagangan dunia.
Dalam perjanjian tersebut, AS menurunkan tarif impor produk Indonesia dari rata-rata 32 persen menjadi 19 persen, serta memberikan tarif 0 persen untuk 1.819 pos tarif produk unggulan Indonesia. Produk yang mendapatkan fasilitas tersebut antara lain minyak sawit, kopi, kakao, karet, rempah-rempah, tekstil dan produk tekstil tertentu, komponen elektronik, hingga sejumlah komponen industri dirgantara.
Menurut Bamsoet, sapaan akrab Bambang, kesepakatan ini adalah hasil diplomasi ekonomi yang konkret dan terukur. Penurunan tarif dari sekitar 32 persen menjadi 19 persen, serta pemberian tarif 0 persen untuk 1.819 pos tarif produk Indonesia, merupakan capaian strategis yang patut diapresiasi.
Baca juga : BSI Perkuat Literasi Keuangan dengan KJRI Johor Bahru & KBRI Kuala Lumpur
"Ini angin segar bagi pelaku usaha, petani sawit, petani kopi, industri tekstil, hingga sektor manufaktur berorientasi ekspor,” ujar Bamsoet, di Jakarta, Senin (23/2/2026).
Ketua DPR ke-20 dan Ketua MPR ke-15 ini memaparkan, sepanjang tahun 2025, nilai ekspor Indonesia ke AS mencapai sekitar 30,96 miliar dolar AS, sementara impor dari AS sekitar 9,84 miliar dolar AS, sehingga Indonesia membukukan surplus lebih dari 21 miliar dolar AS. Produk-produk seperti mesin dan perlengkapan listrik, alas kaki, pakaian jadi, serta komoditas berbasis perkebunan menjadi kontributor utama. Dengan skema tarif baru, pelaku usaha nasional dapat meningkatkan daya saing harga produk Indonesia di pasar AS karena beban bea masuk yang jauh lebih rendah.
“Surplus perdagangan kita dengan Amerika sudah kuat. Perjanjian ini berpotensi memperbesar surplus tersebut jika diikuti peningkatan produktivitas dan kualitas produk dalam negeri. Tantangannya sekarang adalah memastikan pelaku usaha kita siap memanfaatkan momentum ini,” kata Bamsoet.
Baca juga : Formula Komit Edukasikan Kesehatan Gigi Dorong Inovasi Berbasis Teknologi
Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menuturkan, selain aspek tarif, kedua negara juga menyepakati komitmen investasi dan kerja sama bisnis senilai sekitar 38,4 miliar dolar AS di sektor energi, teknologi, manufaktur, mineral, serta agribisnis. Indonesia juga berkomitmen melakukan pembelian produk energi, pertanian, dan aviasi dari AS dalam jumlah besar sebagai bagian dari keseimbangan perdagangan. Di sisi lain, masuknya investasi baru diharapkan memperkuat hilirisasi industri dan menciptakan lapangan kerja baru.
“Arus investasi yang masuk harus kita kawal agar benar-benar memberi efek berganda bagi ekonomi nasional. Transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan industri dalam negeri harus menjadi prioritas. Kita ingin kerja sama ini berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat,” urai Bamsoet.
Meski demikian, Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran ini mengingatkan pentingnya mitigasi risiko. Pembukaan akses pasar yang lebih luas bagi produk Amerika berpotensi meningkatkan persaingan bagi industri dalam negeri, terutama sektor pertanian dan manufaktur tertentu. Pemerintah perlu memastikan kesiapan regulasi, perlindungan sektor strategis, serta peningkatan produktivitas UMKM agar mampu bersaing secara sehat di pasar dalam negeri maupun global.
Baca juga : Beniyanto Dorong Penguatan Tata Kelola Industri Nikel Morowali
“Kita harus realistis dan cermat. Perjanjian ini membawa peluang besar, tetapi juga tantangan. Pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif agar industri nasional tidak tergerus oleh produk impor yang lebih kompetitif. Penguatan daya saing menjadi kunci utama,” pungkas Bamsoet.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya