Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Grab Indonesia memastikan para mitra pengemudi (driver) ojek online (ojol) bakal menerima bonus hari raya (BHR) jelang Lebaran 2026.
Meski begitu, Grab belum bisa menyebut nominal pasti besaran yang akan didapat diterima para mitra ojol.
Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) juga saat ini tengah menyusun Surat Edaran (SE) BHR, dan berkoordinasi erat dengan Kementerian Sekretariat Negara (Setneg).
Chief Executive Officer (CEO) Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan, pihaknya mengapresiasi para mitra pengemudi yang berprestasi dan konsistensi layanan dan komitmen yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
"Stay tune for the update ya, karena kami masih diskusi dan sebagainya dan kami juga akan menunggu dari rumahnya apakah ada arahan lain,” ujarnya dalam acara silaturahmi sekaligus buka puasa bersama media di Jakarta, Kamis (26/2/2026) malam.
Neneng juga mengimbau kepada para driver khususnya mitra Grab tidak perlu khawatir dalam menyambut momen Lebaran tahun 2026, karena pihaknya juga telah menyiapkan kejutan dan bonus lainnya.
Ia mengatakan, kepastian pencairan BHR mitra pengemudi akan dicairkan sebelum Hari Raya Idul Fitri. Bagi seluruh mitra yang memenuhi kriteria penerima dipastikan akan mendapatkan BHR tepat waktu.
Baca juga : BAKN DPR Pastikan Subsidi Listrik Lebih Tepat Sasaran
“Semua mitra yang berhak menerima. Terkait besaran bonus, Grab belum merinci nominal yang akan diterima mitra. Namun perusahaan memastikan terdapat peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya,” katanya.
Neneng menegaskan, lebih dari 50 persen mitra pengemudi Grab berusia di atas 36 tahun, bahkan sebagian besar di atas 45 tahun.
Dari sisi pendidikan, 69 persen merupakan lulusan SMA, sementara 31 persen di atas SMA. Sekitar 182.500 mitra adalah perempuan serta lebih dari 700 mitra penyandang disabilitas yang aktif di platform.
Menariknya, satu dari dua mitra pengemudi sebelumnya merupakan korban pemutusan hubungan kerja (PHK)
“Inilah yang kami maksud sebagai fungsi bantalan sosial. Banyak yang terdampak PHK kemudian menemukan peluang penghasilan melalui platform Grabu," ujarnya.
Berdasarkan studi ITB (2023), industri ride-hailing dan pengantaran online menyumbang Rp 382,62 triliun atau sekitar 2 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2022.
Menurut Neneng, Grab telah berkontribusi sekitar 50 persen di sektor transportasi dan pengantaran online, menegaskan besarnya dampak ekonomi yang dihasilkan oleh ekosistem layanan ini.
Baca juga : Sumur Libo SE #86 PHR Hasilkan 1.274 Barel Minyak per Hari Tanpa Air
Lebih dari itu, Grab juga menjadi batu pijakan penting bagi banyak korban pemutusan hubungan kerja (PHK).
Dalam ekosistem Grab, hampir setengah mitra pengemudi adalah mereka yang sebelumnya terkena PHK atau tidak memiliki sumber penghasilan lain.
Data internal Grab per Desember 2025 menunjukkan terdapat sekitar 3,7 juta Mitra Pengemudi terdaftar, namun yang aktif narik minimal satu kali per bulan berkisar antara 700.000 hingga 800.000 orang.
“Angka ini menggambarkan karakter gig economy yang sangat fleksibel, di mana partisipasi mitra bisa berubah-ubah sesuai kebutuhan mereka,” kata Neneng.
Mayoritas mitra menggunakan platform ini sebagai penghasilan sampingan. Lebih dari 80 persen mitra pengemudi roda dua dan sekitar 67 persen mitra roda empat menjadikan Grab sebagai sumber penghasilan tambahan, bukan penghasilan utama.
Neneng merinci, mitra pengemudi roda empat terbagi dalam beberapa kategori berdasarkan intensitas kerja dan pendapatan.
Pertama, sebagai penghasilan utama, sekitar 10-11 persen mitra menjadikan Grab sebagai nafkah utama dengan pendapatan lebih dari Rp 10 juta per bulan, rata-rata menyelesaikan 11 order per hari.
Baca juga : Pemulihan Sekolah Sumatera Dikebut, Kelas Darurat Turun
Kedua, penghasilan rutin, sekitar 21-22 persen mitra menghasilkan Rp 4-10 juta per bulan, menyelesaikan sekitar 7 order per hari dengan pola kerja yang lebih fleksibel.
Ketiga, penghasilan Sampingan sebesar 33-34 persen mitra mendapatkan Rp 1-4 juta per bulan sebagai penghasilan tambahan, biasanya bekerja 2-4 jam sehari.
Keempat, penghasilan sesekali sekitar 34-35 persen mitra hanya narik sesekali, menghasilkan hingga Rp1 juta per bulan, biasanya di waktu luang seperti akhir pekan.
“Mitra pengemudi roda dua menunjukkan pola serupa dengan pembagian antara penghasilan utama, rutin, sampingan, dan sesekali, menegaskan fleksibilitas gig economy yang memberi ruang bagi berbagai kebutuhan dan kondisi mitra,” ujar Neneng.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya