Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Prancis, Inggris Dan Jerman Dukung AS–Israel
China–Rusia–Korut Akankah Bela Iran?
Selasa, 3 Maret 2026 08:16 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Tiga sekutu utama Amerika Serikat di Eropa, yakni Prancis, Inggris, dan Jerman menyatakan siap ikut berperang bersama Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran. Lalu bagaimana dengan sekutu Iran; China, Rusia, dan Korea Utara, apakah mereka akan membela Negeri Para Mullah itu?
Prancis, Inggris, dan Jerman mengutuk keras serangan Iran ke pangkalan militer AS di sejumlah negara Teluk Arab. Mereka menilai Iran menembakkan rudal secara sembrono sehingga berpotensi memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.
Mereka mengaku terkejut atas serangan rudal Iran yang dinilai tidak pandang bulu, terutama terhadap negara yang tidak terlibat dalam operasi militer awal yang dilakukan AS dan Israel. Menurut mereka, serangan balasan Iran juga mengancam keselamatan personel militer serta warga sipil dari negara-negara sekutu di kawasan. Karena itu, ketiganya sepakat berkoordinasi dengan Amerika dan sekutu lainnya untuk menentukan langkah respons selanjutnya.
“Kami akan mengambil langkah-langkah untuk membela kepentingan kami dan sekutu kami di kawasan, termasuk kemungkinan mengaktifkan tindakan defensif yang diperlukan dan proporsional untuk menghancurkan kemampuan Iran menembakkan rudal dan drone dari sumbernya,” demikian isi pernyataan bersama yang dirilis Minggu (1/3/2026).
Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengatakan, sebuah drone Iran yang menargetkan Pelabuhan Abu Dhabi sempat menghantam hanggar di pangkalan udara angkatan laut Prancis di Uni Emirat Arab. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, insiden tersebut menyebabkan kerusakan material.
“Kerusakan terbatas pada kerugian material dan tidak ada korban jiwa,” ujar Macron.
Namun demikian, Macron menegaskan, Prancis akan meningkatkan kewaspadaan. Paris memperkuat postur pertahanan dan meningkatkan koordinasi dengan negara-negara yang memiliki perjanjian pertahanan dengannya. “Tidak akan kita biarkan tanpa tanggapan,” tegasnya.
Baca juga : Pramono: Pembangunan Jembatan Penghubung JIS–Ancol Dimulai 25 Januari 2026
Macron juga mengkritik serangan AS dan Israel ke Iran. Menurutnya, serangan tersebut memicu eskalasi regional yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, ia menilai Iran membalas secara membabi buta hingga mengenai fasilitas militer dan target sipil di negara-negara sekutu.
“Uni Emirat Arab menjadi negara yang paling terdampak dalam situasi ini, sementara Qatar juga menjadi salah satu sasaran utama,” paparnya.
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan, negaranya siap membantu Amerika dan Israel dalam upaya mempertahankan keamanan kawasan. Starmer mengatakan Inggris telah menerima permintaan AS untuk menggunakan pangkalan militernya di Timur Tengah.
“Kami telah mengambil keputusan untuk menerima permintaan ini guna mencegah Iran menembakkan rudal di seluruh wilayah, membunuh warga sipil yang tidak bersalah, membahayakan nyawa warga Inggris, dan mengenai negara-negara yang tidak terlibat,” ucap Starmer.
Starmer menegaskan, langkah tersebut sejalan dengan hukum internasional dalam melindungi warga dan negara sekutu. Meski demikian, ia memastikan Inggris tidak terlibat dalam serangan awal terhadap Iran dan tidak akan ikut serta dalam operasi ofensif saat ini.
Namun, ia menilai, situasi di kawasan menunjukkan Iran tengah menerapkan strategi eskalasi yang berbahaya. Karena itu, Inggris memandang dukungan terhadap pertahanan kolektif sekutu sebagai langkah terbaik untuk meredam ancaman dan mencegah konflik semakin meluas di Timur Tengah.
“Ini adalah cara terbaik untuk menghilangkan ancaman mendesak dan mencegah situasi semakin memburuk,” tegas Starmer.
Baca juga : Setan Merah Tersungkur, Aston Villa Mantap Di 3 Besar
Sementara itu, Iran dikabarkan berupaya mempercepat negosiasi dengan Rusia dan China untuk memperoleh sistem rudal canggih. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari konflik Iran dengan Israel yang dikenal sebagai “Perang 12 Hari” pada Juni 2025. Namun hingga kini, dukungan Rusia dan China terhadap Iran masih sebatas pernyataan diplomatik, belum berupa bantuan militer langsung.
Upaya meredakan konflik juga dibahas dalam komunikasi telepon antara Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Minggu (1/3/2026). Dalam keterangan resmi Kementerian Luar Negeri China yang dirilis Senin (2/3/2026), Wang Yi menyampaikan bahwa China dan Rusia telah mendorong Dewan Keamanan PBB untuk menggelar pertemuan darurat guna membahas situasi Iran.
Wang mengatakan, serangan Amerika dan Israel terhadap Iran terjadi saat proses perundingan nuklir antara Teheran dan Washington masih berlangsung. Menurutnya, tindakan tersebut tidak dapat diterima.
“Pembunuhan secara terang-terangan terhadap pemimpin satu negara berdaulat serta dorongan terhadap perubahan rezim juga tidak dapat diterima,” kata Wang, menyinggung kematian Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan rudal Amerika pada Sabtu (28/2/2026).
Ia menegaskan, tindakan tersebut melanggar hukum internasional dan norma dasar hubungan antarnegara. Wang juga memperingatkan konflik kini meluas ke kawasan Teluk Persia sehingga berpotensi memperburuk situasi keamanan di Timur Tengah. China mendesak semua pihak segera menghentikan operasi militer.
Wang menekankan, tiga langkah penting untuk meredakan konflik. Pertama, semua pihak harus mencegah meluasnya perang dan menghindari situasi yang tidak terkendali, sekaligus menjaga stabilitas negara-negara di kawasan Teluk.
Kedua, pihak-pihak yang terlibat diminta segera kembali ke jalur dialog dan perundingan diplomatik. Ketiga, komunitas internasional harus menentang tindakan sepihak, terutama penggunaan kekuatan militer terhadap negara berdaulat tanpa otorisasi Dewan Keamanan PBB.
Baca juga : KPK Finalisasi Penghitungan Kerugian Negara Kasus Korupsi Bansos Beras
“Komunitas internasional harus menyampaikan sikap yang jelas dan tegas untuk menolak dunia kembali pada hukum rimba,” seru Wang.
Senada dengan China, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menilai, serangan Amerika dan Israel terhadap Iran telah merusak stabilitas kawasan Timur Tengah. Lavrov menyatakan Rusia memiliki posisi yang sejalan dengan China, yakni siap memperkuat koordinasi melalui berbagai forum internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Kerja Sama Shanghai. Menurutnya, kedua negara akan terus mendorong penghentian perang.
“Segera kembali ke proses perundingan diplomatik,” pinta Lavrov.
Adapun Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyatakan pihaknya tidak heran Amerika terlibat membantu Israel menyerang Iran. Menurut Pyongyang, tindakan tersebut mencerminkan sikap agresif Washington.
“Perang agresi oleh AS dan Israel tidak dapat diterima dalam keadaan apa pun,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Korea Utara seperti dikutip dari Kantor Berita Pusat Korea (KCNA).
Terpisah, Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Airlangga, Radityo Dharmaputra pesimistis Rusia, China, dan Korea Utara akan ikut campur secara langsung dalam perang antara Amerika-Israel dan Iran. “Tentu tidak mungkin (membantu Iran). Bagi China, tidak ada untungnya. Dia cukup mengecam dan diam saja. AS sudah memperburuk citranya sendiri,” ujar Radityo.
Terkait Rusia, ia menilai Moskow masih fokus pada perang di Ukraina. Selain itu, menurutnya, Iran juga disebut mulai meragukan komitmen Rusia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya