Dark/Light Mode

Indeks Anjlok Makin Dalam, Harga Minyak Mulai Terbang

Sabtu, 7 Maret 2026 08:29 WIB
Ilustrasi indeks harga saham anjlok dan harga minyak mentah melonjak. (Gambar dibuat dengan ChatGPT)
Ilustrasi indeks harga saham anjlok dan harga minyak mentah melonjak. (Gambar dibuat dengan ChatGPT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Memanasnya konflik di Timur Tengah terus memberi tekanan pada pasar global. Indeks harga saham di berbagai bursa dunia anjlok lebih dalam, sementara harga minyak mentah mulai “terbang”.

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut terseret sentimen negatif. Pada pembukaan perdagangan Jumat (6/3/2026), IHSG memerah 0,14 persen ke level 7.699,47. Di sore harinya, IHSG ditutup melemah ke posisi 7.585,69 atau turun 1,62 persen.

Pelemahan juga terjadi pada nilai tukar rupiah. Sejak dibuka, mata uang Garuda terus tertekan dari Rp 16.915 per dolar Amerika Serikat (AS) hingga ditutup di level Rp 16.925 per dolar AS.

Harga saham di negara-negara lain juga sama. Pada pembukaan perdagangan Jumat (6/3/2026), indeks saham Kospi Korea Selatan merosot 0,87 persen, indeks saham Nikkei 225 Jepang turun 0,24 persen, Indeks saham S&P/ASX 200 Australia turun 1,09 persen.

Baca juga : Ikhtiar Untuk Damaikan Perang, Presiden Prabowo Akan Ke Teheran

Sementara, di pasar komoditas, harga minyak dunia justru melonjak tajam. Berdasarkan data Investing.com, harga minyak mentah Brent tercatat naik ke level 84,9 dolar AS per barel. Angka ini melonjak tajam dibanding saat pertama kali perang Iran vs AS-Israel meletus pada Sabtu (28/2/2026), yaitu sebesar 72,8 dolar AS per barel.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak. Pada perdagangan Jumat (6/3/2026), menembus 80 dolar AS per barel, naik dari posisi 67,2 dolar AS per barel pada penutupan perdagangan Sabtu (28/2/2026).

Cadangan Devisa Turun

Melemahnya nilai tukar rupiah memberi tekanan terhadap cadangan devisa Indonesia. Posisi cadangan devisa pada Februari 2026 tercatat sebesar 151,9 miliar dolar AS, turun 2,7 miliar dolar AS dibandingkan Januari 2026 yang mencapai 154,6 miliar dolar AS.

Menyikapi hal ini, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto berusaha memenangkan publik. Dia memastikan, posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang aman.

Baca juga : Airlangga Bicara Manfaat MBG: Investasi 1 Dolar, Hasilnya 7 Dolar

“Cadangan devisa masih dalam jumlah yang lebih dari cukup untuk enam bulan ini,” kata Airlangga, di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, posisi cadangan devisa pada akhir Februari 2026 setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Angka ini masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang umumnya sekitar tiga bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujar Ramdan.

Ke depan, Bank Indonesia tetap optimistis ketahanan sektor eksternal Indonesia akan tetap terjaga. Hal ini didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta potensi aliran masuk modal asing seiring persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional.

Baca juga : Kirim Surat Lewat Menlu, Presiden Sampaikan Duka Cita Wafatnya Khamenei

“Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tuturnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.