Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Airlangga Bicara Manfaat MBG: Investasi 1 Dolar, Hasilnya 7 Dolar
Jumat, 6 Maret 2026 08:34 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto merespons laporan Fitch Ratings yang menganggap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi beban tersendiri bagi APBN. Airlangga memastikan, MBG sangat bermanfaat. Dalam setiap investasi 1 dolar AS bisa menghasilkan 7 dolar AS.
Dasar pernyataan Airlangga ini sangat kuat, yaitu penelitian yang dilakukan Bank Dunia dan Rockefeller Foundation. “Beberapa studi dari World Bank maupun Rockefeller Foundation, dengan pelaksanaan MBG yang masif dan baik, investasi 1 dolar itu menghasilkan 7 dolar," terang Airlangga, di kawasan Menara Batavia, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Anggaran MBG tahun ini memang sangat besar. Mencapai Rp 335 triliun. Airlangga menyatakan, Pemerintah melihat besarnya anggaran ini bukan sebagai beban, melainkan investasi jangka panjang untuk memperkuat kapasitas SDM.
"Jadi, ini adalah investasi dan banyak negara melakukan itu. Bahkan Amerika pun melakukan itu, sehingga ini adalah tantangan long term dan medium term yang tidak bisa kita menghilangkan long term hanya untuk short term," tegas Airlangga.
Sebelumnya, dalam laporan yang diterbitkan Fitch, defisit fiskal Indonesia tahun ini diperkirakan berada di kisaran 2,9 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Tekanan terhadap anggaran antara lain dipicu oleh peningkatan belanja Pemerintah, termasuk MBG yang diperkirakan mencapai sekitar 1,3 persen dari PDB.
Baca juga : Perang Membuat Ekonomi Global Terpuruk, Pemerintah Hadapi Ujian Berat
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya ikut menanggapi laporan Fitch ini. Ia memastikan, MBG sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas SDM.
"Bagaimana kita mau menghasilkan anak didik yang baik apabila mereka gizinya kurang. Jadi, ini (pemenuhan gizi) adalah yang paling mendasar, sebelum mereka berkembang. (Sebelum) diisi otaknya dengan ilmu pengetahuan, gizinya dulu harus bagus," ujarnya, di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Sony menerangkan, apabila para pelajar dalam kondisi kurang gizi, mereka kurang optimal atau kurang konsentrasi saat menerima pelajaran di sekolah. Ia menambahkan, Program MBG secara tidak langsung sudah membuat masyarakat untuk lebih peduli akan kesehatan dan gizi yang diperoleh dalam sebuah porsi makanan.
"Saya bandingkan dengan masa kecil saya, yang rata-rata kita tidak pernah berbicara makanannya apa, yang penting masuk ke dalam perut," ucapnya.
Kehadiran MBG juga telah mengubah mindset anak-anak dari Aceh sampai Papua, dari desa sampai di kota metropolitan. "Ini yang harus terus-menerus kita gelorakan, dengan mendukung program MBG ini. Karena perubahan mindset ini menjadi modal dasar bagi generasi kita kedepannya," sambungnya.
Baca juga : Peringatan BMKG, Musim Kemarau Datang Lebih Awal
Manfaat MBG juga disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti. Dia menerangkan, berdasarkan hasil penelitian kolaboratif Kemendikdasmen dengan LabSosio Universitas Indonesia, diketahui program MBG membantu siswa meningkatkan motivasi belajar, memberikan pengalaman menyenangkan baik dari produk maupun saat makan bersama.
"Juga memberikan kesempatan bagi siswa dari kelompok sosio-ekonomi rendah mendapatkan pangan yang bergizi," ungkap Mu'ti, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (5/3/2026)
Mu'ti menegaskan, program MBG merupakan bagian tak terpisahkan dari penguatan pendidikan karakter melalui program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH). Yang meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah ini menambahkan, secara nasional, capaian program MBG telah menjangkau 49,6 juta murid atau setara 93 persen dari total 53,4 juta di seluruh Indonesia.
Tim Peneliti Kluster Kesejahteraan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) telah melakukan kajian tentang MBG. Penelitian tersebut dipimpin Prof Fentiny Nugroho, dengan anggota Annisah, Anna Sakreti Nawangsari, Arif Wibowo, dan Shinta Tris Irawati.
Baca juga : Prabowo Jelaskan Alasan Masuk BoP
Dari hasil penelitian, Prof Fentiny memaparkan, MBG berdampak pada perekonomian bagi tenaga kerja dan relawan. Contohnya, relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengalami kenaikan penghasilan yang signifikan.
“Mereka yang sebelumnya tidak bekerja atau memiliki pekerjaan serabutan, kini memiliki penghasilan tetap sekitar Rp 120 ribu-Rp 125 ribu per hari,” kata Fentiny, Kamis (5/3/2026).
Bahkan, untuk Kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan, mereka mendapatkan gaji sekitar Rp 5 juta hingga Rp 5,5 juta dan dijanjikan menjadi ASN. MBG juga dapat berdampak bagi pengurangan pengeluaran keluarga penerima manfaat.
Penelitian kualitatif tersebut mengungkap, keluarga rentan dan miskin merasa terbantu karena beban biaya makan anak-anak mereka kini ditanggung Program MBG. "Mereka senang karena nggak perlu mengeluarkan uang untuk makan anak-anaknya," kata Fentiny.
Tak hanya itu, program MBG juga mampu meningkatkan omzet UMKM. UMKM lokal yang terlibat sebagai produsen atau distributor mengalami kenaikan pendapatan Rp 1 juta-Rp 2 juta, baik per pesanan maupun per bulan. MEN/BYU
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya