Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Fundamental Kinerja Dalam Posisi Solid
Perbankan Lebih Siap Hadapi Gejolak Global
Rabu, 11 Maret 2026 06:35 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Fundamental industri perbankan Indonesia dalam posisi solid di tengah tekanan ekonomi global akibat ketegangan politik di Timur Tengah (Timteng). Meski begitu, perbankan diingatkan tetap harus memperkuat berbagai langkah mitigasi risiko guna menjaga stabilitas sektor keuangan.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional di Indonesia (Perbanas), sekaligus Direktur Utama BRI Hery Gunardi memberikan kabar menggembirakan mengenai kinerja perbankan.
“Fundamental industri perbankan nasional hingga awal 2026 masih berada pada level yang solid,” kata Hery dalam siaran pers, Sabtu (7/3/2026).
Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit per Januari 2026 yang mencapai 9,96 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan posisi 2025 yang berada di kisaran 9,63 persen yoy.
Baca juga : Industri TPT Siap Penuhi Kebutuhan Masyarakat
Pada saat yang sama, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 10,8 persen yoy. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) juga masih terjaga di kisaran 2,14 persen.
Sementara, ketahanan permodalan industri perbankan pun tetap kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sekitar 25,9 persen.
“Beberapa indikator profitabilitas menghadapi tekanan moderat, seiring meningkatnya biaya operasional,” ujarnya.
Meski begitu, perbankan tetap perlu waspada. Walaupun outlook industri perbankan secara umum cukup baik, tapi harus tetap antisipatif terhadap berbagai potensi risiko ke depan.
Baca juga : Audit Total Operasional TPST Di Bantargebang
Menurut Hery, ketegangan geopolitik global yang berkepanjangan berpotensi mendorong inflasi energi dan harga pangan, menekan daya beli masyarakat, serta memperlambat aktivitas ekonomi.
Di saat yang sama, ketidakpastian ekonomi juga menekan kinerja sektor usaha, sehingga berpotensi meningkatkan risiko NPL.
“Yang pada akhirnya menuntut perbankan untuk lebih selektif dalam penyaluran kredit, serta memperkuat pengelolaan risiko dan kualitas aset,” ujarnya.
Hery mengatakan, industri perbankan perlu memperkuat berbagai langkah mitigasi risiko guna menjaga stabilitas sektor keuangan.
Baca juga : Real Madrid Vs Manchester City, Hafal Luar Dalam
Beberapa protokol mitigasi spesifik harus dipersiapkan oleh perbankan. Pertama, penguatan manajemen risiko dengan melakukan stress test sektoral pada portofolio di sektor transportasi, logistik, dan manufaktur yang sangat bergantung pada BBM (Bahan Bakar Minyak).
Lalu, melakukan early warning system terhadap potensi pem burukan NPL, serta pengetatan disiplin kredit dan riskbased pricing.
Kedua, perbankan perlu memastikan ketersediaan likuiditas yang memadai untuk menghadapi potensi volatilitas arus dana, dengan memperkuat Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR).
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya