Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Fundamental Kinerja Dalam Posisi Solid
Perbankan Lebih Siap Hadapi Gejolak Global
Rabu, 11 Maret 2026 06:35 WIB
Sebelumnya
“Tidak ada pilihan lain, perbankan harus memiliki bantalan arus kas yang cukup,” tegasnya.
Ketiga, imbuh Hery, perbankan nasional harus mengelola risiko nilai tukar dan likuiditas valuta asing dengan menjaga Posisi Devisa Netto (PDN) tetap konservatif, memperkuat strategi lindung nilai (hedging) untuk eksposur valuta asing (valas), serta mengelola maturity mismatch valuta asing.
Menurut mantan Wakil Direktur Utama Bank Mandiri ini, langkah tersebut menjadi penting untuk memastikan ketersediaan likuiditas valuta asing bagi sektor-sektor strategis. Termasuk eksportir dan importir, guna menjaga kelancaran aktivitas perdagangan nasional.
Senada, Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan dan Pengendalian Kualitas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Deden Firman Hendarsyah menuturkan, kondisi perbankan nasional dinilai masih cukup resilien, terutama dari sisi indikator permodalan.
Baca juga : Industri TPT Siap Penuhi Kebutuhan Masyarakat
Ditambah lagi industri perbankan memiliki bantalan permodalan yang kuat, untuk menghadapi dinamika global.
“Demikian pula dari sisi likuiditas, kondisinya masih ample dan seluruh indikator utama berada di atas threshold minimal yang ditetapkan regulator,” pungkasnya.
Terpisah, Kepala Ekonomi PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan, saat ini, fundamental perbankan Indonesia relatif lebih siap menghadapi gejolak global dibandingkan periode sebelumnya.
“Hal ini didukung oleh pengawasan yang lebih ketat, permodalan yang solid, cadangan likuiditas yang disiplin, serta basis pendanaan yang didominasi dana domestik,” kata Josua kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Baca juga : Audit Total Operasional TPST Di Bantargebang
Meski begitu, kata Josua, ketahanan ini sangat bergantung pada durasi konfl ik. Jika konflik mereda dengan cepat, tekanan biasanya terkonsentrasi pada volatilitas pasar dan bersifat sementara.
Sebaliknya, jika eskalasi berlarut-larut dan pasar terus memasang premi risiko energi, bank akan menghadapi kombinasi tantangan.
“Mulai dari biaya dana yang sulit turun, permintaan kredit yang melemah, dan kebutuhan pencadangan yang lebih berhati-hati,” ujarnya.
Dalam tensi global yang tidak pasti ini, sambung Josua, perbankan cenderung lebih konservatif dalam ekspansi. Terutama pada kredit baru berjangka panjang dan pembiayaan investasi.
Baca juga : Real Madrid Vs Manchester City, Hafal Luar Dalam
Diakuinya, situasi seperti ini memang cenderung membuat perbankan lebih konservatif dalam ekspansi, terutama pada kredit baru berjangka panjang.
“Prioritas utama mereka saat ini adalah kualitas debitur, ketahanan arus kas, serta kecukupan agunan,” katanya. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya