Dark/Light Mode

Sinergi PPLI-LAZNAS Al-Azhar: Jadikan Ramadan Ajang Edukasi Hemat Air

Kamis, 12 Maret 2026 20:11 WIB
Acara Ngopling (Ngobrol Peduli Lingkungan) bersama Aliansi Jurnalis Peduli Lingkungan di Jakarta, Rabu (11/3/2026). Foto: Boy Sakti/RM
Acara Ngopling (Ngobrol Peduli Lingkungan) bersama Aliansi Jurnalis Peduli Lingkungan di Jakarta, Rabu (11/3/2026). Foto: Boy Sakti/RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Bulan suci Ramadan yang seharusnya menjadi momentum menanamkan nilai kesederhanaan, justru kerap diwarnai lonjakan penggunaan air rumah tangga. Fenomena ini menjadi perhatian PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) yang selama ini fokus pada pengelolaan lingkungan dan daur ulang limbah.

Laboratorium Manager PPLI, Muhamad Yusuf Firdaus, menyoroti kebiasaan masyarakat yang masih memilih deterjen dengan busa melimpah. Menurutnya, busa yang menumpuk di aliran sungai dapat menghambat masuknya sinar matahari dan oksigen ke dalam air.

“Untuk mencuci, kadang ibu-ibu suka deterjen yang busanya melimpah. Padahal busa ini bisa jadi masalah. Kalau menumpuk di sungai, sinar matahari tidak bisa masuk. Oksigen juga terhambat sehingga biota air terganggu dan lama-lama bisa mati, bahkan menyebabkan pendangkalan,” ujar Yusuf dalam acara “Ngopling” (Ngobrol Peduli Lingkungan) bersama Aliansi Jurnalis Peduli Lingkungan di Jakarta, Selasa (11/3/2026).

Yusuf juga menyinggung perilaku sebagian umat saat berwudhu yang kerap boros air. “Wudhu juga jadi persoalan. Kadang saat wudhu kran dibuka maksimal. Padahal ini wudhu, bukan mandi,” katanya.

Karena itu, Yusuf berharap semangat menjaga kelestarian lingkungan, termasuk penghematan air, dapat disisipkan dalam forum keagamaan seperti pengajian.

Baca juga : Mie Kremezz Gelar Roadshow Ramadan Ajak Anak-anak Semangat Tarawih

“Menjaga kualitas air bisa menjadi ladang pahala, karena air adalah sumber kehidupan,” tambahnya.

Senada dengan itu, Supervisor Environmental Database and Program PPLI, Irfan Maulana, memaparkan data yang cukup mengejutkan. Menurutnya, rata-rata penggunaan air untuk sekali wudhu per orang mencapai 2,9 hingga 5 liter.

Padahal, secara sunnah, wudhu hanya membutuhkan sekitar 0,5 hingga 0,7 liter air atau setara satu botol air minum kemasan. “Prinsip penghematan ini yang terus kami kampanyekan, termasuk di lingkungan industri,” kata Irfan.

Irfan menjelaskan, sebagai bentuk komitmen terhadap pengelolaan lingkungan, sejak 2025 PPLI yang tergabung dalam jaringan Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) telah mengelola sekitar 225 ribu meter kubik limbah dari para pelanggannya.

Pengolahan limbah tersebut dilakukan melalui tiga metode, yakni physical chemical treatment (kimia dan fisika), evaporator untuk memekatkan air dan mengurangi total dissolved solids, serta metode biologis menggunakan bakteri aktif guna menurunkan kadar pencemar.

Baca juga : LinkAja Gandeng BAZNAS Salurkan Bantuan Ramadan Bagi Korban Bencana Aceh

Air hasil pengolahan itu pun tidak langsung dibuang, melainkan dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan operasional perusahaan.

“Sebagian air digunakan lagi untuk proses di PPLI, seperti mencuci kendaraan pengangkut atau membersihkan kemasan. Dalam tiga tahun terakhir saja, kami sudah bisa memanfaatkan sekitar 99 ribu meter kubik air yang seharusnya dibuang,” ungkap Irfan.

Sementara itu, Direktur LAZNAS Al-Azhar, Iwan Rahman, menilai persoalan boros air di Indonesia juga dipengaruhi faktor budaya dan ketersediaan sumber daya air yang melimpah. Dia mencontohkan, banyak jemaah yang mampu berhemat air saat menjalankan ibadah umrah di Timur Tengah, namun kembali boros ketika berada di Tanah Air.

“Sebagai negara yang air tanahnya melimpah, kita tidak pernah merasakan panasnya gurun. Akibatnya, mengonsumsi air dalam jumlah besar seolah menjadi hal yang biasa,” ujar Iwan.

Selain itu, menurutnya desain kran di banyak masjid juga mengeluarkan debit air terlalu besar sehingga memicu pemborosan. Karena itu, Iwan mendorong penerapan konsep Reduce, Reuse, Recycle (3R) berbasis masjid atau klaster pemukiman.

Baca juga : Dubes Kwok Fook Seng Berbagi Kehangatan Ramadan Bareng Anak Yatim

Dia mencontohkan program pemberdayaan yang dijalankan LAZNAS Al-Azhar di Muara Enim, Sumatera Selatan.

“Di sana kami menerapkan konsep 3R. Ketika turbin berfungsi, listrik yang dihasilkan bisa menerangi masjid dan sekitar 200 rumah. Airnya juga tidak dibuang, tetapi dimanfaatkan untuk perkebunan dan sawah,” jelasnya.

Menutup diskusi, para narasumber sepakat bahwa edukasi lingkungan harus terus disisipkan dalam berbagai aktivitas, termasuk kegiatan keagamaan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.