Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Haedar Nashir Ajak Umat Jadikan Ramadan sebagai Kanopi Sosial
Selasa, 17 Februari 2026 15:56 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir mengajak umat Islam menjadikan Ramadan 1447 Hijriah sebagai “kanopi sosial”. Yakni ruang untuk memperkuat ketakwaan sekaligus mempererat relasi sosial di tengah perbedaan.
Umat Islam di berbagai negara, termasuk Indonesia, akan memulai puasa Ramadan dengan kemungkinan perbedaan penetapan awal bulan. Menurut Haedar, perbedaan tersebut merupakan hal yang lazim terjadi selama belum ada kalender Islam tunggal.
“Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,” kata Haedar, Selasa (17/2/2026).
Ia menegaskan, perbedaan harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Fokus utama puasa, menurutnya, adalah meningkatkan takwa, baik secara pribadi maupun kolektif.
Baca juga : Harga Pangan Jelang Ramadan Stabil, PAPERA: Sinyal Baik Bagi Ekonomi Rakyat
“Jadi fokuskan pada hal substantif bagaimana puasa bagi setiap muslim benar-benar menggapai ketakwaan dalam wujud menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta menghadirkan kebaikan hidup yang utama,” ujarnya.
Melalui peningkatan takwa kepada Allah SWT, Haedar berharap hubungan sosial kemasyarakatan semakin harmonis serta mampu menebarkan kebaikan bagi sesama dan lingkungan. Ia berpesan agar Ramadan dijalankan dengan tenang, damai, dan penuh kematangan, tanpa terganggu hiruk pikuk perbedaan awal puasa.
“Dalam konteks yang lebih luas, Ramadan diharapkan kita menjadi umat terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menebar segala kebaikan yang makin luas,” pesannya.
Perbaikan Akhlak Pribadi dan Publik
Haedar menekankan, puasa Ramadan harus menjadi wahana perbaikan akhlak, baik dalam kehidupan pribadi maupun publik. Jika umat Islam tidak mengalami peningkatan kualitas menjadi umat terbaik, maka kejayaan dan martabat sulit diraih.
Baca juga : Nutella Ajak Keluarga Indonesia Rayakan Ramadan Bersama
Umat Islam juga diingatkan tidak bersikap fatalistis, terutama dalam bidang ekonomi yang masih membutuhkan kerja keras dan kesungguhan.
“Meraih kualitas hidup umat Islam terutama di bidang ekonomi sungguh memerlukan kesungguhan. Puasa justru melatih kita untuk hidup efisien, prihatin, hemat, dan itu menjadi pangkal kita maju di bidang ekonomi,” tuturnya.
Puasa sebagai Kanopi Sosial
Dalam konteks sosial yang lebih luas, Haedar menyebut puasa sebagai perekat sosial. “Puasa itu melatih kita untuk tahan diri, hatta di saat ada pihak yang mengajak kita berkonflik atau bertengkar,” ungkapnya.
Ia mengingatkan, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Tetapi juga menahan nafsu yang merusak kerekatan sosial, termasuk di era media sosial yang kerap memancing amarah dan perselisihan.
Baca juga : Program MBG Tetap Berjalan Selama Ramadan, Paket Makanan Dibawa Pulang Siswa
“Dengan berbagai macam informasi dan postingan yang memberi suasana panas dalam kehidupan sosial kebangsaan kita, maka puasa harus menjadi kanopi sosial kita,” tegasnya.
Menurut Haedar, Muslim yang menjalankan puasa harus mampu menempatkan diri sebagai agen perdamaian dan teladan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Takwa itu puncaknya adalah perbaikan martabat hidup tertinggi. Maka umat Islam harus menjadi umat yang maju dalam berbagai kehidupan, baik spiritual, moral, sosial, ekonomi, politik, dan berbagai aspek lain menuju peradaban utama,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya