Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Harga LLDPE Melonjak 100 Persen, Ketahanan Air Masyarakat Terancam
Selasa, 31 Maret 2026 10:57 WIB
RM.id Rakyat Merdeka -
Oleh: Gomas Harun
Ketua Umum Ikatan Pengusaha Bahan Bangunan Indonesia & Ketua Asosiasi Produsen Tangki Indonesia
Lonjakan harga Linear Low-Density Polyethylene (LLDPE) dalam beberapa pekan terakhir seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah. Data terkini menunjukkan harga LLDPE telah meningkat lebih dari 50 persen, bahkan pada beberapa grade rotomoulding mencapai kenaikan hampir 100 persen dibandingkan awal tahun 2026. Dampaknya tidak berhenti pada industri, tetapi langsung mengancam ketahanan air masyarakat, terutama di wilayah dengan layanan air perpipaan terbatas.
Kenaikan tajam ini mendorong biaya produksi tangki air berbasis rotomoulding melonjak signifikan. Semua tangki air berbahan plastik saat ini sudah wajib memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Artinya, produsen tidak bisa menurunkan kualitas untuk menekan harga, sehingga lonjakan biaya LLDPE langsung diteruskan ke harga jual konsumen.
Baca juga : Bantuan Pangan Digeber, Daya Beli Rakyat Dijaga
Produk yang selama ini menjadi tulang punggung penyimpanan air rumah tangga kini terancam semakin mahal dan sulit dijangkau. Dalam kondisi seperti ini, pasar tidak lagi sekadar berbicara soal permintaan dan penawaran, tetapi soal akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar.
Ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku petrokimia, khususnya untuk LLDPE grade rotomoulding, sudah lama diketahui sebagai titik lemah struktural. Namun, langkah konkret untuk memperkuat pasokan domestik masih minim, sehingga risiko ini terus berulang tanpa solusi jangka panjang.
Tidak terlihat kebijakan cepat untuk menahan gejolak, baik melalui pengamanan pasokan, insentif bagi industri terdampak, maupun intervensi harga dari pemerintah untuk produk-produk yang berkaitan langsung dengan kebutuhan publik. Bahkan koordinasi lintas sektor yang seharusnya menjadi kunci dalam menghadapi situasi seperti ini tampak lambat dan tidak terarah.
Baca juga : Penerbangan Melonjak, AirNav Indonesia Perkuat Kesiapan Operasional Lebaran
Situasi ini semakin mengkhawatirkan jika dilihat dari perspektif ketahanan air nasional. Di banyak wilayah Indonesia, tangki air bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan mutlak. Ketika harga tangki air naik akibat tekanan bahan baku, yang terdampak bukan hanya industri, tetapi jutaan rumah tangga yang bergantung pada solusi ini untuk memenuhi kebutuhan harian.
Kegagalan memahami keterkaitan antara sektor industri hulu dan kebutuhan dasar masyarakat menunjukkan adanya celah serius dalam perumusan kebijakan. Pemerintah tidak bisa terus memandang isu bahan baku sebagai persoalan teknis semata, sementara dampaknya sudah nyata menyentuh aspek kehidupan publik yang paling fundamental.
Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa langkah cepat dan terukur, kenaikan harga LLDPE yang sudah ekstrem ini hanya akan menjadi awal dari tekanan lebih luas: inflasi produk kebutuhan dasar, penurunan daya beli, hingga terganggunya akses air bersih di tingkat rumah tangga. Pada titik itu, yang dipertaruhkan bukan lagi stabilitas industri, melainkan kredibilitas negara dalam menjamin kebutuhan dasar warganya.
Baca juga : Harga Minyak Naik, Purbaya: APBN 2026 Masih Aman
Sudah saatnya Pemerintah bergerak lebih dari sekadar respons jangka pendek. Tanpa keberanian mengambil langkah strategis, dimulai dengan mempercepat penguatan industri petrokimia domestik hingga memastikan perlindungan sektor vital, maka krisis serupa akan terus berulang dengan dampak yang semakin besar setiap waktunya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya