Dark/Light Mode

Jaga Pasokan Energi, Pengamat Minta KKKS Optimalkan Produksi Untuk Dalam Negeri

Selasa, 7 April 2026 17:59 WIB
Ilustrasi warga sedang mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU Jakarta. (Foto: RM.ID/Khairizal Anwar)
Ilustrasi warga sedang mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU Jakarta. (Foto: RM.ID/Khairizal Anwar)

RM.id  Rakyat Merdeka - Upaya memperkuat pasokan energi dalam negeri dinilai perlu terus didorong di tengah dinamika global. Salah satu langkah yang bisa ditempuh adalah mengoptimalkan produksi minyak, termasuk yang berasal dari luar negeri.

Pengamat energi dari Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menyarankan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) asal Indonesia memanfaatkan produksi yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan domestik. Minyak tersebut dapat dibawa pulang dan diolah di kilang dalam negeri dengan skema harga publish rate.

“Saya sepakat perusahaan migas Indonesia membawa pulang minyak dari luar negeri. Dari sisi bisnis mungkin ada selisih, tapi yang utama kebutuhan dalam negeri terpenuhi,” kata Komaidi di Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Menurutnya, dalam situasi saat ini, prioritas utama adalah memastikan ketersediaan energi bagi masyarakat. Ia mencontohkan kondisi di sejumlah negara yang mulai mengalami keterbatasan pasokan energi hingga berdampak pada aktivitas masyarakat.

Baca juga : Kenaikan Harga BBM Tak Bisa Dihindari

Langkah membawa pulang minyak dari luar negeri sebelumnya telah dilakukan Pertamina pada Januari 2026. Saat itu, perusahaan membawa sekitar 1 juta barel minyak mentah dari Aljazair yang berasal dari Wilayah Kerja Blok 405A yang dikelola anak usahanya di sektor hulu.

Komaidi berharap langkah serupa dapat kembali dilakukan, tidak hanya oleh Pertamina tetapi juga perusahaan migas nasional lainnya seperti Medco. Selain itu, ia juga mendorong agar minyak mentah dari KKKS swasta yang beroperasi di Indonesia dapat disalurkan ke kilang dalam negeri.

Di tengah harga minyak dunia yang tinggi, nilai tukar rupiah yang melemah, serta keterbatasan pasokan global, menurutnya semua opsi perlu ditempuh. Termasuk memaksimalkan produksi yang dimiliki perusahaan Indonesia di luar negeri.

“Dalam kondisi seperti ini, kepentingan nasional harus diutamakan. Yang penting pasokan dalam negeri aman terlebih dahulu,” tegasnya.

Baca juga : Lawan Persija, Bhayangkara Minus 2 Pemain Asing Andalan

Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) Elan Biantoro. Ia mendukung langkah optimalisasi produksi, termasuk membawa pulang minyak dari luar negeri untuk menjaga keseimbangan pasokan.

“Memang itu perlu dilakukan agar dalam negeri tidak defisit,” ujar Elan.

Menurutnya, situasi geopolitik global yang belum stabil menuntut berbagai pihak untuk mengambil langkah antisipatif. Ia menilai kebutuhan energi, terutama untuk sektor industri, tidak bisa ditunda.

“Kalau masyarakat bisa diimbau berhemat, tapi industri tetap butuh energi untuk bergerak,” katanya.

Baca juga : Dukung Ketahanan Energi,Indonesia Minta Jepang Percepat Pengembangan Blok Masela

Elan juga menekankan bahwa dalam kondisi saat ini, aspek ketersediaan pasokan harus menjadi prioritas utama. Soal harga, menurutnya, bisa dibahas kemudian.

“Yang penting barangnya ada dulu. Kalau suplai aman, ekonomi bisa tetap berjalan,” ucapnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.