Dark/Light Mode

Kondisi Geopolitik dan Pasokan Energi Dunia

Kenaikan Harga BBM Tak Bisa Dihindari

Selasa, 7 April 2026 06:35 WIB
Grafis: Nusa Noferi Anjala/Rakyat Merdeka/RM.id
Grafis: Nusa Noferi Anjala/Rakyat Merdeka/RM.id

RM.id  Rakyat Merdeka - Dunia kini berada di ambang krisis energi terbesar sejak era 1970-an, setelah eskalasi konflik di Timur Tengah yang mencakup penutupan Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak mentah hingga 115 dolar Amerika Serikat (AS) per barel. Fakta ini tidak hanya mengganggu jalur pasokan energi global, tetapi juga memicu gelombang inflasi yang memaksa negara-negara merombak total kebijakan subsidi dalam anggaran domestik mereka.

Hingga awal April 2026, lebih dari 100 negara telah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) di ritel sebagai bentuk respons atas guncangan ekonomi global tersebut. Filipina bahkan mengalami kenaikan harga bensin tertinggi, melonjak hingga lebih dari 54 persen sebelum konflik pecah. Kamboja dan Myanmar mencatatkan kenaikan harga bensin masing-masing 52,8 persen dan 55,4 persen. Sementara Singapura dan Malaysia masing-masing membukukan kenaikan sebesar 28,7 dan 20,5 persen. 

Grafis Data Kenaikan BBM di Asia Tenggara. (Grafis: Nusa Noferi Anjala/RM.id)

Selain itu, sebanyak 32 negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) juga telah sepakat melepas cadangan minyak darurat secara terkoordinasi, demi meredam lonjakan harga akibat konflik di Timur Tengah. 

Baca juga : Saatnya Indonesia Jadi Pusat Industri Halal Dunia

Pemimpin negara-negara dunia terus berusaha menempuh jalur diplomasi, untuk membuka kembali Selat Hormuz. 

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, memanasnya geopolitik global dan terganggunya Selat Hormuz memang sangat mudah mendorong lonjakan harga minyak dunia. Mengingat perairan tersebut merupakan titik yang sangat penting bagi aliran minyak dunia. Sekitar 20-30 persen pasokan minyak global, terdistribusi melalui selat yang menghubungkan Teluk Persia di sisi barat dengan Teluk Oman dan Laut Arab (bagian dari Samudra Hindia) di sisi tenggara. 

Selat Hormuz merupakan satu-satunya jalur laut yang menghubungkan produsen minyak besar di Teluk Persia (seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Qatar) dengan perairan terbuka menuju pasar global, terutama ke arah Asia. 

Baca juga : Warga Ngeluh, Sampah Numpuk Pasca Lebaran

“Gangguan di Selat Hormuz dapat membawa harga minyak ke kisaran di atas 100 sampai 130 dolar AS per barel. Bahkan, bisa lebih tinggi bila konflik melebar,” beber Josua, kepada Rakyat Merdeka, Senin (6/4/2026). 

Menurutnya, Asia adalah kawasan yang paling rentan karena sangat bergantung pada energi impor. Sehingga, konflik berkepanjangan dapat menekan pertumbuhan dan mendorong inflasi lebih tinggi. 

“Bagi Indonesia, dampak utamanya bukan karena besarnya hubungan dagang langsung dengan negara Teluk. Tetapi, lebih karena rambatan harga energi dunia, biaya logistik dan asuransi, tekanan pada nilai tukar, naiknya biaya impor migas, dan memburuknya sentimen pasar keuangan,” jelas Josua. 

Baca juga : Real Madrid Vs Bayern Munchen, Mimpi Buruk Die Roten

“Itu sebabnya, dalam bahan APBN Kita, harga Brent sempat menembus 108 dolar AS per barel, Meskipun laporan pasar awal April menunjukkan harga sempat turun ke bawah 105 dolar AS, tekanannya belum benar-benar hilang karena arus pelayaran dan pasokan energi belum kembali normal,” imbuhnya. 

Kenaikan Harga BBM 

Pemerintah telah memastikan tidak ada kenaikan harga BBM subsidi (Pertalite dan Solar) per 1 April 2026, demi menjaga daya beli masyarakat. Soal ini, Josua berpendapat, kenaikan harga BBM dalam negeri belum otomatis tidak terelakkan. 

“Kemungkinannya jelas membesar, jika harga minyak bertahan tinggi cukup lama dan rupiah terus melemah,” ujar Josua. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.