Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Krisis Harga Minyak Jadi Peluang, Sektor SDA Bisa Jadi Penopang Ekonomi
Kamis, 9 April 2026 22:34 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ekonom senior Indef Didik J Rachbini menilai krisis harga minyak global di tengah konflik geopolitik justru dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat sektor berbasis sumber daya alam (SDA) sebagai “natural hedge” atau bantalan ekonomi.
Menurut Rektor Universitas Paramadina ini, gejolak harga minyak dunia bukanlah hal baru. Indonesia telah beberapa kali menghadapi situasi serupa sejak era Soeharto hingga pemerintahan Joko Widodo. Oleh karena itu, diperlukan perspektif yang lebih adaptif untuk melihat krisis sebagai peluang.
“Di balik tekanan krisis harga minyak, terdapat sektor-sektor yang justru mampu bertahan bahkan menjadi pemenang,” ujar Didik dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).
Ia menjelaskan, lonjakan harga minyak berpotensi menekan ekonomi nasional melalui kenaikan biaya energi, beban subsidi, hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Namun, di sisi lain, sektor berbasis SDA seperti batubara, minyak dan gas, panas bumi, serta komoditas logam dan perkebunan justru diuntungkan.
Baca juga : Prabowo: Krisis Dunia Jadi Peluang RI Percepat Pengembangan Energi Terbarukan
Sektor-sektor tersebut dinilai memiliki keunggulan karena sebagian besar biaya produksinya berbasis domestik dalam rupiah, sementara pendapatannya berasal dari ekspor dalam mata uang asing seperti dolar AS, yen, atau yuan. Kondisi ini membuat sektor tersebut mendapat keuntungan tambahan saat terjadi depresiasi rupiah.
Didik menyebutkan sejumlah sektor yang berpotensi menjadi “winner” dalam situasi krisis harga minyak, antara lain pertambangan batubara sebagai substitusi energi, minyak dan gas serta panas bumi, hingga komoditas logam seperti nikel, timah, dan bauksit yang dibutuhkan industri global.
Selain itu, sektor perkebunan seperti crude palm oil (CPO), karet, kakao, dan kopi juga dinilai strategis karena berorientasi ekspor dan dapat menjadi alternatif energi melalui pengembangan biofuel.
“Semua ini merupakan bentuk natural hedge yang dapat menjadi bantalan ekonomi Indonesia di tengah gejolak global,” katanya.
Baca juga : Robert J. Kardinal: Sektor Swasta Penggerak Roda Perekonomian Nasional
Ia menekankan pentingnya kebijakan pemerintah untuk mengoptimalkan momentum tersebut, agar tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga mendorong transformasi ekonomi jangka panjang.
Didik merekomendasikan penerapan strategi fiskal adaptif, termasuk optimalisasi penerimaan negara dari lonjakan keuntungan (windfall profit) sektor SDA. Penerimaan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mengurangi dampak krisis.
Lebih lanjut, ia mendorong percepatan hilirisasi industri berbasis SDA, seperti nikel, bauksit, hingga produk perkebunan, guna meningkatkan nilai tambah dan memperkuat daya saing ekspor.
Menurutnya, momentum krisis juga dapat dimanfaatkan untuk mendanai transisi energi menuju ekonomi rendah karbon, termasuk pengembangan industri hijau dan energi terbarukan.
Baca juga : Kariernya Di MotoGP Meredup, Marquez Disuruh Pensiun Dini
“Krisis ini seharusnya menjadi peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 6–7 persen melalui industrialisasi berbasis sumber daya alam dan hilirisasi,” ujarnya.
Didik menegaskan, dengan kebijakan yang tepat, krisis harga minyak tidak hanya menjadi beban, tetapi juga dapat menjadi momentum konsolidasi fiskal, efisiensi energi, serta percepatan transformasi ekonomi nasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya