Dark/Light Mode

BBM Indonesia Lebih Murah Dibanding Negara Lain

Harga Bensin Rakyat Aman, Yang Naik Bensin Orang Kaya

Senin, 20 April 2026 06:35 WIB
Harga Pertalite dan Pertamax tidak berubah dalam penyesuaian harga BBM Pertamina pada Sabtu (18/4/2026). (Foto: Khairizal Anwar/rm.id)
Harga Pertalite dan Pertamax tidak berubah dalam penyesuaian harga BBM Pertamina pada Sabtu (18/4/2026). (Foto: Khairizal Anwar/rm.id)

 Sebelumnya 
 

Tak Naik Signifikan 

Dilihat dari tren historis dalam enam bulan terakhir, Pertamina tidak menaikkan harga BBM nonsubsidi secara signifikan. Pertamina masih menjaga stabilitas harga Pertamax, yang secara pangsa pasar lebih besar dari Pertamax Turbo. Sehingga, daya beli masyarakat diharapkan dapat tetap terjaga. Selain itu, harga BBM Pertamina juga lebih kompetitif dibanding harga BBM swasta, untuk spek yang sama (lihat gambar bawah).

Tabel Harga BBM. Grafis: Nusa Noferi Anjala/rm.id

Murah Dibanding Negara Lain 

Hingga awal April 2026, lebih dari 100 negara telah menaikkan harga BBM ritel sebagai bentuk respons atas guncangan ekonomi global akibat konflik terbaru Timur Tengah, yang meletus pada 28 Februari 2026. Mengutip data Seasia Stats per 30 Maret 2026, kenaikan tertinggi harga BBM di Asia Tenggara dibukukan oleh Myanmar (55,4 persen). Disusul Filipina (54,2 persen), Kamboja (52,8 persen), Vietnam (31,8 persen), Malaysia (28,7 persen), Singapura (20,5 persen), dan Thailand (8,7 persen). Saat itu, harga BBM Indonesia masih belum berubah, kenaikannya nol persen. 

Sementara data Global Petrol Prices per April 2026 menyebutkan, harga BBM Indonesia untuk jenis Oktan 95, Diesel, dan Oktan 98 berada di bawah rata-rata global. 

Untuk jenis Oktan 95, harga tertinggi dibukukan oleh Hongkong dengan angka Rp 70.765 dengan rata-rata global Rp 25.666. Diikuti Singapura dengan harga Rp 42.304, jauh lebih mahal dibanding tetangganya di Asia Tenggara. Sementara China (Rp 23.990), Filipina (Rp 27.768), dan Thailand (Rp 26.966) sedikit melampaui ratarata global. Jepang (Rp 18.040) dan Malaysia (18.361) sedikit di bawah rata-rata global. Sedangkan Arab Saudi (Rp 10.625) dan Indonesia (Rp 12.900) jauh di bawah rata-rata global. 

Baca juga : Penumpang KRL Berjubel, Sama Seperti Hari Biasa

Untuk jenis Diesel, harga tertinggi juga dicatatkan oleh Hongkong dengan angka Rp 77.712 dengan rata-rata global Rp 27.459. Peringkat dua tertinggi ditempati Singapura dengan harga Rp 65.884. Malaysia yang merupakan negara terdekat dengan Indonesia, melampaui rata-rata global dengan angka Rp 28.953. Sementara Vietnam (Rp 21.623) dan Thailand (Rp 23.041) sedikit di bawah ratarata global. Sedangkan Arab Saudi (Rp 8.162), Indonesia (Rp 23.900), dan Jepang (Rp 16.876) jauh di bawah rata-rata global. 

Untuk jenis Oktan 98, Singapura (Rp 68.400) dan Hongkong (Rp 68.217) mencatatkan harga yang jauh melampaui dua kali lipat rata-rata global (Rp 29.200). Thailand (Rp 34.845) berada di atas rata-rata global. China (Rp 24.600) dan Jepang (Rp 21.100) sedikit di bawah rata-rata global. Sedangkan Arab Saudi (Rp 17.458), Vietnam (Rp 18.200), dan Indonesia (Rp 19.400) berada di bawah ratarata global. 

Daya Beli Masyarakat Tak Terganggu 

Pengamat Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai kebijakan pemerintah dalam mengelola harga BBM di tengah gejolak global saat ini, berada di jalur yang tepat. Kenaikan harga BBM nonsubsidi merupakan langkah realistis untuk mengurangi beban keuangan negara. 

“Sebenarnya, harga BBM itu mengikuti harga pasar. Kalau terlalu lama ditahan, beban kompensasi pemerintah akan besar karena harus menutup selisih harga,” kata Fahmy, kepada Rakyat Merdeka, Minggu (19/4/2026). 

“Jika harga tidak disesuaikan sejak awal, beban subsidi dan kompensasi kepada Pertamina bisa semakin membengkak. Kondisi itu berpotensi menekan APBN,” imbuhnya. 

Baca juga : MU Bungkam London Biru

Menurut Fahmy, konsumen BBM nonsubsidi umumnya sudah terbiasa dengan fluktuasi harga. Saat harga minyak dunia naik, harga ikut naik. Sebaliknya, ketika harga minyak turun, harga BBM juga ikut menyesuaikan. “Mekanismenya sudah dipahami oleh konsumen. Ada naik turun mengikuti pasar,” jelasnya. 

Dia meyakini, kenaikan BBM nonsubsidi tidak akan berdampak signifikan terhadap inflasi. Alasannya, konsumsi BBM jenis ini relatif terbatas dan mayoritas digunakan kelompok menengah atas. 

“Penggunanya tidak terlalu banyak. Umumnya kendaraan dengan spesifikasi tinggi. Kecil dampaknya ke inflasi. Daya beli masyarakat juga tidak akan terganggu. Kelompok pengguna BBM nonsubsidi masih memiliki kemampuan ekonomi yang cukup kuat,” terang Fahmy. 

“Kalau yang naik itu BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar, dampaknya akan cukup besar ke inflasi dan daya beli karena terkait langsung dengan kebutuhan pokok. Mengingat kedua jenis BBM ini digunakan luas oleh masyarakat dan sektor logistik,” sambungnya. 

Fahmy juga mengingatkan Pemerintah, agar senantiasa berhati-hati dalam mengatur disparitas harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi. Sebab, selisih harga yang terlalu lebar berpotensi mendorong peralihan konsumsi. Secara keseluruhan, Fahmy menilai kombinasi kebijakan saat ini sudah cukup seimbang. Di satu sisi, beban negara ditekan melalui penyesuaian BBM nonsubsidi. Di sisi lain, daya beli masyarakat tetap dijaga dengan menahan harga BBM subsidi. 

Baca juga : Piala Thomas Dan Uber 2026, Skuad Garuda Geber Latihan Empat Jam

“Dalam situasi global seperti sekarang, kebijakan ini sudah cukup bijak,” pungkasnya. 

Harga Bahan Pokok Mestinya Tak Naik 

Anggota Komisi VI DPR Firnando Ganinduto mengatakan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang dilakukan Pertamina sudah tepat, karena mengikuti mekanisme pasar. Dia menilai, keputusan tidak menaikkan BBM subsidi merupakan faktor penting dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di pasaran. 

“Dengan tidak adanya kenaikan BBM subsidi, mestinya harga bahan pokok tidak ikut naik,” ujarnya, dalam keterangan tertulis, Minggu (19/4/2026). 

Terkait hal tersebut, Firnando meminta Pemerintah untuk aktif menjaga distribusi dan stabilitas pasar. “Pengawasan penyaluran BBM subsidi juga perlu diperkuat agar tetap tepat sasaran,” tandasnya. [HES/BCG]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.