Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dari Layar Menuju Tambang: Saat Literasi Harus Membaca Jejak Ekologis Kapitalis
Senin, 4 Mei 2026 16:39 WIB
Masyarakat terbiasa memahami media sebagai ruang informasi, hiburan, dan interaksi sosial. Kita membaca berita dari layar, menonton krisis iklim dari ponsel, lalu menggulir linimasa seolah semua persoalan lingkungan hanya berlangsung di tempat lain. Padahal, media tidak pernah benar-benar “immaterial.” Di balik setiap klik, server, kecerdasan buatan, dan perangkat digital, terdapat jejak ekologis yang nyata seperti energi besar, ekstraksi mineral, limbah elektronik, serta struktur ekonomi-politik yang menopangnya
Antonio López (2021) menjelaskan bahwa literasi media perlu bergerak melampaui kemampuan menganalisis isi pesan menuju kesadaran ekologis atas proses produksi, distribusi, dan konsumsi media. Artinya, publik tidak cukup hanya bertanya apakah suatu informasi benar atau salah, tetapi juga perlu menanyakan sumber daya apa yang menopang media ini, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang menanggung kerusakan ekologisnya? Perspektif ini mengubah literasi media dari sekadar kemampuan membaca pesan menjadi kemampuan membaca relasi kuasa antara media, kapitalisme, dan lingkungan.
Baca juga : Sarana Jaya Dukung Pembangunan Parkir Terintegrasi di Lebak Bulus
Kerangka ini sejalan dengan political ecology yang dipaparkan Robbins (2012) sebagai kajian tentang hubungan antara kondisi ekologis dan struktur politik, terutama mengenai siapa yang memiliki kuasa dalam pengelolaan sumber daya dan siapa yang paling terdampak secara tidak proporsional. Pertanyaan tersebut menjadi sangat relevan. Industri teknologi global sering dipromosikan sebagai simbol kemajuan hijau, padahal infrastruktur digital bergantung pada pusat data berdaya tinggi, penambangan logam, serta rantai pasok global yang sering kali menempatkan negara berkembang sebagai wilayah ekstraksi. Hal ini bisa kita sepakati sebagai transformasi digital tidak otomatis bertransformasi menuju sistem yang ekologis.
Bennedetta Brevini dan Daisy Doctor (2023) melalui gagasan placing the climate emergency center stage mengkritik bagaimana komunikasi modern, termasuk perkembangan artificial intelligence (AI), kerap mengabaikan dimensi material dari teknologi. AI sering dirayakan sebagai solusi efisiensi masa depan, tetapi jarang dibahas sebagai teknologi yang membutuhkan konsumsi energi masif, pendinginan server, dan infrastruktur karbon tinggi. Sistem carbon capitalism menyebtukan bahwa teknologi bukan berdiri di luar krisis iklim, melainkan sering kali menjadi bagian dari reproduksi krisis itu sendiri ketika pertumbuhan digital terus bergantung pada logika ekspansi ekonomi berbasis karbon.
Baca juga : Karya Jurnalistik Harus Diakui Sebagai Hak Cipta
Kapitalisme digital bekerja sangat halus. Platform media sosial, layanan komputasi awan, hingga AI generatif membentuk ilusi bahwa teknologi bersifat bersih karena tidak berasap seperti pabrik. Asap itu bukan tidak ada, melainkan hanya dipindahkan ke lokasi lain seperti tambang nikel, pembangkit listrik batu bara, ke wilayah pembuangan limbah elektronik, atau “dipindahkan” ke dalam komunitas rentan yang kehilangan ruang hidupnya. Indonesia sebagai contoh berada di persimpangan penting karena menjadi pemasok mineral strategis untuk ekonomi digital global sekaligus menghadapi risiko ekologis akibat ekspansi industri ekstraktif.
Karena itu, literasi media di ruang kelas maupun ruang publik harus diperluas menjadi kesadaran politik-ekologis. Mahasiswa, jurnalis, pembuat kebijakan, hingga pengguna media sosial perlu memahami bahwa komunikasi bukan sekadar produksi pesan, tetapi juga praktik material yang terkait dengan keadilan lingkungan. Ketika masyarakat membicarakan AI, mereka juga harus membicarakan energi. Ketika membahas transformasi digital, mereka juga harus membahas ekstraksi sumber daya. Ketika merayakan inovasi, mereka juga harus bertanya siapa yang membayar ongkos ekologisnya.
Baca juga : Komdigi Dorong Media Angkat Kisah Koperasi Desa Jadi Narasi Ekonomi Rakyat
Krisis iklim bukan hanya soal emisi karbon, tetapi juga soal narasi dominan tentang kemajuan. Jika media terus memosisikan teknologi sebagai penyelamat tanpa mengkritisi fondasi ekologisnya, maka publik hanya diajak mengonsumsi optimisme, bukan membangun kesadaran. Ecomedia literacy menawarkan jalan berbeda: membaca media sekaligus membaca bumi. Sudah saatnya kita tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang cakap, tetapi warga ekologis yang kritis. Sebab masa depan komunikasi tidak bisa dipisahkan dari masa depan planet ini.
Arya Yudha Prakoso
Praktisi Ilmu Komunikasi
Praktisi Ilmu Komunikasi
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya