Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Bicara Di Tokyo Conference, Airlangga: Asia Harus Perkuat Kerja Sama Ekonomi
Rabu, 11 Maret 2026 18:43 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menilai Asia perlu memperkuat kerja sama regional serta mempertahankan sistem multilateral berbasis aturan di tengah perubahan lanskap geopolitik global. Hal itu disampaikan Airlangga dalam Tokyo Conference 2026 pada sesi Asian Leaders Roundtable bertema “Envisioning Our Future: What kind of global role should Asia aspire in 2050?” di Tokyo, Jepang, Selasa (10/3/2026).
Dalam forum tersebut, Airlangga menilai dunia saat ini menghadapi dinamika geopolitik yang semakin kompleks. Hubungan antar negara besar semakin dipengaruhi kepentingan strategis dan politik yang bersifat transaksional.
“Tatanan global sebenarnya sudah multipolar sejak beberapa waktu. Namun pola interaksi antar kekuatan kini semakin didorong oleh kepentingan kekuatan dan transaksi politik,” ujar Airlangga.
Menurut dia, tren proteksionisme juga meningkat dan kepercayaan terhadap sistem multilateral mengalami penurunan. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) misalnya dinilai masih menghadapi tantangan dalam mencapai kemajuan pada isu perdagangan digital maupun penguatan rantai pasok global.
Di sisi lain Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menghadapi kesulitan menjaga efektivitas multilateralisme akibat meningkatnya ketegangan geopolitik serta berbagai krisis global yang semakin kompleks.
Airlangga menyoroti situasi geopolitik di Timur Tengah yang memicu ketidakpastian global. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran bahkan berdampak pada sejumlah negara lain di kawasan tersebut.
Baca juga : Airlangga Cs Cari Sumber Minyak Lain
“Fluktuasi harga minyak menunjukkan betapa dinamisnya situasi geopolitik global saat ini,” katanya.
Per 10 Maret 2026, harga minyak Brent tercatat sekitar 90,42 dolar AS per barel setelah sebelumnya sempat melonjak hingga lebih dari 100 dolar AS akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Meski menghadapi tantangan global, Airlangga menilai Asia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi utama dunia pada masa depan.
Ia menyebut pada 2050 kawasan Asia diproyeksikan menyumbang sekitar 52 persen dari produk domestik bruto (PDB) global. China diperkirakan menjadi ekonomi terbesar di kawasan dengan PDB hampir 58 triliun dolar AS (PPP), disusul India sekitar 44 triliun dolar AS. Indonesia diproyeksikan menempati posisi ketiga di Asia dengan PDB sekitar 10 hingga 11 triliun dolar AS.
Sementara Jepang diperkirakan berada di kisaran 8 hingga 9 triliun dolar AS dan Korea Selatan sekitar 3 hingga 4 triliun dolar AS.
Menurut Airlangga, potensi tersebut hanya dapat terwujud jika negara-negara Asia memperkuat kerja sama regional dan membangun kepercayaan antar negara.
Baca juga : Percepat Penyediaan Hunian Terjangkau, Perumnas Kembangkan Rusun Samesta Alonia
Ia menekankan pentingnya memperkuat konektivitas kawasan serta menjaga perdagangan terbuka yang berbasis aturan.
“Alih-alih terfragmentasi, kita harus memperkuat konektivitas. Alih-alih proteksionisme, kita harus memperkuat perdagangan terbuka berbasis aturan,” ujarnya.
Airlangga juga menyoroti peran ASEAN yang diproyeksikan menjadi salah satu blok ekonomi utama dunia pada 2050. Saat ini kawasan ASEAN telah memiliki PDB kolektif sekitar 4,13 triliun dolar AS.
Indonesia sendiri diperkirakan akan menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia pada 2050.
Selain itu Airlangga menilai berbagai kerja sama ekonomi regional seperti Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) menjadi pilar penting dalam memperkuat integrasi ekonomi kawasan.
RCEP dengan nilai ekonomi sekitar 38,8 triliun dolar AS mewakili sekitar 30 persen perdagangan global. Sementara CPTPP mencakup ekonomi dengan nilai sekitar 15,8 triliun dolar AS.
Baca juga : BRI Cetak Laba Rp57,132 T Dukung Asta Cita Pemeritah, Perkuat Ekonomi Rakyat
Airlangga menegaskan Indonesia siap bekerja sama dengan berbagai mitra di kawasan untuk memperkuat ketahanan ekonomi global.
Ia mengatakan ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar 5,4 persen pada 2026. Indonesia juga mencatat surplus perdagangan selama 69 bulan berturut-turut hingga awal tahun ini. Inflasi nasional tetap terkendali dengan defisit fiskal sekitar 2,68 persen terhadap PDB.
“Kami juga mempercepat strategi Indonesia Incorporated, yaitu sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh elemen bangsa untuk mencapai tujuan pembangunan bersama,” ujar Airlangga.
Menurut dia, ketegangan geopolitik global dan volatilitas harga energi menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi tidak bisa dianggap pasti.
Namun Airlangga optimistis Asia dapat memainkan peran besar dalam ekonomi dunia jika tetap berkomitmen pada kerja sama regional yang terbuka dan inklusif.
“Jika Asia tetap berkomitmen pada kerja sama terbuka dan menolak persaingan zero-sum, maka tahun 2050 dapat menjadi abad Asia,” kata Airlangga.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya