Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Biaya Operasional Naik, Gapasdap Kembali Minta Penyesuaian Tarif Penyeberangan
Senin, 4 Mei 2026 15:54 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kondisi usaha angkutan penyeberangan dinilai semakin berat seiring tekanan biaya operasional yang terus meningkat. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor utama yang membebani pelaku usaha.
Nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp 17.000 per dolar AS, membuat berbagai komponen biaya operasional melonjak. Di saat yang sama, harga minyak dunia yang masih berada di atas 107 dolar AS per barel turut memperbesar beban operasional kapal.
Ketua Umum DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap), Khoiri Soetomo, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah sangat berdampak pada biaya perawatan kapal. Hampir seluruh kebutuhan suku cadang kapal bergantung pada kurs dolar. Mulai dari komponen teknis, biaya pengedokan, peralatan keselamatan, hingga perlengkapan lain yang wajib dipenuhi sesuai standar keselamatan pelayaran.
Baca juga : Kapolri Minta Pelayanan Masyarakat Ditingkatkan
“Ketika rupiah melemah, hampir seluruh komponen biaya ikut naik. Ditambah harga minyak dunia yang masih tinggi, tekanan terhadap biaya operasional kapal menjadi semakin besar,” kata Khoiri, di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, struktur biaya angkutan penyeberangan sebenarnya sudah tidak seimbang dengan tarif yang berlaku sejak beberapa tahun terakhir. Berdasarkan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) pada 2019, tarif angkutan penyeberangan saat itu masih mengalami kekurangan sebesar 31,8 persen dibanding kebutuhan biaya riil.
Dengan kondisi kurs dolar yang kini semakin tinggi, selisih antara tarif dan biaya operasional diperkirakan semakin melebar. Di sisi lain, operator kapal tetap diwajibkan memenuhi seluruh standar keselamatan dan kenyamanan yang ditetapkan. Namun, tarif sebagai sumber utama pendapatan dinilai belum mencerminkan biaya operasional yang sesungguhnya.
Baca juga : Di Rakorwil PSI se-NTB, Kaesang Minta Para Kader Belajar dari Para Senior
Gapasdap menilai, kondisi ini tidak dapat dibiarkan berlarut-larut karena berpotensi memengaruhi keberlangsungan layanan penyeberangan nasional. “Keselamatan dan kenyamanan pelayaran membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sulit bagi operator memenuhi standar secara optimal apabila struktur tarif tertinggal jauh dari kenaikan biaya operasional,” ujarnya.
Selain penyesuaian tarif, Gapasdap juga berharap Pemerintah dapat memberikan dukungan berupa insentif kepada perusahaan angkutan penyeberangan.
Dukungan tersebut dapat berupa pengurangan biaya kepelabuhanan, keringanan perpajakan, penyesuaian Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), hingga dukungan terhadap beban bunga perbankan, seperti yang selama ini diberikan kepada sektor angkutan udara.
Baca juga : Jambore Linmas Jadi Momentum Penguatan Peran dan Kesiapsiagaan
“Tanpa langkah konkret, perusahaan angkutan penyeberangan akan semakin sulit menjaga keberlanjutan operasional kapal, termasuk dalam memenuhi kewajiban perawatan, keselamatan, dan kenyamanan penumpang,” ucapnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya