Dark/Light Mode

Ekonom: Pelemahan Rupiah Dipicu Faktor Eksternal, Tak Ganggu Daya Beli

Rabu, 6 Mei 2026 19:06 WIB
Ekonom Surya Vandiantara. Dok. Pribadi
Ekonom Surya Vandiantara. Dok. Pribadi

RM.id  Rakyat Merdeka - Ekonom Surya Vandiantara menilai, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini bukan dipicu oleh faktor internal. Karena itu, ia memastikan kondisi tersebut tidak akan berdampak signifikan terhadap daya beli masyarakat.

Menurut Surya, secara teori terdapat dua faktor utama yang biasanya menjadi penyebab pelemahan mata uang dari sisi domestik, yakni lemahnya pertumbuhan ekonomi dan tingginya impor yang memicu defisit neraca perdagangan. Kondisi ini pada akhirnya meningkatkan permintaan terhadap mata uang asing. Namun, ia menegaskan, indikator ekonomi Indonesia justru menunjukkan tren yang sebaliknya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi YoY triwulan I 2026 berjalan positif di angka 5,61 persen, begitu pula triwulan IV 2025 sebesar 5,39 persen, dan triwulan III 2025 sebesar 5,04 persen.

Baca juga : Tangsel One Dan Helita Diluncurkan, Integrasikan 441 Layanan Publik

"Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dalam negeri memiliki tren positif dan stabil,” kata pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Bengkulu tersebut.

Selain itu, kinerja perdagangan Indonesia juga masih mencatatkan surplus. Surya mengungkapkan, pada Maret 2026 nilai ekspor mencapai 22,53 miliar dolar AS, sementara impor berada di angka 19,21 miliar dolar AS.

“Mengingat pertumbuhan ekonomi yang positif dan stabil, serta neraca perdagangan yang surplus, maka itu bukan karena faktor internal dan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap daya beli masyarakat,” ujarnya.

Baca juga : AESI Dorong Penguatan Regulasi Demi Kejar Target Energi Surya

Ia menambahkan, kondisi fundamental lain yang turut memperkuat ketahanan ekonomi nasional adalah posisi utang luar negeri (ULN). Berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI) per April 2026, rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 29,8 persen, dengan dominasi utang jangka panjang mencapai 84,9 persen dari total ULN.

Berdasarkan data tersebut, Surya menilai posisi utang Indonesia masih dalam kategori aman, terutama jika dilihat dari rasio kemampuan membayar.

“Berbagai teori ekonomi mencoba memberikan ambang batas rasio kesehatan utang. Ambang batas biasanya ditetapkan sekitar sepertiga atau 40 persen dari total pendapatan. Laporan Bank Indonesia yang menyatakan rasio ULN terhadap PDB di angka 29,8 persen menunjukkan bahwa rasio tersebut masih di bawah ambang batas aman,” jelasnya.

Baca juga : Harga BBM Subsidi Tak Naik, Daya Beli Dijaga

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa struktur tenor utang juga menjadi indikator penting dalam menilai kesehatan ULN. Menurutnya, semakin panjang tenor pinjaman, semakin ringan beban pembayaran dalam setiap periode.

“Dominasi ULN jangka panjang yang mencapai 84,9 persen semakin memperkuat penilaian sehat atas ULN Indonesia,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.