Dark/Light Mode
Ekonomi RI Masih Tangguh Di Tengah Gejolak Global
Harga BBM Subsidi Tak Naik, Daya Beli Dijaga
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah meluncurkan berbagai kebijakan untuk meredam dampak gejolak global terhadap perekonomian nasional. Mulai dari penahanan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, penguatan ruang fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pengendalian tarif angkutan udara, hingga percepatan program biodiesel 50 persen berbasis minyak sawit.
Langkah tersebut dinilai mampu menjaga kondisi perekonomian Indonesia tetap resilien di tengah tekanan global.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, dalam kondisi penuh ketidakpastian, Pemerintah berkomitmen menjaga daya beli masyarakat melalui kebijakan yang terukur.
“Terkait perkembangan harga komoditas global akibat pertempuran di Timur Tengah, khususnya minyak mentah, Pemerintah memutuskan tidak menaikkan harga BBM bersubsidi agar konsumsi rumah tangga tetap terjaga dan inflasi bisa dikendalikan,” kata Airlangga di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Airlangga menjelaskan, selama harga minyak rata-rata tidak melebihi 97 dolar AS per barel, harga BBM bersubsidi seperti pertalite dan biosolar masih dapat dipertahankan hingga Desember 2026.
Penurunan harga minyak juga dipengaruhi jeda dua minggu akibat gencatan senjata Amerika Serikat (AS), yang membuat harga minyak mentah turun menjadi 96,7 dolar AS per barel dan brent crude menjadi 95,23 dolar AS per barel.
Baca juga : Bersilaturahim dengan Tumbuh-Tumbuhan
Dari sisi fi skal, kinerja APBN menunjukkan peran signifikan dengan penerimaan pajak hingga akhir kuartal I-2026 meningkat 14,3 persen atau Rp 462,7 triliun. Selain itu, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur pada Maret 2026 berada di level ekspansif sebesar 50,1.
Selain itu, Pemerintah juga menyiapkan berbagai kebijakan strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, salah satunya melalui implemen- tasi program biodiesel B50.
“Kami sudah menyepakati per 1 JulI-2026 akan menjalankan B50. Dari situ kami bisa meningkatkan ketahanan anggaran, akan ada saving Rp 48 triliun,” jelas Airlangga.
Dia menegaskan, Pemerintah berkomitmen menjaga disiplin fiskal. Termasuk rasio utang dan defisit anggaran.
“Bapak Presiden sudah berkomitmen rasio utang dijaga di level 40 persen, walaupun undang-undang menyiapkan sampai 60 persen. Demikian juga dengan defisit anggaran, dijaga di level 3 persen, ini akan kami jaga sampai akhir tahun,” ujarnya.
Pada kuartal I-2026, Indonesia masih menunjukkan resiliensi, antara lain dari Indeks Keyakinan Konsumen di level 125,2, cadangan devisa sebesar 151,9 miliar dolar AS, serta pertumbuhan ekonomi yang diperki- rakan mencapai 5,5 persen.
Baca juga : Berguru Dari Pohon
“Maka, Pemerintah melihat pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama juga masih baik, masih bisa mencapai atau di kisaran 5,5 persen,” tutur Airlangga.
Dari sisi moneter, Pemerintah terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia melalui triple intervention di pasar spot domestik non delivery forward untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. BI Rate juga terjaga di level 4,75 basis poin.
“Bapak Presiden mengarahkan agar bilateral currency swap dilanjutkan dengan beberapa negara. Sekarang sudah dengan China, Jepang, Australia, Singapura, Malaysia, Korea Selatan. Ke depannya, beberapa negara juga perlu didorong,” ungkapnya.
Kebijakan lain yang ditempuh adalah penyesuaian harga avtur melalui penerapan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 11 persen selama dua bulan, sehingga kenaikan harga tiket pesawat domestik dapat ditekan pada kisaran 9 persen hingga 13 persen.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menambahkan, berbagai skenario telah dihitung. Termasuk asumsi harga minyak mentah mencapai 100 dolar AS per barel.
“Subsidi terhadap BBM akan terus diadakan sampai akhir tahun. Dengan pemotongan di sana-sini, penghematan di sana-sini, kita bisa pastikan defisitnya masih di sekitar 2,9 persen,” ungkap Purbaya.
Baca juga : Antara Denotatif dan Konotatif
Dia menegaskan, fundamental ekonomi domestik tetap kuat meski menghadapi tekanan eksternal.
“Ekonomi Indonesia masih tangguh. Aktivitas sektor riil berjalan, industri manufaktur tetap berada di zona ekspansi dan konsumsi rumah tangga relatif terjaga,” terangnya.
Menurut Purbaya, Pemerintah belajar dari pengalaman krisis sebelumnya, sehingga respons kebijakan kini lebih terukur dan antisipatif.
Kombinasi strategi dan respons komprehensif diharapkan mampu melindungi konsumsi domestik, sekaligus mempertahankan momentum pertum- buhan nasional.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti menilai, stabilitas ekonomi nasional masih berada pada jalur aman di tengah dinamika global.
“Karena ketergantungan energi Indonesia terhadap Kawasan Teluk relatif kecil diban dingkan negara Asia lainnya. Itu jadi salah satu penopang daya tahan kita di tengah kondisi global yang bergejolak saat ini,” kata Esther kepada Rakyat Merdeka, Kamis (9/4/2026).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.