Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Bicara Di AECC Ke-27
Airlangga Tekankan Ketahanan Energi & Pangan Hadapi Dampak Konflik Global
Kamis, 7 Mei 2026 10:56 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah Indonesia mendorong negara-negara ASEAN memperkuat ketahanan energi dan pangan untuk menghadapi dampak konflik global yang terus meluas. Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Pertemuan ke-27 ASEAN Economic Community Council (AECC) di Cebu, Filipina, Rabu (7/5/2026).
Pertemuan para Menteri Ekonomi ASEAN itu berlangsung di tengah memanasnya konflik Iran dengan AS dan Israel yang berdampak pada gangguan rantai pasok energi dunia. Konflik di Selat Hormuz juga memicu kenaikan harga energi, pangan, hingga biaya transportasi di kawasan ASEAN.
Airlangga mengatakan, ASEAN perlu memperkuat ketahanan regional agar mampu menghadapi gejolak ekonomi global yang makin tidak menentu.
“Untuk mengatasi disrupsi, diperlukan ketahanan energi, optimalisasi platform kerja sama yang ada, dan fokus pada penguatan perdagangan antaranggota ASEAN dengan mitra strategis,” kata Airlangga dalam forum tersebut.
Baca juga : Dharma Jaya Perkuat Konsolidasi dan Stok Pangan Jakarta Hadapi Dinamika Global
Ia menilai, kerja sama kawasan harus diperkuat melalui berbagai skema yang telah dimiliki ASEAN, seperti ASEAN Plus One FTAs dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
Selain itu, ASEAN juga didorong memanfaatkan kerja sama ketahanan energi, seperti ASEAN Power Grid (APG) dan ASEAN Framework Agreement on Petroleum Security (APSA).
“Pemanfaatan kekuatan sentralitas ASEAN diperlukan untuk membangun supply chain resilience di kawasan,” ujar Airlangga.
Dalam pertemuan itu, Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Maria Cristina Aldeguer-Roque selaku pimpinan sidang meminta pandangan para Menteri Ekonomi ASEAN untuk mengatasi dampak perang yang menyebabkan hambatan pasokan energi dan produk berbahan dasar minyak mentah di kawasan.
Baca juga : HUT ke-5 WiLAT Indonesia, Tegaskan Peran Perempuan di Tengah Krisis Global
Sejumlah lembaga internasional turut memaparkan kondisi ekonomi terkini ASEAN. Kepala Ekonomi AMRO Dong He menyebut kebijakan domestik AS dan konflik global telah memicu disrupsi suplai energi serta pestisida yang berdampak pada kenaikan inflasi di kawasan.
AMRO bahkan mengindikasikan ASEAN menghadapi tekanan stagflasi terkuat sejak 2011. Kondisi itu ditandai perlambatan pertumbuhan ekonomi di tengah tingginya inflasi.
Asian Development Bank (ADB) juga mengusulkan penguatan ketahanan energi dan pangan melalui program konkret bersama badan-badan ASEAN dan sektor swasta.
ADB menyatakan siap mengguyurkan pembiayaan ke pasar saham ASEAN guna membantu menahan tekanan dan gejolak ekonomi kawasan.
Baca juga : Temuan Gas Jumbo di Blok Ganal Mantapkan Prospek Ketahanan Energi Nasional
Sementara itu, Sekretariat ASEAN mengusulkan ASEAN CORE (Coordinated Response for Enduring Resilience) sebagai langkah respons cepat menghadapi dampak konflik global.
Skema tersebut mencakup penguatan institusi, pendalaman integrasi ekonomi dan keuangan, penguatan ketahanan energi dan pangan, serta peningkatan ketahanan rantai pasok maritim.
Airlangga menegaskan, ASEAN perlu bergerak cepat memperkuat diversifikasi sumber energi dan jalur pasokan untuk menjaga stabilitas ekonomi kawasan.
Selain itu, perdagangan intra-ASEAN juga perlu terus ditingkatkan agar kawasan tidak terlalu bergantung pada gejolak ekonomi global.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya