Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Rupiah Anjlok Ke 17.500 Per Dolar, Purbaya Segera Bantu BI Stabilkan Rupiah
Rabu, 13 Mei 2026 08:00 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah anjlok hingga menembus level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan, Selasa (12/5/2026). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, pemerintah akan membantu Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas nilai tukar mulai hari ini.
Seharian kemarin, nilai tukar rupiah kian tertekan hingga menembus level Rp 17.500 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah di level Rp 17.479 per dolar AS.
Rupiah terus terdepresiasi hingga menyentuh Rp 17.508 per dolar AS pada siang hari dan ditutup di posisi Rp 17.529 per dolar AS.
Baca juga : Pemerintah Pusat-Daerah Tingkatkan Kewaspadaan
Merespons pelemahan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menggelar rapat internal bersama jajaran pejabat Kementerian Keuangan di lobi Gedung Djuanda I, Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Sejumlah pejabat yang hadir antara lain Sekretaris Jenderal Kemenkeu Robert Leonard Marbun, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Suminto, Direktur Jenderal Pebendaharaan Astera Primanto Bhakti, serta Pelaksana Harian Direktur Jenderal Stabilitas Ekonomi dan Fiskal Ferry Ardiyanto.
Usai rapat, Purbaya mengatakan, pemerintah akan membantu BI menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar obligasi. “Kita bisa akan mulai membantu besok (hari ini) mungkin,” ujar Purbaya.
Baca juga : Sudah Pulih 99 Persen, Jokowi Akan Keliling Indonesia Bulan Depan
Ia menjelaskan, langkah yang ditempuh yakni mengaktifkan instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) di pasar surat berharga negara guna menahan kenaikan imbal hasil atau yield obligasi. “Dengan masuk ke bond market. Kita aktifkan di instrumen yang kita punya di sini. Besok mulai jalan,” katanya.
Menurut dia, pemerintah memiliki likuiditas yang cukup untuk membantu menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. “Kita masih banyak uang nganggur, kita intervention bond market supaya yield-nya nggak naik terlalu tinggi,” ucapnya.
Purbaya menilai kenaikan yield yang terlalu tinggi berpotensi memicu arus keluar modal asing dari pasar obligasi domestik. “Jadi kita kendalikan itu supaya asing nggak keluar,” katanya.
Baca juga : Gandeng Danantara, 13 Pemda Genjot PSEL
Ia juga memastikan, kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih relatif aman meski rupiah berada di kisaran Rp 17.500 per dolar AS. Menurut dia, pemerintah telah menggunakan asumsi kurs yang lebih tinggi dibandingkan asumsi resmi dalam Undang-Undang APBN 2026 sebesar Rp 16.500 per dolar AS.
“Pada waktu kita hitung itu, kita asumsinya sudah di atas asumsi APBN rupiahnya. Jadi APBN-nya masih relatif aman,” ujar Purbaya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya