Dark/Light Mode

Hantavirus Masuk Ke-5 Negara Asia

Pemerintah Pusat-Daerah Tingkatkan Kewaspadaan

Rabu, 13 Mei 2026 07:50 WIB
Foto ilustrasi yang menunjukkan sampel hantavirus. (Foto: AI/Chatgpt)
Foto ilustrasi yang menunjukkan sampel hantavirus. (Foto: AI/Chatgpt)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah pusat dan daerah mulai meningkatkan kewaspadaan setelah hantavirus dilaporkan masuk ke beberapa negara di kawasan Asia. Berbagai langkah antisipasi dilakukan agar penyakit yang berasal dari hewan pengerat itu tidak menjadi pandemi seperti Covid-19. 

Hantavirus menjadi sorotan setelah muncul di kapal pesiar MV Hondius dan menewaskan tiga orang. Kapal yang membawa penumpang dari 28 negara itu langsung memicu kepanikan di kawasan Eropa. 

Sejumlah negara telah melaporkan kasus hantavirus, yakni Belanda, Chili, Inggris, Argentina, Jerman, Swiss, Prancis, Amerika Serikat, dan Spanyol. Para penderita disebut terpapar setelah menjadi penumpang kapal MV Hondius.

Baca juga : Sudah Pulih 99 Persen, Jokowi Akan Keliling Indonesia Bulan Depan

Kini, hantavirus juga dilaporkan masuk ke sejumlah negara Asia seperti Singapura, Jepang, Korea Selatan, China, dan Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pun merekomendasikan karantina terhadap mereka yang kontak erat dengan penderita untuk mencegah penyebaran. 

“WHO merekomendasikan karantina itu karena orang sebenarnya sudah me­nularkan virus sejak awal sakit,” ujar Kepala Divisi Epidemiologi dan Analitik Respons WHO, Olivier Le Polain, seperti dilansir Reuters, Selasa (12/5/2026). 

Menurut Olivier, karantina menjadi penting karena virus tersebut sudah bisa menular meski pasien belum merasakan gejala. Mengingat, masa inkubasi virus hingga muncul gejala dapat mencapai sekitar tiga minggu. 

Baca juga : Gandeng Danantara, 13 Pemda Genjot PSEL

Lalu apa yang dilakukan pemerintah? Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Andi Saguni memastikan, pihaknya langsung bergerak setelah muncul kabar penyebaran hantavirus. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperketat pengawasan terhadap pelaku perjalanan internasional, baik yang masuk melalui bandara maupun pelabuhan laut. Pengawasan itu dikawal Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) yang tersebar di seluruh Indonesia. 

“Surveilans kita lakukan skrining gejala pelaku perjalanan di pintu masuk negara melalui thermal scanner, pengamatan visual, serta aplikasi All Indonesian,” ujar Andi seperti dilansir situs Kemenkes, Selasa (12/5/2026). 

Selain terhadap penumpang, Kemenkes juga melakukan inspeksi kesehatan lingkungan dan pemantauan keberadaan tikus di alat angkut. Skema penanganan berdasarkan tingkat risiko pelaku perjalanan turut dilakukan. 

Baca juga : BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi Di Industri

Andi menjelaskan, penumpang dengan gejala tertentu akan menjalani pemeriksaan lanjutan hingga dirujuk ke rumah sakit. Saat ini terdapat 198 rumah sakit yang ditunjuk untuk me­lakukan pemantauan. “Termasuk juga untuk mendapatkan informasi kasus dan juga untuk mencegah KLB (kejadian luar biasa),” tegasnya. 

Di sisi lain, Kantor Kesehatan Pelabuhan dan Karantina Kesehatan Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, memperketat standar kesehatan bagi pelaku perjalanan internasional. Kepala Kantor Karantina Kesehatan Soekarno-Hatta Naning Nugrahini mengatakan, pengawasan dilakukan melalui isian kesehatan di aplikasi SatuSehat dan pemantauan langsung di bandara. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.