Dark/Light Mode

Impor LPG Melonjak, Konversi ke CNG Dinilai Bisa Tekan Subsidi Energi

Selasa, 26 Mei 2026 21:15 WIB
ReforMiner menilai konversi LPG ke CNG berpotensi menekan impor dan subsidi energi, tetapi terkendala infrastruktur, regulasi, dan aspek keselamatan.
ReforMiner menilai konversi LPG ke CNG berpotensi menekan impor dan subsidi energi, tetapi terkendala infrastruktur, regulasi, dan aspek keselamatan.

RM.id  Rakyat Merdeka - Rencana konversi penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) ke Compressed Natural Gas (CNG) dinilai berpotensi memperkuat ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan impor energi, serta menekan beban subsidi energi.

Namun, kebijakan tersebut masih menghadapi tantangan besar, mulai dari kesiapan infrastruktur, regulasi, hingga aspek keselamatan.

Hal itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Peluang dan Tantangan Rencana Kebijakan Konversi Penggunaan LPG dengan Menggunakan CNG” yang digelar ReforMiner Institute, Senin (26/5/2026).

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Muhammad Kholid Syeirazi mengatakan konsumsi LPG nasional terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2025, kebutuhan LPG nasional mencapai sekitar 9,27 juta metrik ton, sedangkan produksi domestik hanya sekitar 1,91 juta metrik ton. Kondisi itu membuat impor LPG Indonesia mencapai sekitar 7,47 juta metrik ton per tahun.

Menurut Kholid, tingginya ketergantungan impor membuat Indonesia rentan terhadap dinamika geopolitik dan fluktuasi harga energi global.

Saat ini sekitar 70 persen impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat, disusul Uni Emirat Arab sebesar 11,88 persen dan Qatar 11,84 persen.

“Ketika struktur energi rumah tangga terlalu bergantung pada impor, maka gejolak global akan langsung berdampak pada APBN dan stabilitas ekonomi nasional,” ujar Kholid.

Baca juga : Teknologi Backfilling Dinilai Cocok Diterapkan di Indonesia

Ia menambahkan, tekanan subsidi dan kompensasi energi juga terus meningkat dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan data DEN, total subsidi dan kompensasi energi naik dari Rp 119,1 triliun pada 2015 menjadi Rp 313,9 triliun pada 2025.

Bahkan pada 2022, nilainya sempat melonjak menjadi sekitar Rp 551 triliun akibat lonjakan harga energi global pascakonflik Rusia-Ukraina.

Kholid menilai kondisi tersebut menjadi alasan pemerintah mulai mendorong diversifikasi energi rumah tangga dan optimalisasi pemanfaatan gas domestik.

“Indonesia sebenarnya memiliki potensi gas domestik yang cukup besar. Tantangannya adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi energi yang dapat diakses masyarakat secara aman, efisien, dan ekonomis,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, DEN menyebut biaya energi gas alam sekitar Rp 38,5 per megajoule, jauh lebih rendah dibanding LPG nonsubsidi yang dapat mencapai Rp285 per megajoule.

Selain untuk rumah tangga, CNG juga dinilai berpotensi digunakan pada sektor transportasi dan industri. Meski demikian, implementasi CNG untuk rumah tangga dinilai belum mudah.

Salah satu tantangan utama adalah belum adanya standar internasional khusus untuk tabung, katup, selang, hingga instalasi CNG rumah tangga.

Kholid menjelaskan, tekanan tabung CNG dapat mencapai 150–200 bar, jauh lebih tinggi dibanding tabung LPG rumah tangga sekitar 8 bar, sehingga membutuhkan material yang lebih kompleks dan mahal.

Baca juga : Dari Dapur MBG, Santri Yatim Ini Bisa Topang Ekonomi Keluarga

“Isu keselamatan menjadi aspek yang sangat krusial karena karakteristik CNG berbeda dengan LPG. Pemerintah perlu memastikan standardisasi dan sistem monitoring sebelum implementasi dilakukan secara luas,” tegasnya.

Selain aspek keselamatan, keterbatasan infrastruktur Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) juga dinilai menjadi hambatan karena jumlah fasilitas aktif masih terbatas dan belum tersebar merata.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan konversi LPG ke CNG perlu diposisikan sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi dan mengurangi tekanan devisa.

Berdasarkan kajian awal ReforMiner, substitusi LPG impor menggunakan gas domestik berpotensi menghemat devisa sekitar 820 juta dolar AS hingga 6 miliar dolar AS, tergantung skenario implementasi.

Namun, ia mengingatkan implementasi kebijakan tersebut membutuhkan kesiapan pasokan gas, infrastruktur distribusi, serta dukungan fiskal yang besar.

Untuk menggantikan seluruh impor LPG Indonesia, dibutuhkan sekitar 352,5 billion standard cubic feet (BSCF) gas per tahun atau setara sekitar 965 million standard cubic feet per day (MMSCFD), yakni sekitar 10–15 persen produksi gas nasional saat ini.

“Kebijakan konversi LPG ke CNG tidak dapat dilakukan secara instan. Pemerintah perlu memastikan keekonomian proyek, kesiapan infrastruktur, dan penerimaan masyarakat agar implementasinya realistis,” ujar Komaidi.

Sementara itu, Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development INDEF Abra Talattov menilai keberhasilan program konversi sangat bergantung pada roadmap fiskal dan reformasi subsidi energi.

Baca juga : Cegah Penyakit, FK Universitas Trisakti Kampanyekan PHBS di SIJB Malaysia

Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026, subsidi LPG 3 kilogram ditetapkan sebesar Rp 80,3 triliun dengan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) 70 dollar AS per barel dan kurs Rp16.500 per dolar AS.

“Konversi LPG ke CNG tidak cukup hanya berbasis narasi ketahanan energi. Pemerintah juga harus memastikan keberlanjutan fiskal dan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi,” ujar Abra.

Menurut dia, tantangan terbesar implementasi CNG rumah tangga adalah tingginya biaya awal konversi. Rumah tangga diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp 7 juta–Rp 10 juta untuk mengganti tabung, regulator, nozzle, dan melakukan penyesuaian kompor.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu menyiapkan roadmap pengembangan CNG yang mencakup reformasi subsidi energi, dukungan fiskal, insentif investasi, skema pembiayaan konversi, hingga pembangunan infrastruktur distribusi.

FGD ReforMiner menyimpulkan, konversi LPG ke CNG memiliki potensi strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi tekanan impor.

Namun, keberhasilannya bergantung pada kesiapan regulasi, infrastruktur, dukungan fiskal, standardisasi keselamatan, serta roadmap implementasi yang realistis dan bertahap.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.