Dark/Light Mode

Mitigasi Dampak Gejolak Ekonomi Global

Bank Sentral Naikkan BI Rate Menjadi 5,25 Persen

Kamis, 4 Juni 2026 06:40 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo. (Foto: Dok. BI)
Gubernur BI Perry Warjiyo. (Foto: Dok. BI)

 Sebelumnya 
Dalam menghadapi perkembangan ekonomi global, BI juga terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, termasuk sinergi yang erat antara kebijakan moneter dengan kebijakan fiskal. 

Langkah ini untuk memitigasi dampak ketidakpastian global akibat perang di Timteng terhadap perekonomian domestik. Sehingga, diharapkan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga baik. 

Bank Sentral juga memastikan sinergi kebijakan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus dipererat, untuk turut menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong pembiayaan bagi Program Asta Cita Pemerintah. 

Langkah BI Sesuai Ekspektasi 

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual berpendapat, langkah BI menaikkan suku bunga acuan sudah sesuai dengan ekspektasi. 

Baca juga : Airlangga Kawal Aksesi Indonesia Masuk OECD

“Kenaikan BI Rate diharapkan bisa menjangkar inflasi dan menjaga daya tarik aset rupiah,” ucap David kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

David mengatakan, BI Rate merupakan langkah antisipasi yang perlu diambil untuk mencegah situasi menjadi lebih buruk di tengah tekanan global. 

“Paling tidak, keputusan BI ini bisa meredam (gejolak fluktuasi rupiah). Karena kalau tidak dilakukan, bisa lebih parah lagi (nilai rupiah),” katanya. 

Namun diakuinya, kenaikan BI Rate ini juga akan berdampak pada kenaikan suku bunga pinjaman untuk usaha hingga kredit rumah. Hal ini memang tidak akan langsung melemahkan kelas menengah. 

Baca juga : Jangan Tunggu Rusak Parah, Baru Bertindak

“Baru bisa dilihat dampaknya dalam jangka menengah, sekitar enam bulan ke depan,” tuturnya. 

David menyebut, ke depan, masih ada ruang kenaikan BI Rate. Hal ini merespons imbal hasil US Treasury dalam tren naik. Sementara The Fed Funds Rate juga diproyeksikan akan naik di semester II-2026. 

Hal senada disampaikan Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede. Dia menyebut, kenaikan BI Rate membawa dilema. 

Di satu sisi langkah tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah. Di sisi lain, kebijakan ini bisa menekan konsumsi berbasis kredit, dan membuat masyarakat lebih berhati-hati berbelanja. 

Baca juga : Ultras Milan Serang Cardinale

“Karena BI perlu menjaga rupiah dengan intervensi yang terukur dan instrumen yang efektif,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Pemerintah, menurut Josua, perlu membantu melalui disiplin fiskal, penguatan ekspor, percepatan belanja produktif, serta perlindungan daya beli kelompok rentan. 

“Dengan pendekatan itu, kenaikan suku bunga tidak hanya menjadi rem darurat, tetapi bagian dari strategi menjaga stabilitas tanpa mengorbankan pertumbuhan secara berlebihan,” kata Josua. [DWI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.