Dark/Light Mode

Rapat Akhir Pekan di Senayan

DPR-Pemerintah-BI Bersatu Kuatkan Rupiah

Senin, 8 Juni 2026 08:28 WIB
Dari kiri: Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Wakil Ketua Komisi XI DPR Mohammad Hekal, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan keterangan usai rapat bersama, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026). (Foto: Tedy O Kroen/RM)
Dari kiri: Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Wakil Ketua Komisi XI DPR Mohammad Hekal, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan keterangan usai rapat bersama, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026). (Foto: Tedy O Kroen/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - DPR, Pemerintah, dan Bank Indonesia (BI) bersatu bahu-membahu untuk menguatkan nilai tukar rupiah. Di akhir pekan kemarin, DPR, Pemerintah, dan BI menggelar rapat di Senayan, membahas langkah-langkah strategis menjaga nilai tukar.

Rapat ini diinisiasi Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad. Dari pihak Pemerintah hadir Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Dari BI hadir langsung Gubernur BI Perry Warjiyo. Usai mengkaji persoalan dan membuat rumusan strategi, mereka langsung menjelaskan ke publik.

Dasco mengatakan, rapat digelar dalam rangka evaluasi perekonomian atas perkembangan yang terjadi. "Sekaligus koordinasi fiskal dan moneter agar bisa saling mendukung demi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik," ujar Ketua Harian Partai Gerindra.

Perry menambahkan, koordinasi moneter dan fiskal sudah seirama, dan terus ditingkatkan. Bukan hanya dalam rangka penguatan rupiah, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Saat ini, memang difokuskan bagaimana fiskal dan moneter ini seirama, saling mendukung, saling memperkuat dengan kewenangan masing-masing untuk memperkuat upaya-upaya bersama melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah," tuturnya.

Baca juga : Jemaah Disabilitas Apresiasi Terobosan Pelayanan Haji

Langkah pertama yang dilakukan BI dan Pemerintah dalam menguatkan rupiah adalah meningkatkan daya tarik imbal hasil agar dana asing kembali mengalir ke Indonesia (portfolio inflow). Perry menerangkan, kenaikan bunga luar negeri membuat dana asing keluar (outflow), baik dari pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Karena itu, fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflow kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," terang Perry.

Langkah kedua, BI dan Pemerintah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang serta sektor perbankan. Upaya ini dilakukan melalui pengelolaan kas Pemerintah yang tetap ditempatkan di Bank Sentral, dengan peningkatan bunga yang dibayarkan BI kepada Pemerintah.

Penempatan dana Pemerintah di BI bertujuan memastikan operasi moneter dapat berjalan optimal. "Dengan demikian, operasi moneter tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, sementara operasi fiskalnya juga mendukung," ucap Perry.

Di kesempatan yang sama, Purbaya menegaskan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan terus memperkuat koordinasi dengan BI. Ia juga memastikan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam keadaan yang baik.

Baca juga : Tata Kelola MBG Diperbaiki, Anggaran Efektif & Efisien

Purbaya optimistis, sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter akan berbuah manis bagi perekonomian. Sinergi yang kuat juga dapat memberikan meningkatkan kepercayaan pasar terhadap rupiah.

"Kalau kebijakannya sudah menyatu, sinergi penuh, itu harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke nilai tukar rupiah. Rupiah akan meningkat secara signifikan, tidak akan melemah lagi," yakinnya.

Ia melanjutkan, stabilitas rupiah sangat penting karena berkaitan dengan harga barang di masyarakat. Dengan kebijakan yang lebih mesra, Purbaya berharap rupiah akan stabil, dan tekanan terhadap dunia usaha, khususnya pelaku usaha kecil, dapat berkurang. Dengan begitu, masyarakat bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan harga yang terjangkau.

"Jadi, sinkronisasi kebijakan ini amat baik untuk ekonomi kita di level makro maupun di level mikro ke depannya," kata Purbaya.

Prasetyo menambahkan, Pemerintah dan DPR secara intens membahas perkembangan ekonomi nasional. Rapat akhir pekan kemarin merupakan bagian dari upaya Pemerintah dalam memperkuat rupiah.

Baca juga : Dari Lapangan Hijau Ke Diplomasi

Ia melanjutkan, pelemahan rupiah dipengaruhi beberapa faktor yang saling berkaitan. Salah satunya adalah ketergantungan impor, yang dibayar menggunakan dolar AS untuk sarana pembayaran.

Sebab itu, Prasetyo mengajak seluruh pihak untuk bekerja sama dalam penguatan rupiah. Terlebih, tantangan ekonomi saat ini menuntut pemangku kebijakan untuk saling mendukung dan menguatkan. 

Ekonom senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin memuji upaya penguatan rupiah yang dilakukan DPR, Pemerintah, dan BI. Ia berharap, kolaborasi ini membawa sentimen positif terhadap pasar.

"Ini ide yang bagus, untuk mengirim pesan bahwa otoritas keuangan dan pemerintah solid. Walau bagi sebagian observer meninggalkan pertanyaan, mengapa pertemuannya justru di DPR. Ada kesan politisasi," ulas Wijayanto kepada Rakyat Merdeka, Minggu (7/6/2026).

Menurutnya, strategi yang dilakukan sudah baik. Langkah menaikkan imbal hasil terhadap SRBI dan SBN merupakan ide brilian yang menarik bagi investor.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.