Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Meski Dibayangi Tren Pelemahan Rupiah
Bos OJK: Stabilitas Sektor Keuangan Masih Terjaga
Selasa, 9 Juni 2026 06:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional tetap terjaga dengan baik, meskipun saat ini tengah dibayangi oleh peningkatan inflasi global, volatilitas pasar keuangan dan tren pelemahan nilai tukar rupiah.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah (Timteng) yang berlanjut, menyebabkan harga energi tetap tinggi dan meningkatkan tekanan inflasi global.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi suku bunga global yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama (higher for longer).
“Sehingga mendorong kenaikan yield obligasi Pemerintah di berbagai negara,” kata Friderica dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDK) OJK pada 26 Mei 2026 secara virtual, Jumat (5/6/2026).
Baca juga : Kebon Kosong Sudah Dua Kali Dilalap Api, Alarm Pencegahan Kudu Jadi Prioritas
Wanita yang akrab disapa Kiki menyebut, di tengah kondisi ini, perekonomian global masih menunjukkan ketahanan. Aktivitas manufaktur global masih berada di zona ekspansi, meskipun dengan laju yang termoderasi.
Di Amerika Serikat (AS), perekonomian relatif resilient dengan pasar tenaga kerja yang masih kuat, namun tekanan inflasi mulai mempengaruhi kepercayaan konsumen.
Sementara di China, momentum pertumbuhan ekonomi cenderung melemah, dengan permintaan domestik dan investasi yang masih tertekan, kendati kinerja ekspor relatif terjaga.
“Perkembangan tersebut meningkatkan ketidakpastian arah kebijakan moneter global, serta volatilitas pasar keuangan. Terutama aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia,” katanya.
Baca juga : Prancis, Misi Terakhir Sang Maestro
Dari dalam negeri, lanjut Kiki, masih terjadi pelemahan nilai tukar rupiah. Ditegaskannya, OJK tetap mewaspadai berbagai risiko yang dapat muncul apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut.
Namun OJK melihat, dampak langsung terhadap sektor jasa keuangan, khususnya di perbankan, saat ini masih relatif terkendali.
“Kondisi tersebut tercermin dari ketahanan permodalan perbankan yang masih kuat. Hingga April 2026, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) industri perbankan tercatat sebesar 23,97 persen,” tutur mantan bos Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) ini.
Indikator tersebut masih memberikan ruang penyangga yang cukup dalam menyerap berbagai potensi risiko.
Baca juga : Jalani Tiga Laga Uji Coba, Curacao Datang Dengan Bus Sekolah
Kiki menyatakan, selain permodalan yang kuat, pihaknya menilai eksposur langsung perbankan terhadap risiko nilai tukar masih terjaga.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya