Dark/Light Mode

Akademisi: Obligasi Global Danantara Laris Manis, Patahkan "Sell Indonesia"

Rabu, 17 Juni 2026 23:01 WIB
Foto: Danantara.
Foto: Danantara.

RM.id  Rakyat Merdeka - Keberhasilan Danantara Investment Management menerbitkan obligasi global (global bond) perdana senilai 1,5 miliar dolar AS mendapat respons positif dari kalangan akademisi.

Akademisi Universitas Esa Unggul, Iswadi menilai, tingginya minat investor global terhadap instrumen tersebut menjadi bukti bahwa kepercayaan pasar internasional terhadap Indonesia tetap kuat.

“Keberhasilan penerbitan obligasi global Danantara menunjukkan bahwa kepercayaan investor global terhadap Indonesia tetap kuat. Ini sekaligus membantah narasi ‘Sell Indonesia’. Yang terjadi justru sebaliknya, dunia sedang menunjukkan sikap ‘Buy Indonesia’,” ujar Iswadi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Danantara Investment Management, anak usaha sovereign wealth fund Danantara, berhasil menerbitkan obligasi global dalam dua tenor. Masing-masing sebesar 750 juta dolar AS untuk tenor lima tahun dengan yield 5,35 persen dan 750 juta dolar AS untuk tenor 10 tahun dengan yield 5,95 persen.

Penerbitan tersebut mendapat sambutan positif dari pasar internasional. Nilai order book tercatat mencapai 4,6 miliar dolar AS atau mengalami oversubscription lebih dari tiga kali lipat dibanding target awal sebesar 1 miliar dolar AS.

Tingginya minat investor bahkan mendorong penurunan yield final hingga 35 basis poin dari panduan awal. Kondisi ini diperkirakan mampu menghemat biaya bunga sekitar 5 juta dolar AS per tahun.

Baca juga : 3 Pemain Persita Dipanggil Timnas, Hokky Caraka Masuk Skuad Indonesia

Menurut Iswadi, capaian tersebut memiliki arti strategis karena mayoritas pembeli berasal dari investor institusi global yang dikenal menerapkan standar penilaian investasi yang sangat ketat.

Berdasarkan data alokasi investor, sebanyak 38 persen pembeli berasal dari Amerika Serikat yang terdiri atas fund manager, perusahaan asuransi, dan dana pensiun.

Investor dari kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA) mendominasi dengan porsi 41 persen, sementara investor Asia berkontribusi sebesar 21 persen.

Sebanyak 82 persen pembeli merupakan asset manager dan fund manager institusional yang umumnya berorientasi pada investasi jangka panjang.

“Investor institusi global tidak mengambil keputusan berdasarkan sentimen sesaat. Mereka melakukan due diligence yang mendalam. Ketika mereka berani menempatkan dana dalam jumlah besar pada instrumen Danantara, itu berarti mereka melihat prospek ekonomi Indonesia sangat menjanjikan,” kata Iswadi.

Ia menambahkan, premi yield obligasi Danantara yang hanya sekitar 10–20 basis poin di atas obligasi dolar pemerintah Indonesia menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan pasar terhadap kredibilitas lembaga tersebut.

Baca juga : PHE dan Mitra Global Jajaki Proyek CCS Lintas Batas Indonesia-Korsel

“Untuk ukuran institusi yang baru berdiri, premi yang sangat tipis ini mencerminkan keyakinan investor bahwa Danantara memiliki fondasi yang kuat dan didukung tata kelola yang kredibel. Ini merupakan pencapaian yang sangat baik,” ujarnya.

Iswadi menilai, keberhasilan penerbitan obligasi global tersebut berpotensi memberikan sejumlah dampak positif bagi perekonomian nasional.

Pertama, penerbitan obligasi ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia memiliki institusi investasi baru yang bankable dan mampu menarik modal global.

Kedua, masuknya dana sebesar 1,5 miliar dolar AS berpotensi memperkuat cadangan devisa sekaligus menjadi bantalan bagi stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global.

Selain itu, keberhasilan ini juga diyakini dapat mendorong partisipasi yang lebih luas dari sektor perbankan maupun investor swasta dalam pembiayaan proyek-proyek strategis nasional melalui skema co-investment.

“Obligasi Danantara yang mengalami oversubscription lebih dari tiga kali lipat dapat diibaratkan sebagai jas hujan di tengah ketidakpastian global. Dunia sedang memberikan vote of confidence kepada Indonesia dan melihat Danantara sebagai mesin investasi baru yang menjanjikan,” jelasnya.

Baca juga : BRI Hadirkan QRIS Alipay Dinamis, Gerbang Transaksi Global Merchant Indonesia

Meski demikian, Iswadi mengingatkan bahwa tantangan terbesar Danantara saat ini bukan lagi mengumpulkan dana, melainkan memastikan dana yang telah diperoleh dapat diubah menjadi investasi produktif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Ke depan, yang harus dibuktikan adalah bagaimana dana tersebut diubah menjadi infrastruktur yang produktif, seperti bendungan, pembangkit listrik tenaga surya, pusat data, rumah sakit, dan berbagai proyek strategis lainnya. Jika berhasil, maka dana 1,5 miliar dolar AS hari ini dapat menjadi katalis investasi yang jauh lebih besar pada masa mendatang,” tuturnya.

Menurut Iswadi, keberhasilan Danantara berpotensi menjadi tonggak penting dalam transformasi ekonomi Indonesia menuju salah satu tujuan investasi global yang semakin diperhitungkan.

“Jika momentum ini terus dijaga dengan tata kelola yang baik dan investasi yang produktif, Indonesia tidak hanya akan dikenal sebagai negara peminjam dana, tetapi sebagai negara yang menjadi tujuan utama investasi dunia,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.