Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
PGN-BRIN Sulap Lahan Salin Batang Jadi Sawah Dan Kolam Ikan
Sabtu, 20 Juni 2026 08:43 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Pemerintah Kabupaten Batang meluncurkan Program Minapadi Salin di kawasan Pantai Sicepit, Kelurahan Kasepuhan, Kabupaten Batang, sebagai upaya meningkatkan produktivitas lahan pesisir sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Program yang dijalankan melalui tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PGN tersebut mengintegrasikan budidaya padi biosalin, ikan nila salin, dan rumput laut untuk meningkatkan nilai ekonomi lahan yang terdampak salinitas serta mendorong kesejahteraan masyarakat pesisir.
Program Minapadi Salin merupakan pengembangan dari Program Padi Biosalin yang sebelumnya telah diterapkan di Mangunharjo, Semarang, dan Kabupaten Jepara.
Di Mangunharjo, luas lahan program berkembang dari 20 hektare menjadi lebih dari 115 hektare. Sementara di Jepara, realisasi panen mencapai 22 hektare dari target 20 hektare dengan nilai ekonomi sekitar Rp 1,23 miliar. Secara keseluruhan, Program Padi Biosalin telah menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp 7,66 miliar.
Peluncuran program di Batang dihadiri Bupati Batang M. Faiz Kurniawan, Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN Yopi, serta Deputi Bidang Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Pangan Dandy Satria Iswara.
Baca juga : Timnas Ghana Menang Dramatis atas Panama
Sebagai penanda dimulainya program, dilakukan pelepasan 10.000 benih ikan nila salin dan penanaman benih padi biosalin bersama para petani.
Program tersebut dilaksanakan di lahan seluas 32,26 hektare yang dikelola Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Barokah Mulyo, Kelompok Tani Intani, dan Kelompok Tani Dewi Sri VI.
Selain padi dan ikan nila salin, masyarakat juga membudidayakan rumput laut jenis Gracilaria verrucosayang memiliki nilai ekonomi tinggi dan mampu beradaptasi di perairan pesisir dengan tingkat salinitas tinggi.
Pada tahap awal, sekitar 30 kilogram bibit rumput laut ditebar. Panen perdana ditargetkan berlangsung sekitar tiga bulan setelah penanaman dengan potensi produktivitas mencapai lima kilogram hasil panen dari setiap satu kilogram bibit. Setelah itu, panen dapat dilakukan secara bertahap setiap tiga hingga empat pekan.
Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mengatakan program tersebut menjadi langkah strategis dalam mengoptimalkan lahan salin yang selama ini kurang produktif menjadi kawasan pertanian dan perikanan bernilai ekonomi.
Baca juga : Mentan Amran Targetkan Swasembada Bawang Putih Dalam 3 Tahun
“Kami mengapresiasi kolaborasi antara PGN, BRIN, dan berbagai pihak dalam menghadirkan Program Minapadi Salin di Kabupaten Batang. Program ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat pesisir melalui pemanfaatan lahan salin yang lebih produktif,” katanya.
Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN Yopi mengatakan Program Minapadi Salin menunjukkan hasil riset dapat diimplementasikan untuk menjawab tantangan pengelolaan lahan pesisir dengan tingkat salinitas tinggi.
“BRIN tidak ingin hasil riset hanya berhenti di laboratorium, tetapi harus hadir di tengah masyarakat dan menjadi solusi nyata bagi persoalan daerah,” ujarnya.
Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan sebagai Subholding Gas Pertamina, PGN tidak hanya berfokus pada penyediaan energi, tetapi juga berkomitmen menciptakan nilai tambah bagi masyarakat melalui program pemberdayaan yang berkelanjutan.
Menurut dia, integrasi budidaya padi biosalin, ikan nila salin, dan rumput laut diharapkan menjadi alternatif usaha yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Baca juga : Tahan Belanda, Mental Timnas Jepang Jadi Kebanggan
“Program Minapadi Salin merupakan wujud nyata komitmen tersebut dengan mengintegrasikan inovasi pertanian dan perikanan, termasuk pengembangan komoditas rumput laut, untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” kata Fajriyah.
Dengan dukungan teknologi pertanian hasil riset BRIN, program tersebut menargetkan produktivitas padi mencapai enam hingga tujuh ton per hektare. Sementara itu, ikan nila salin ditargetkan mencapai bobot rata-rata sekitar 300 gram per ekor saat panen.
Ke depan, program juga akan diperkuat melalui penanaman mangrove di kawasan pesisir sekitar lokasi budidaya sebagai upaya mengurangi abrasi pantai sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem.
Fajriyah mengatakan pendekatan terintegrasi antara pertanian, perikanan, dan pelestarian ekosistem pesisir diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara peningkatan produktivitas, penguatan ekonomi masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya