Dark/Light Mode

Ikan Banyak, Tapi Nelayan Masih Rugi: Pendingin Berenergi Surya Jadi Solusi

Rabu, 1 Juli 2026 16:41 WIB
Nelayan yang sedang melaut. (Foto: Dok. Pribadi)
Nelayan yang sedang melaut. (Foto: Dok. Pribadi)

Ikan banyak, tapi nelayan masih rugi. Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi ribuan nelayan Indonesia, itulah kenyataan yang mereka hadapi setiap hari.

Begitu ikan diangkat dari laut, waktu mulai menghitung mundur. Dalam hitungan jam, kualitasnya perlahan menurun. Semakin lama perjalanan menuju pelabuhan, semakin besar pula penurunan kesegaran. Akibatnya, harga jual yang semula tinggi bisa turun drastis hanya karena ikan tidak lagi dianggap segar.

Masalah ini banyak dialami nelayan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Wilayah yang berbatasan langsung dengan Selat Bali dan Samudra Hindia tersebut dikenal sebagai salah satu sentra perikanan nasional. Namun, untuk mendapatkan hasil tangkapan terbaik, nelayan kini harus melaut lebih jauh dan menghabiskan waktu lebih lama di laut. Perjalanan yang panjang membuat menjaga kualitas ikan menjadi tantangan tersendiri.

Selama ini, es menjadi andalan utama nelayan. Sayangnya, jumlah es yang dibawa sering kali terbatas. Ketika perjalanan melaut berlangsung lebih lama dari perkiraan, suhu penyimpanan mulai meningkat dan kualitas ikan pun ikut menurun. Bagi nelayan, kondisi ini bukan sekadar persoalan teknis. Ini adalah persoalan pendapatan.

Melihat permasalahan tersebut, muncul sebuah gagasan sederhana namun menarik: mengapa kapal nelayan tidak menghasilkan listrik sendiri untuk mendinginkan ikan? Ide inilah yang melahirkan sistem pendingin ikan bertenaga surya dengan single-axis solar tracker. Berbeda dengan panel surya biasa yang diam di satu posisi, sistem ini mampu mengikuti pergerakan matahari dari timur ke barat. Dengan sudut yang selalu optimal, energi yang dihasilkan menjadi lebih besar tanpa perlu menambah jumlah panel.

Energi tersebut kemudian digunakan untuk mengoperasikan sistem pendingin yang dipasang langsung di kapal. Dengan demikian, ikan dapat segera disimpan pada suhu rendah sesaat setelah ditangkap. Proses pendinginan tidak lagi bergantung pada pasokan es dari daratan maupun bahan bakar tambahan.

Hasil pengujian menunjukkan teknologi ini mampu menghasilkan energi lebih banyak dibandingkan panel surya statis. Peningkatan produksi energi mencapai sekitar 28 persen, sehingga kebutuhan listrik sistem pendingin dapat terpenuhi dengan baik. Bahkan, masih tersedia cadangan energi yang dapat dimanfaatkan untuk lampu navigasi, perangkat komunikasi, atau peralatan elektronik lainnya di atas kapal.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh teknologi, tetapi juga oleh hasil tangkapan. Dengan suhu penyimpanan yang stabil, ikan mampu mempertahankan kesegarannya selama 3 hingga 5 hari. Artinya, nelayan memiliki waktu yang lebih panjang untuk membawa hasil tangkapan ke pelabuhan tanpa harus khawatir kualitasnya menurun.

Lebih dari itu, teknologi ini membawa pesan yang lebih besar. Indonesia adalah negara tropis dengan paparan sinar matahari yang melimpah hampir sepanjang tahun. Potensi tersebut selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh sektor perikanan. Padahal, energi matahari dapat menjadi sumber daya yang murah, bersih, dan tersedia setiap hari.

Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dan tantangan perubahan iklim, inovasi seperti ini menunjukkan bahwa solusi tidak selalu harus rumit. Kadang, solusi hadir dari cara berpikir yang berbeda: memanfaatkan sinar matahari yang selama ini hanya menemani nelayan saat melaut, menjadi sumber energi untuk menjaga kualitas hasil tangkapan mereka.

Jika teknologi ini dapat diterapkan secara luas, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh nelayan. Konsumen akan memperoleh ikan yang lebih segar, limbah pangan akibat pembusukan dapat berkurang, dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil juga semakin kecil. Pada akhirnya, satu inovasi sederhana di atas kapal dapat memberikan dampak bagi rantai perikanan secara keseluruhan.

Mungkin, masa depan perikanan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak ikan yang berhasil ditangkap. Namun juga oleh seberapa baik kita menjaga kualitasnya sejak detik pertama ikan itu keluar dari laut.

Muhammad Hanif
Muhammad Hanif
Mahasiswa Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.