Dark/Light Mode

Pengamat: Diversifikasi Energi Kunci Mitigasi Risiko Blackout

Rabu, 1 Juli 2026 17:20 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengamat energi Feiral Rizky Batubara mengatakan, risiko pemadaman listrik berskala besar atau blackout perlu menjadi perhatian dalam upaya menjaga ketahanan sistem kelistrikan nasional.

Menurutnya, blackout dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari ketidakseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik, gangguan infrastruktur, hingga meningkatnya kompleksitas sistem energi seiring pertumbuhan konsumsi listrik.

Feiral menjelaskan, gangguan pada sistem kelistrikan tidak hanya berdampak pada aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi menekan sektor industri.

Pasokan listrik yang tidak stabil dapat menghambat proses produksi, meningkatkan biaya operasional, serta mengganggu rantai pasok.

Karena itu, ia menilai mitigasi risiko blackout harus dilakukan melalui penguatan sistem kelistrikan secara menyeluruh, termasuk diversifikasi sumber energi dan peningkatan kapasitas pembangkit yang mampu menyediakan pasokan listrik secara stabil.

“Menurut saya, panas bumi bisa menjadi salah satu opsi strategis untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional, terutama sebagai bagian dari antisipasi risiko blackout. Karakternya stabil, dapat beroperasi 24 jam, tidak bergantung pada cuaca, dan bisa berperan sebagai baseload dalam sistem kelistrikan,” kata Feiral saat diwawancarai melalui sambungan telepon, Selasa (30/6/2026).

Baca juga : Pengamat: Narasi Promosi Judol Di Medsos Bisa Manipulasi Opini Publik

Menurutnya, kemampuan panas bumi untuk beroperasi secara stabil sepanjang waktu menjadikannya salah satu sumber energi yang potensial dalam memperkuat keandalan pasokan listrik nasional di tengah meningkatnya kebutuhan energi.

“Antisipasi blackout harus dilihat sebagai agenda besar penguatan sistem. Dalam kerangka itu, panas bumi dapat menjadi salah satu pilar penting karena potensinya tersebar di banyak wilayah Indonesia,” ujarnya.

Feiral menjelaskan, potensi panas bumi yang tersebar di berbagai daerah memberikan peluang besar untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Namun, pengembangannya perlu berjalan beriringan dengan penguatan jaringan transmisi dan distribusi, peningkatan cadangan daya, pengembangan sistem penyimpanan energi seperti Battery Energy Storage System (BESS), penyediaan pembangkit cadangan, digitalisasi jaringan listrik, serta diversifikasi sumber energi lainnya.

Indonesia diketahui memiliki cadangan panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW) atau hampir 40 persen dari total cadangan dunia.

Potensi tersebut menjadikan panas bumi sebagai salah satu sumber energi domestik terbesar yang dimiliki Indonesia.

Baca juga : Menkop Tekankan Koperasi Beri Ruang Mahasiswa Berwirausaha

Dengan karakteristik yang stabil, andal, dan tersedia sepanjang waktu, panas bumi dinilai memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus menjaga keandalan sistem kelistrikan.

Meski demikian, pemanfaatan potensi tersebut masih relatif rendah. Dari total cadangan sekitar 24 GW, baru sekitar 2,7 GW atau sekitar 12 persen yang telah dimanfaatkan.

Artinya, masih terdapat ruang pengembangan yang cukup besar, termasuk untuk mengejar tambahan kapasitas sekitar 2,5 GW dalam 10 tahun ke depan.

Di sisi lain, target pengembangan panas bumi dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang mencapai 5,2 GW dinilai cukup ambisius, namun sejalan dengan arah transisi energi nasional.

Pengembangan kapasitas panas bumi secara bertahap diperlukan untuk memperkuat bauran energi sekaligus menjaga keandalan sistem kelistrikan.

Meski memiliki prospek besar, Feiral mengakui pengembangan panas bumi masih menghadapi sejumlah tantangan.

Baca juga : APKLI Perjuangan: MBG Dan Koperasi Merah Putih Harus Dilanjutkan

Beberapa di antaranya adalah kebutuhan investasi awal yang tinggi, persoalan tarif keekonomian, proses perizinan, hingga kesiapan infrastruktur jaringan kelistrikan.

Karena itu, ia menilai diperlukan dukungan kebijakan yang lebih kuat, mulai dari skema pembagian risiko eksplorasi, penyediaan pembiayaan jangka panjang, penyederhanaan perizinan, hingga sinkronisasi antara pengembangan pembangkit dan perencanaan jaringan kelistrikan nasional.

“Jika berbicara mitigasi blackout, panas bumi sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu opsi dalam portofolio ketahanan listrik nasional. Kuncinya bukan memilih satu teknologi saja, tetapi membangun sistem kelistrikan yang lebih tangguh, tersebar, fleksibel, dan memiliki cadangan yang memadai,” pungkas Feiral.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.