Dark/Light Mode

Pertamina Dan Boeing Jajaki Pengembangan Ekosistem SAF Di Indonesia

Kamis, 9 Juli 2026 08:35 WIB
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri (kelima kiri). (Foto: Pertamina)
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri (kelima kiri). (Foto: Pertamina)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Pertamina (Persero) dan Boeing menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk menjajaki pengembangan ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia. Kerja sama ini merupakan bagian dari upaya mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan sekaligus mempercepat transisi energi menuju target Net Zero Emission (NZE).

Sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, pemerintah terus mendorong pengembangan SAF sebagai salah satu solusi untuk menurunkan emisi karbon di sektor penerbangan dan mendukung terwujudnya industri aviasi yang lebih berkelanjutan.

Berdasarkan laporan ASEAN 2050 SAF Outlook, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu dari tiga negara dengan potensi surplus produksi SAF terbesar di kawasan ASEAN, yang diperkirakan mencapai 2,2 juta barel per hari pada 2050.

Baca juga : Peradi Profesional Gandeng 112 Kampus, Perkuat Ekosistem Pendidikan Hukum

Melalui kerja sama tersebut, Pertamina dan Boeing akan menjajaki berbagai aspek pengembangan ekosistem SAF di Indonesia, mulai dari identifikasi potensi bahan baku (feedstock), pengembangan teknologi, hingga dukungan terhadap penyusunan kebijakan yang diperlukan untuk mempercepat implementasi SAF.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri mengatakan kolaborasi tersebut bukan sekadar pengembangan bahan bakar alternatif, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem industri SAF nasional.

"Bagi Pertamina, kolaborasi ini bukan sekadar pengembangan bahan bakar, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem industri SAF nasional. Dengan potensi sumber daya domestik yang melimpah, kapabilitas pengolahan Pertamina, serta keahlian global Boeing di sektor aviasi, kami optimistis kolaborasi ini akan mempercepat pengembangan industri SAF yang berdaya saing, menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional, sekaligus mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan," ujar Simon.

Baca juga : KPK Dorong Penguatan Tata Kelola dan Budaya Antikorupsi di PT Pos Indonesia

Sementara itu, Boeing memperkirakan lalu lintas penumpang udara di Asia Tenggara akan tumbuh rata-rata 7 persen per tahun, dengan kebutuhan mencapai 4.885 pesawat baru hingga 2044.

Di tengah pertumbuhan tersebut, pemanfaatan SAF dinilai menjadi salah satu solusi utama untuk menekan emisi karbon sektor penerbangan. Dalam bentuk murni (neat SAF), bahan bakar ini berpotensi mengurangi jejak karbon penerbangan hingga 80 persen dibandingkan bahan bakar jet konvensional.

Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde, menilai Indonesia memiliki posisi strategis untuk memimpin pengembangan penerbangan berkelanjutan di Asia Tenggara.

Baca juga : Coway Perkenalkan Inovasi Terbaru Solusi Air & Udara Di IndoBuildTech 2026

"Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis untuk memimpin pengembangan penerbangan berkelanjutan di Asia Tenggara. Kami menyambut baik kolaborasi dengan Pertamina dalam berbagai inisiatif pengembangan SAF, mulai dari identifikasi potensi bahan baku hingga dukungan terhadap program edukasi dan pelatihan guna mempercepat pengembangan ekosistem SAF di Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung masa depan industri penerbangan Indonesia yang lebih berkelanjutan sekaligus memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional," kata Indra.

Sebagai bagian dari pengembangan ekosistem SAF nasional, Pertamina telah menjalankan berbagai inisiatif, antara lain memproduksi dan memperoleh sertifikasi Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF), mengimplementasikan penggunaannya bersama Pelita Air, serta mengembangkan proyek Cilacap Biorefinery melalui PT Pertamina Patra Niaga.

Proyek tersebut akan memproduksi SAF dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) berbahan baku Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah, serta berbagai bahan baku berkelanjutan berbasis limbah lainnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.