Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Resmi Jadi WNI, Mitchell Baker Siap Perkuat Timnas Indonesia
- Bersama Danantara, BRI Kontribusikan Pajak Terbesar Dukung Pembangunan Nasional
- 3 Pemimpin Dunia Berkunjung Dalam Sepekan, Qodari: Bukti RI Makin Dipercaya
- BPJS Ketenagakerjaan Bekali Ahli Waris Jadi Wirausaha Lewat Program PEKA
- PTPP Raih Proyek Pembangunan Tower 4 ITS Surabaya Senilai Rp 151,9 Miliar
Perkuat Ketahanan Pesisir
Freeport dan Kementerian Lingkungan Hidup Tanam 5 Juta Mangrove di NTB
Selasa, 14 Juli 2026 13:51 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendali Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas, Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal, dan masyarakat melakukan penanaman mangrove di Desa Labuan Alas, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kegiatan ini mendukung Program Mangrove Nasional sekaligus menandai rampungnya program PTFI dalam penanaman 1,5 juta bibit mangrove di area seluas 484 hektare di NTB.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Jumhur Hidayat mengatakan, rehabilitasi mangrove merupakan tanggung jawab bersama dan menyambut baik komitmen PTFI dalam mendukung program penanaman mangrove nasional.
Penanaman ini sejalan dengan program Kementerian Lingkungan Hidup dalam mendorong penanaman 2 miliar pohon, sebagai respons terhadap krisis lingkungan global.
"PTFI telah merehabilitasi hampir 500 hektare mangrove di NTB dan menargetkan rehabilitasi 12.000 hektare di seluruh Indonesia, terutama di Papua," kata Jumhur.
Menurutnya, mangrove memiliki peran penting dalam melindungi ekosistem pesisir, menyerap karbon, dan mendukung mata pencaharian masyarakat.
"Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat perlu terus diperkuat untuk mempercepat pemulihan lingkungan," papar Jumhur.
Baca juga : IATMI: B50 Perkuat Ketahanan Energi dan Dukung Target Net Zero Emission
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menjelaskan, total luasan area penanaman mangrove di NTB adalah 484 hektare (73 persen dari total yang dilakukan PTFI di luar area kerja PTFI di Papua). Dengan rincian 445 hektare di Kabupaten Sumbawa dan 39 hektare di Kabupaten Lombok Timur.
Penanaman dilakukan pada tahun 2025 dan tahun 2026 dengan total 1,5 juta bibit mangrove.
Program penanaman mangrove di NTB merupakan tindak lanjut dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan PTFI yang ditandatangani pada tahun 2023.
Program ini merupakan upaya PTFI mendukung restorasi mangrove nasional di luar wilayah operasional perusahaan (Papua) dengan target 2.000 hektare.
Penentuan lokasi penanaman mangrove dilakukan berdasarkan usulan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang kemudian diverifikasi oleh Universitas Gadjah Mada (UGM).
Saat ini, lokasi yang telah terverifikasi untuk pelaksanaan program rehabilitasi mangrove PTFI mencapai 834 hektare.
Pencapaian penanaman di luar Papua seluas 666 hektare dengan jumlah penanaman dua juta bibit mangrove. Lokasinya tersebar pada delapan provinsi yakni NTB, Bali, Kaltim, Kalsel, Bangka-Belitung, Riau Sumbar, Sumut. Ribuan masyarakat terlibat aktif dalam program penanaman mangrove ini.
Baca juga : Implementasi B50 Perkuat Ketahanan Energi, Tingkatkan Nilai Tambah Sawit
“Untuk Papua, khususnya di Kabupaten Mimika, PTFI telah menanam sekitar 5,5 juta bibit mangrove di area seluas lebih dari 2.184 hektare di Papua," kata Tony.
Tony menjelaskan, penanaman 1,5 juta bibit mangrove di NTB melibatkan sekitar 1.500 masyarakat lokal dalam berbagai tahapan kegiatan. Mulai dari pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan.
Selain mendukung keberhasilan rehabilitasi kawasan pesisir, keterlibatan tersebut menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian mangrove, serta pentingnya menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
Salah satu anggota Komunitas Mangrove Sumbawa, Muhammad Tisnaini mengapresiasi program penanaman mangrove yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir.
"Kami telah membina lima kelompok masyarakat yang kini mampu memproduksi bibit hingga melakukan penanaman secara mandiri," beber Tisnaini.
"Keberadaan mangrove juga membantu nelayan karena menjadi habitat berbagai jenis ikan, sehingga mereka tidak perlu melaut terlalu jauh untuk mendapatkan hasil tangkapan," lanjutnya.
Tisnaini berharap, jumlah masyarakat pesisir yang ikut menjaga dan merawat mangrove dapat terus bertambah. Agar manfaatnya bisa terus dirasakan oleh generasi mendatang.
Baca juga : Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UMJ Tanam 3.650 Pohon
Kegiatan penanaman mangrove di Labuhan Alas menjadi simbol keberlanjutan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam menjaga ekosistem mangrove sebagai pelindung alami pesisir, habitat keanekaragaman hayati, sekaligus penyerap karbon yang berperan penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
“PTFI berharap kolaborasi ini dapat terus memperkuat upaya rehabilitasi ekosistem pesisir serta menciptakan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi yang berkelanjutan bagi generasi mendatang,” tandas Tony.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya