Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
5 Tanda Lapar Mata Saat Belanja, Nomor 3 Paling Sering Terjadi
Selasa, 21 Juli 2026 06:28 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pernahkah Anda pergi ke minimarket hanya untuk membeli sabun dan pasta gigi, tetapi pulang dengan membawa camilan dan cokelat diskon? Fenomena ini secara teknis disebut pembelian impulsif, yaitu membeli barang secara spontan tanpa perencanaan matang, sering kali dipicu oleh emosi sesaat atau godaan promosi.
Maka dari itu, memahami tanda-tanda lapar mata dapat membantu Anda lebih waspada sebelum dompet terkuras. Salah satu langkah untuk mengontrol kebiasaan belanja adalah dengan menggunakan metode pembayaran yang aman dan praktis seperti seperti GoPay yang menawarkan fitur GoPay aman.
"Dompet digital ini dilengkapi fitur keamanan, dan Anda bahkan bisa memanfaatkan gratis top up GoPay di Indomaret, Alfamart, dan Alfamidi untuk mengisi saldo kapan saja tanpa biaya tambahan. Jadi, Anda bisa lebih fokus mengenali pola belanja impulsif," demikian keterangan GoPay yang diterima redaksi, Selasa (21/7/2026).
Berikut ini adalah tanda-tanda "lapar mata" dan cara mengatasinya:
1. Belanja Tanpa Daftar atau Sering Menyimpang dari Daftar
Baca juga : Investor Malaysia Bidik Rebana, Peluang Investasi Kian Terbuka
Salah satu ciri utama impulsive buying adalah pembelian yang dilakukan tanpa adanya rencana atau daftar belanja sebelumnya. Banyak orang datang ke supermarket dengan daftar belanja tertentu, tetapi pulang dengan jumlah barang yang jauh lebih banyak dari rencana awal. Jika Anda sering merasa bingung mengapa belanjaan menjadi sebanyak itu padahal hanya berniat membeli beberapa item, itu adalah tanda paling dasar dari lapar mata.
"Kebiasaan ini dapat dicegah dengan membuat daftar belanja sebelum pergi dan berkomitmen untuk mematuhinya. Dampaknya, Anda bisa lebih sadar terhadap setiap pembelian yang dilakukan," sambungnya keterangan tersebut.
2. Sering Mengembalikan Barang Setelah Dibeli
Kebiasaan sering melakukan pengembalian barang bisa menjadi tanda bahwa keputusan pembelian dibuat tanpa pertimbangan yang matang. Biasanya, kesadaran baru muncul setelah barang diterima, misalnya warnanya tidak sesuai, ukurannya salah, atau ternyata barang tersebut tidak terlalu dibutuhkan.
"Untuk menghindari hal ini, luangkan waktu sejenak sebelum memutuskan membeli, terutama untuk barang yang tidak direncanakan. Anda bisa mulai dengan bertanya kepada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau hanya keinginan sesaat," lanjut keterangan tersebut.
3. Belanja Saat Perut Kosong atau Dalam Kondisi Emosi Tidak Stabil
Baca juga : 5 Tanda Lingkungan Belajar yang Utamakan Inklusivitas
Kondisi fisik saat berbelanja sangat memengaruhi keputusan pembelian, dan berbelanja saat lapar adalah salah satu alasan utama orang berbelanja berlebihan. Secara biologis, kondisi lapar memaksa otak mencari pemuasan kebutuhan energi segera, sehingga logika perencanaan belanja tidak berfungsi efektif. Selain lapar, kondisi emosional seperti stres atau bosan juga sering menjadi pemicu, di mana belanja dijadikan pelarian sesaat untuk merasa lebih baik, meskipun efeknya hanya sementara.
"Mengenali pemicu ini penting agar Anda bisa menghindari belanja saat kondisi fisik atau emosi sedang tidak stabil. Maka dari itu, cobalah untuk makan terlebih dahulu atau cari aktivitas lain untuk mengalihkan perhatian sebelum berbelanja," lanjut keterangan tersebut.
4. Gampang Tergoda Diskon Meskipun Barang Tidak Dibutuhkan
Rasa takut menyesal jika tidak memanfaatkan promo sering menjadi alasan seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan. Penataan produk, pencahayaan toko, hingga label "diskon terbatas" memang sengaja dirancang untuk memengaruhi suasana hati dan meningkatkan keinginan membeli. Jika alasan utama Anda membeli barang adalah "sayang kalau tidak diambil, lagi diskon", padahal sebelumnya tidak terpikirkan untuk membelinya, itu adalah tanda klasik lapar mata.
Untuk mengatasinya, tanyakan pada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya karena tergoda diskon. Buatlah anggaran belanja yang jelas dan patuhi batas pengeluaran.
5. Merasa Puas Sesaat, Lalu Menyesal Begitu Barang Sampai
Baca juga : Hensa Harap Program Magang Nasional Berujung Peluang Kerja
Pembelian impulsif sering memberikan kepuasan instan saat transaksi berlangsung, tetapi rasa puas itu biasanya cepat menguap begitu barang diterima. Penyesalan muncul karena barang yang dibeli ternyata tidak benar-benar dibutuhkan atau bahkan sudah ada barang serupa di rumah. Pola "senang saat checkout, menyesal saat unboxing" yang berulang adalah sinyal kuat bahwa kebiasaan belanja Anda lebih didorong oleh emosi sesaat daripada kebutuhan sungguhan.
Transaksi dengan Mudah dengan GoPay
Langkah pertama mengatasi lapar mata adalah mengenali tanda-tandanya lebih dulu, baru kemudian mulai membatasi akses terhadap pemicu belanja. "Dengan menggunakan GoPay aman sebagai metode pembayaran utama, riwayat transaksi tercatat rapi di satu tempat," jelas keterangan GoPay.
Selain itu, fitur gratis top up GoPay memudahkan Anda mengisi saldo tanpa biaya tambahan, sehingga Anda bisa lebih fokus mengelola pengeluaran.
Mengenali tanda-tanda lapar mata memungkinkan Anda memiliki kendali lebih besar atas kebiasaan konsumsi Anda. "Anda bisa mulai dengan membuat daftar belanja, mengelola kondisi emosional sebelum berbelanja, serta memanfaatkan metode pembayaran yang transparan dan aman seperti GoPay," pungkas keterangan tersebut.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya