Dark/Light Mode

Kembangkan Biohidrogen, PLN EPI Optimalkan 60 Juta Ton Biomassa

Jumat, 24 Juli 2026 19:26 WIB
Kiri ke Kanan : Moderator  Firman Bagja Juangsa (ITB),  EXCO Member Hydrogen and Fuel Cell Association of Singapore (HFCAS) Abdul Razaak Syed Mubarak, Senior Project Manager Sustainability & Clean Ammonia PT Pupuk Indonesia (Persero) Erlangga Rismantojo, Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia Hokkop Situngkir, dan Direktur Pengawasan Norma Ketenagakerjaan serta Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Kementerian Ketenagakerjaan RI Muhamad Idham dalam Hydrogen Conference Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026
Kiri ke Kanan : Moderator Firman Bagja Juangsa (ITB), EXCO Member Hydrogen and Fuel Cell Association of Singapore (HFCAS) Abdul Razaak Syed Mubarak, Senior Project Manager Sustainability & Clean Ammonia PT Pupuk Indonesia (Persero) Erlangga Rismantojo, Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia Hokkop Situngkir, dan Direktur Pengawasan Norma Ketenagakerjaan serta Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Kementerian Ketenagakerjaan RI Muhamad Idham dalam Hydrogen Conference Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026

RM.id  Rakyat Merdeka - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mempercepat pengembangan ekosistem biohidrogen berbasis biomassa sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional.

Perusahaan menargetkan optimalisasi sekitar 60 juta ton biomassa yang belum termanfaatkan untuk mendukung pengembangan hidrogen rendah karbon dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Komitmen tersebut disampaikan Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir dalam sesi konferensi bertema Low Carbon Hydrogen & Ammonia Distribution pada Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Rabu (22/7).

Menurut Hokkop, Indonesia memiliki potensi biomassa sekitar 80 juta ton per tahun. Namun, baru sekitar 20 juta ton yang dimanfaatkan sehingga masih tersedia sekitar 60 juta ton yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk energi rendah karbon.

"PLN EPI bertugas memastikan seluruh molekul energi yang dibutuhkan pembangkit tersedia. Ke depan kami tidak hanya berbicara energi fosil, tetapi juga biomassa, bioenergi, hidrogen, dan amonia sebagai bagian dari transisi energi nasional," ujar Hokkop.

Baca juga : Dukung Pengembangan Hidrogen, Jamaluddin Malik: Teknologi dan SDM Jadi Kunci

Ia mengatakan, biomassa tidak hanya dimanfaatkan untuk program co-firing pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), tetapi juga dapat menjadi bahan baku biohidrogen, biochar, biogas, biomethane, serta berbagai produk bioenergi bernilai tambah.

"Peluang pengembangan bioenergi masih sangat besar. Biomassa tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk program co-firing PLTU, tetapi juga menjadi bahan baku biohidrogen, biochar, biogas, biomethane, hingga berbagai produk bioenergi bernilai tambah lainnya," jelas Hokkop.

Selain biomassa padat, PLN EPI juga melihat potensi limbah Palm Oil Mill Effluent (POME) dari sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit di Indonesia sebagai sumber bahan baku pengembangan biogas dan biohidrogen.

Potensi tersebut dinilai mampu memperkuat diversifikasi energi sekaligus meningkatkan nilai tambah limbah pertanian dan perkebunan.

Sejak 2022, PLN EPI membangun ekosistem biomassa melalui kemitraan dengan pemerintah daerah, kelompok tani, koperasi, badan usaha milik desa (BUMDes), dan pelaku usaha swasta.

Baca juga : PTPN I Kembangkan Bioetanol untuk Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Biomassa yang dikumpulkan diolah sebelum dimanfaatkan sebagai bahan bakar co-firing PLTU. Perusahaan juga mengembangkan Compressed Biogas (CBG), biochar, serta berbagai inisiatif waste-to-energy.

Dalam peta jalan pengembangan bioenergi, PLN EPI menempatkan hidrogen dan amonia sebagai salah satu pilar bisnis masa depan.

Pada periode 2026–2030, perusahaan akan memfokuskan pengembangan melalui studi kelayakan, proyek percontohan, hingga uji coba pemanfaatan hidrogen dan amonia pada pembangkit listrik sebelum memasuki tahap komersialisasi.

Hokkop menegaskan pengembangan biohidrogen membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar potensi biomassa nasional dapat dimanfaatkan secara optimal.

"Kami telah menyiapkan roadmap serta membangun kemitraan dengan berbagai penyedia teknologi. Tantangan berikutnya adalah membangun ekosistem yang kuat melalui kolaborasi agar potensi biomassa Indonesia dapat dioptimalkan menjadi fondasi industri hidrogen rendah karbon di masa depan," ujarnya.

Baca juga : PSP Aset ke Kejaksaan, KPK Optimalkan Pemanfaatan Barang Rampasan Rp 226 Miliar

Sebagai bagian dari strategi tersebut, PLN EPI telah menggandeng lebih dari 16 mitra strategis dalam pengembangan rantai pasok bioenergi, termasuk biomassa, biohidrogen, electro-Sustainable Aviation Fuel (eSAF), dan green ammonia.

Dalam jangka panjang, perusahaan menargetkan ekosistem hidrogen dan amonia tidak hanya mendukung kebutuhan pembangkit listrik, tetapi juga mendorong dekarbonisasi sektor industri seperti semen, baja, dan petrokimia serta membuka peluang pasar hidrogen rendah karbon di kawasan regional.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.