Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
CILT: Blue Economy Kunci Perkuat Daya Saing Logistik Nasional
Rabu, 5 Agustus 2026 13:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - The Chartered Institute of Logistics and Transport (CILT) Indonesia menilai paradigma blue economy menjadi salah satu strategi penting untuk memperkuat daya saing logistik nasional sekaligus mengoptimalkan potensi Indonesia sebagai negara maritim.
Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi rantai pasok, menarik investasi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dewan Penasihat CILT Indonesia sekaligus Senior Vice President FIATA, Yukki Nugrahawan Hanafi, mengatakan Indonesia memiliki modal geografis yang sangat besar sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan garis pantai terpanjang kedua di dunia.
"Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia memiliki keunggulan geografis yang menjadi modal penting dalam membangun ekosistem logistik dan perdagangan yang kompetitif. Potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui pembangunan yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan," ujar Yukki, Rabu (5/8/2026).
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Perkuat Daya Saing 66 Ribu UMKM Lewat Storytelling
Menurutnya, blue economy harus dipandang sebagai strategi jangka panjang dalam mentransformasi sektor logistik dan maritim Indonesia, bukan semata-mata sebagai upaya pelestarian lingkungan laut.
"Blue economy bukan sekadar berbicara mengenai pelestarian lingkungan laut, tetapi merupakan strategi untuk membangun sistem logistik dan rantai pasok yang lebih efisien, tangguh, serta berkelanjutan. Ketika pembangunan pelabuhan, konektivitas, digitalisasi, dan pengelolaan kawasan pesisir berjalan secara terintegrasi, Indonesia akan memiliki fondasi yang jauh lebih kuat untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional," jelasnya.
Mengacu pada data Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), ekonomi berbasis kelautan (blue economy) berkontribusi sekitar US$1,5 triliun terhadap perekonomian global setiap tahun dan diproyeksikan terus meningkat seiring berkembangnya industri maritim, logistik, energi, serta jasa berbasis kelautan.
Sementara itu, Bank Dunia menilai penerapan prinsip blue economy menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya laut.
Baca juga : Seminar Bahas Komunikasi Strategis Industri Pelabuhan
Di Indonesia, sektor transportasi dan rantai pasok terus menunjukkan peran strategis terhadap pertumbuhan ekonomi. Peningkatan investasi pada infrastruktur pelabuhan, konektivitas antarpulau, digitalisasi logistik, serta pengembangan kawasan industri berbasis maritim dinilai menjadi fondasi penting dalam memperkuat integrasi rantai pasok nasional dan meningkatkan daya saing di pasar global.
Yukki menilai, dinamika ekonomi global saat ini semakin dipengaruhi oleh disrupsi rantai pasok, perubahan iklim, ketegangan geopolitik, hingga meningkatnya tuntutan terhadap praktik bisnis berkelanjutan.
Kondisi tersebut mengubah pertimbangan investor dan perusahaan multinasional dalam menentukan lokasi investasi maupun jaringan distribusi global.
"Perusahaan global kini semakin memperhatikan aspek keberlanjutan dalam setiap keputusan investasi. Infrastruktur yang modern, proses logistik yang efisien, kepastian regulasi, serta komitmen terhadap pengurangan emisi menjadi bagian penting dalam membangun rantai pasok global. Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadikan keunggulan maritim tersebut sebagai nilai tambah dalam menarik investasi," tegasnya.
Baca juga : Pemerintah Dukung Pembentukan Ekosistem Sistem Logistik Nasional Bebas Emisi
Ia menjelaskan, implementasi blue economy akan membuka berbagai peluang ekonomi baru, mulai dari pengembangan teknologi maritim, transportasi laut ramah lingkungan, pelabuhan hijau (green ports), energi terbarukan berbasis kelautan, hingga penguatan ekonomi masyarakat pesisir.
Transformasi tersebut juga diyakini mampu meningkatkan efisiensi logistik nasional melalui integrasi antarmoda, pemanfaatan teknologi digital, serta optimalisasi jaringan distribusi domestik yang selama ini masih menghadapi tantangan tingginya biaya logistik akibat kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.
Menurut Yukki, pembangunan sektor maritim harus diarahkan untuk menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
"Indonesia memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi kekuatan maritim dunia. Yang dibutuhkan sekarang adalah kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, pelaku usaha, asosiasi, akademisi, dan masyarakat dalam membangun ekosistem logistik dan maritim yang berkelanjutan. Blue economy harus menjadi fondasi pembangunan agar pertumbuhan ekonomi lebih berkelanjutan dan berkualitas, serta tetap memberikan manfaat bagi generasi mendatang," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya