Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Sepakbola Korsel Sarang Nepotisme
- Susul Jannik Sinner, Zverev Kantongi Tiket ATP Finals
- War Ticket Upacara HUT Ke-81 RI di Istana Merdeka Diperpanjang 8-9 Agustus
- Borneo FC Makin Kompak, Juan Villa Beberkan Rahasia Persiapan Tim
- Antar Persebaya Juara Piala Presiden, Reza Arya Fokus Bidik Super League
Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, Dunia Usaha Soroti Ketahanan Rantai Pasok
Jumat, 7 Agustus 2026 18:23 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 Persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II/2026. Capaian ini dinilai menunjukkan konsumsi domestik dan ketahanan rantai pasok nasional masih solid, meski perekonomian menghadapi tekanan geopolitik serta pelemahan permintaan ekspor.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II/2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,12 persen. Dengan demikian, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen sepanjang semester I/2026.
Ketua Dewan Pembina DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) yang juga menjabat Senior Vice President FIATA Yukki Nugrahawan Hanafi menilai, capaian tersebut patut diapresiasi karena terjadi pada kuartal yang secara struktural menghadapi sejumlah tekanan.
"Kuartal II ini tekanan terhadap ekonomi nasional berasal dari dua hal sekaligus, yaitu pertama hilangnya efek musiman Ramadan dan Idulfitri yang mendorong pertumbuhan kuartal I ke 5,61 persen, dan yang kedua mulai terasanya dampak tekanan geopolitik yang menekan permintaan ekspor. Pertumbuhan kuartal II yang mencapai 5,29 persen menjadi indikasi bahwa fondasi permintaan domestik dan ketahanan rantai pasok kita jauh lebih solid daripada yang diperkirakan pasar," ujar Yukki.
Menurut Yukki, konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi kuartal II/2026 dengan kontribusi 53,32 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Hal ini menunjukkan permintaan domestik masih memiliki daya tahan di tengah berbagai tekanan eksternal. Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor mencatatkan pertumbuhan positif.
Baca juga : Tumbuh 5,29 Persen, Ekonomi Di Jalan Yang Benar
Industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan andil 0,90 poin persentase, disusul perdagangan sebesar 0,83 poin persentase, konstruksi 0,62 poin persentase, serta informasi dan komunikasi 0,48 poin persentase. Kelima lapangan usaha terbesar tersebut mencakup sekitar 63,73 persen dari total PDB.
Meski demikian, Yukki mengingatkan masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah pada semester II/2026. Pertama, pemerintah dan dunia usaha perlu mengakselerasi kinerja perdagangan luar negeri.
Indonesia tercatat mengalami defisit neraca perdagangan pada Mei dan Juni 2026 setelah 72 bulan berturut-turut mencatat surplus.
Kedua, tekanan terhadap nilai tukar perlu mendapat perhatian karena berdampak langsung terhadap struktur biaya pelaku usaha.
Selain itu, perhatian perlu kembali diarahkan pada percepatan industrialisasi dan penguatan sektor manufaktur bernilai tambah.
Menurut Yukki, pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya bertumpu pada konsumsi, tetapi juga perlu ditopang peningkatan produktivitas, investasi, ekspor, serta penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
Baca juga : Airlangga Ajak Pengusaha Jaga Ketahanan Ekonomi
Langkah tersebut dinilai penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkualitas sekaligus memperkuat fondasi transformasi struktural Indonesia menuju 2045 sebagai negara maju.
“Catatan ini perlu mendapat perhatian karena memiliki implikasi langsung terhadap daya gedor pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkualitas. Penguatan perdagangan luar negeri diperlukan untuk menjaga sumber devisa dan memperkuat fundamental eksternal, sementara stabilitas nilai tukar penting untuk menjaga kepastian biaya bagi dunia usaha, ditambah dengan akselerasi industrialisasi yang secara struktural penting dalam transformasi ekonomi nasional,” ujar Yukki.
Dari sektor logistik dan rantai pasok, Yukki menggarisbawahi pemulihan aktivitas industri manufaktur pada awal kuartal III/2026.
Kondisi tersebut dinilai menjadi momentum untuk memperkuat prospek keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia naik menjadi 50,2 pada Juli 2026 dari 46,9 pada Juni 2026.
Angka tersebut sekaligus membawa sektor manufaktur kembali ke zona ekspansi setelah empat bulan berada dalam tekanan. Indeks output juga meningkat signifikan dari 44,4 menjadi 50,4.
"PMI yang kembali ekspansif adalah leading indicator bagi dunia usaha. Volume produksi yang naik diharapkan juga akan berdampak menjadi volume kargo dalam empat hingga delapan pekan ke depan. Ini yang harus dijaga," tegas Yukki.
Baca juga : Manufaktur Tumbuh 5,32 persen, Kemenperin Sebut SBIN Percepat Industrialisasi
Di tengah kondisi tersebut, Yukki juga mengingatkan pentingnya kembali menggenjot ekspor agar pertumbuhan ekonomi 2026 dapat meningkat mendekati target pemerintah sebesar 5,4-6 persen.
Ia mendorong tiga prioritas kebijakan pada semester II/2026. Pertama, mempercepat digitalisasi National Logistics Ecosystem (NLE) agar sektor logistik semakin efisien.
Kedua, melakukan diversifikasi pasar ekspor melalui pemanfaatan jaringan multilateral dan perjanjian dagang yang telah aktif.
Ketiga, memperkuat konektivitas pelabuhan dan kawasan industri, termasuk mengoptimalkan Pelabuhan Patimban dan simpul-simpul logistik di luar Jawa.
"Agar pertumbuhan ekonomi tahun 2026 mendekati target pertumbuhan pemerintah 5,4-6 persen, perlu katalis yang positif, baik dari belanja pemerintah tepat sasaran, investasi produktif dipercepat, dan daya beli domestik tetap terjaga," tutup Yukki.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya