Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Resmi Pimpin BPMA, Ini Tiga Agenda Besar Mawardi Nur Genjot Migas Aceh
Senin, 10 Agustus 2026 22:39 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Mawardi Nur resmi memimpin Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) setelah menerima tongkat estafet kepemimpinan dari Nasri Djalal dalam acara serah terima jabatan di Kantor BPMA, Banda Aceh, Senin (10/8/2026).
Pergantian tersebut menjadi penanda dimulainya babak baru pengelolaan sektor hulu minyak dan gas bumi di Aceh. Di bawah kepemimpinan Mawardi, BPMA diarahkan untuk memperkuat kinerja, mempercepat pengambilan keputusan, serta memastikan pengelolaan migas memberikan manfaat yang lebih luas bagi Aceh dan negara.
“Mulai hari ini, tidak ada lagi kelompok, tidak ada lagi sekat, dan tidak ada lagi kepentingan pribadi maupun golongan dalam BPMA. Yang ada adalah satu tujuan,” tegas Mawardi dalam sambutannya.
Ia menegaskan, loyalitas seluruh jajaran BPMA harus diarahkan kepada institusi, amanah negara, dan kepentingan masyarakat Aceh. Mawardi juga menyampaikan penghargaan kepada Nasri Djalal beserta seluruh jajaran atas pengabdian dan capaian yang telah dibangun selama kepemimpinan sebelumnya.
Menurut Mawardi, fondasi yang sudah terbentuk tidak akan ditinggalkan. Sebaliknya, fondasi tersebut akan menjadi pijakan untuk memperkuat dan menyempurnakan tata kelola BPMA di tengah tantangan industri hulu migas yang semakin dinamis.
Baca juga : Gas Sales Pertamina EP Limau Cetak Rekor, Tembus 3,1 MMSCFD
Mawardi juga meminta seluruh insan BPMA mengubah budaya kerja agar lebih produktif, kolaboratif, disiplin, dan adaptif. Ia ingin lembaga tersebut bergerak lebih cepat dan tidak terjebak dalam pola kerja yang lamban serta tidak berorientasi pada hasil.
Profesionalisme, integritas, kompetensi, dan semangat memberikan pelayanan terbaik, kata dia, harus menjadi bagian dari keseharian seluruh pegawai BPMA.
Dalam kepemimpinan baru tersebut, BPMA menempatkan tiga agenda strategis sebagai prioritas. Salah satunya adalah meningkatkan lifting minyak dan gas bumi melalui optimalisasi lapangan eksisting, percepatan pengembangan lapangan baru, penggunaan teknologi yang lebih efektif, serta penguatan sinergi dengan seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
Peningkatan lifting dinilai penting bukan hanya untuk menjaga ketahanan energi, tetapi juga memperkuat penerimaan negara dari sektor migas.
Agenda berikutnya adalah mengoptimalkan penerimaan negara dan daerah. BPMA akan mendorong pengembangan ekosistem sumur tua dan sumur masyarakat sesuai dengan Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025.
Baca juga : Mawardi Nur Siap Tingkatkan Lifting Migas dan Hadirkan Manfaat Nyata bagi Aceh
Pengembangan tersebut akan tetap memperhatikan legalitas, keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, produktivitas, serta kepastian hukum. Dengan pendekatan tersebut, aktivitas sumur tua dan sumur masyarakat diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi tanpa mengabaikan aspek tata kelola.
BPMA juga akan memperkuat keterlibatan kontraktor lokal dan sumber daya manusia Aceh. Pelaku usaha lokal dinilai perlu mendapat ruang yang lebih besar untuk terlibat dalam rantai industri hulu migas, sementara kapasitas tenaga kerja Aceh terus ditingkatkan agar mampu bersaing secara profesional dan berkelanjutan.
Di sisi investasi, Mawardi memastikan BPMA membuka ruang bagi kerja sama yang sehat. Lembaga tersebut, menurut dia, siap menjadi mitra bagi KKKS, investor, kontraktor nasional maupun lokal, akademisi, serta dunia usaha.
“Kita ingin mengirimkan pesan yang jelas bahwa Aceh adalah wilayah yang layak, aman, dan menarik untuk berinvestasi di sektor hulu migas,” ujarnya.
Untuk mendukung iklim investasi tersebut, BPMA akan mengedepankan profesionalisme, responsivitas, transparansi, dan kepastian dalam proses bisnis. Seluruh bentuk kerja sama tetap harus berjalan sesuai regulasi dan prinsip tata kelola yang baik.
Baca juga : Sukses Pimpin PEMA, Mawardi Nur Kini Dilantik Menteri Bahlil Jadi Kepala BPMA
Di internal lembaga, Mawardi juga memberikan perhatian serius terhadap disiplin dan integritas. Ia menegaskan tidak akan memberikan toleransi terhadap penyalahgunaan kewenangan, pelanggaran disiplin, konflik kepentingan, maupun tindakan lain yang dapat merusak integritas BPMA.
Setiap pelanggaran akan diproses secara profesional dan objektif sesuai ketentuan yang berlaku. Sebaliknya, pegawai yang menunjukkan kinerja dan prestasi akan mendapat apresiasi serta peluang untuk mengembangkan karier.
Serah terima jabatan tersebut sekaligus menjadi awal bagi kepemimpinan Mawardi Nur untuk membawa BPMA memasuki fase baru. Penguatan kelembagaan, peningkatan kinerja hulu migas, perluasan investasi, serta optimalisasi manfaat sumber daya migas menjadi pekerjaan besar yang menanti.
Dengan agenda tersebut, BPMA diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan produksi dan penerimaan dari sektor migas, tetapi juga memperbesar keterlibatan masyarakat, pelaku usaha, dan sumber daya manusia Aceh dalam industri strategis tersebut.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya