Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Marc Klok Cs Pastikan Persib Siap Tempur Lawan Manila Digger
- Lautaro Martinez Tak Dijual, Barcelona Gigit Jari
- Guru Besar UGM: Penanganan Karhutla Jangan Hanya Hebat Saat Api Sudah Menyala
- Kepala Buperta Buktikan Mampu Jadi Tuan Rumah Perhelatan Pramuka Skala Nasional
- KPK: Calon Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsoed Dimintai Ratusan Juta Rupiah
Ekonomi RI Tahan Banting di Tengah Tekanan Global, Ini Penjelasan Pakar ITB
Kamis, 20 Agustus 2026 08:53 WIB
Sebelumnya
Dzikri menegaskan, salah satu faktor penting yang menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga pada kuartal II 2026 tumbuh 5,06 persen yoy.
Meski melambat dibanding 5,52 persen pada kuartal sebelumnya, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama karena memiliki porsi besar dalam struktur perekonomian Indonesia.
"Secara agregat, rumah tangga masih mampu mempertahankan aktivitas konsumsinya," ujar Dzikri.
Inflasi pada Juni 2026 tercatat 3,34 persen yoy dan masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5±1 persen. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap daya beli belum berkembang menjadi gejolak inflasi yang cukup besar, untuk menekan konsumsi secara luas.
Selain konsumsi, keberlanjutan aktivitas ekonomi juga didukung oleh sistem perbankan yang tetap menyalurkan pembiayaan. Pada Juni 2026, kredit perbankan tumbuh 12,67 persen yoy. Kredit investasi tumbuh 24,90 persen, kredit modal kerja 8,94 persen, dan kredit konsumsi 5,75 persen.
Baca juga : Perlinsos Rp 500 T Ditebar, Pengusaha Siap Kolaborasi
Survei Perbankan Bank Indonesia juga menunjukkan Saldo Bersih Tertimbang penyaluran kredit baru meningkat menjadi 93,08 persen pada kuartal II, dari 38,74 persen pada kuartal I 2026.
Menurut Dzikri, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa fungsi intermediasi perbankan masih berjalan. Perusahaan tetap memiliki akses terhadap pembiayaan untuk modal kerja dan investasi, sementara rumah tangga juga masih memperoleh akses kredit.
“Selama fungsi intermediasi perbankan berjalan, volatilitas pasar modal tidak serta-merta menghentikan produksi, investasi, dan konsumsi,” cetusnya.
Belanja Pemerintah Jaga Momentum
Dzikri memaparkan, belanja pemerintah juga menjadi salah satu faktor yang memberikan dukungan terhadap aktivitas ekonomi. Konsumsi pemerintah tumbuh sekitar 15,97 persen yoy pada kuartal II 2026, meski lebih rendah dibanding pertumbuhan 21,81 persen pada kuartal I.
Pertumbuhan tersebut didukung oleh realisasi program prioritas, percepatan belanja, pembayaran gaji ke-13 bagi ASN, serta bantuan sosial. Konsumsi masyarakat juga memperoleh dukungan melalui bantuan pangan dan stimulus transportasi.
Baca juga : Jaga Optimisme di Tengah Gejolak Ekonomi Dunia
"Belanja pemerintah tidak hanya memberikan kontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dapat menciptakan pendapatan bagi rumah tangga dan perusahaan," ujar Dzikri.
"Pendapatan tersebut berpotensi kembali mendorong konsumsi dan aktivitas produksi," imbuhnya.
Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 dapat dipahami sebagai pertumbuhan yang terutama ditopang oleh permintaan domestik, disertai dukungan kebijakan fiskal yang cukup kuat.
Investasi Harus Terus Diperkuat
Dari sisi investasi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,87 persen pada kuartal II 2026 dan menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi.
Namun, Dzikri mengingatkan pertumbuhan investasi tidak selalu identik dengan meningkatnya kepercayaan investor swasta.
Baca juga : Pertumbuhan 6% Bukan Mission Impossible
Berdasarkan catatan Bank Indonesia, pertumbuhan investasi terutama didukung oleh investasi bangunan yang berkaitan dengan Program Kerja Prioritas Nasional, sementara investasi swasta masih perlu diperkuat.
Hal ini juga berkaitan dengan karakter investasi, yang umumnya memiliki siklus pelaksanaan cukup panjang. Proyek yang telah memasuki tahap konstruksi atau pengadaan, tidak serta-merta dihentikan hanya karena terjadi perubahan sentimen pasar dalam waktu singkat.
“Karena itu, ketahanan investasi tidak selalu berarti ketahanan kepercayaan investor swasta,” terang Dzikri.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya