Dark/Light Mode

Ekonomi RI Tahan Banting di Tengah Tekanan Global, Ini Penjelasan Pakar ITB

Kamis, 20 Agustus 2026 08:53 WIB
Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB), Dzikri Firmansyah Hakam (Foto: dok. ITB)
Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB), Dzikri Firmansyah Hakam (Foto: dok. ITB)

 Sebelumnya 
Dinamika sektor eksternal juga menjadi bagian penting dalam melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada Mei 2026, ekspor Indonesia tercatat sebesar 23,20 miliar dolar AS, sedangkan impor mencapai 24,81 miliar dolar AS. Sehingga, terjadi defisit sekitar 1,61 miliar dolar AS.

Namun, secara kumulatif Januari–Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus 4,03 miliar dolar AS. Pada periode tersebut, impor tumbuh 15,24 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekspor yang mencapai 3,02 persen.

Dzikri berpendapat, peningkatan impor tidak selalu menunjukkan pelemahan ekonomi. Impor juga dapat mencerminkan meningkatnya kebutuhan bahan baku, barang antara, energi, mesin, dan barang modal untuk mendukung produksi serta investasi di dalam negeri.

Dengan begitu, sektor eksternal belum menjadi sumber utama ketahanan pertumbuhan pada kuartal II. Tetapi, tekanannya juga belum cukup besar untuk mengimbangi kekuatan permintaan domestik.

Resiliensi Ekonomi Jangka Panjang

Baca juga : Perlinsos Rp 500 T Ditebar, Pengusaha Siap Kolaborasi

Secara keseluruhan, Dzikri menilai pertumbuhan 5,29 persen menunjukkan perekonomian Indonesia memiliki sejumlah bantalan yang mampu menjaga aktivitas ekonomi di tengah tekanan eksternal.

Permintaan domestik masih bertahan, kredit perbankan tetap ekspansif, kebijakan fiskal memberikan dukungan, sejumlah proyek investasi terus berjalan, dan cadangan devisa juga masih relatif kuat.

Pada akhir Juni 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sekitar 145,6 miliar dolar AS atau setara sekitar 5,5 bulan impor.

"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, perekonomian Indonesia masih memiliki kemampuan untuk menyerap berbagai tekanan yang berasal dari pasar keuangan maupun lingkungan ekonomi global," beber Dzikri.

Baca juga : Jaga Optimisme di Tengah Gejolak Ekonomi Dunia

Meski begitu, lanjutnya, ketahanan tersebut tetap perlu diikuti dengan upaya menjaga kepercayaan, memperkuat iklim investasi, serta memastikan agar tekanan di pasar keuangan tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih besar terhadap sektor riil.

“Pertumbuhan 5,29 persen merupakan bukti bahwa ekonomi Indonesia memiliki kapasitas menyerap tekanan dalam jangka pendek," tegas Dzikri.

"Tantangannya adalah bagaimana menjaga kapasitas tersebut, agar dapat mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan,” pungkasnya.

 

Baca juga : Pertumbuhan 6% Bukan Mission Impossible

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.