Dark/Light Mode

Meski Geopolitik Masih Bergejolak

Sektor Keuangan RI Stabil, Kredit Bank Tumbuh 2 Digit

Rabu, 9 September 2026 06:40 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam jumpa pers hasil Rapat Dewan Komisioner OJK secara virtual di Jakarta, Senin (7/9/2026).  (Foto: YouTube/OJK)
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam jumpa pers hasil Rapat Dewan Komisioner OJK secara virtual di Jakarta, Senin (7/9/2026). (Foto: YouTube/OJK)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sektor jasa keuangan nasional tetap stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi global. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, kredit perbankan pada Juli 2026 tumbuh 13,58 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 9.135 triliun.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, stabilitas sektor keuangan didukung kondisi ekonomi domestik yang masih kuat.

Ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 tumbuh 5,29 persen yoy, meski melambat dibandingkan triwulan I-2026 yang tumbuh 5,61 persen. Pertumbuhan tersebut didukung investasi dan belanja Pemerintah, serta konsumsi rumah tangga yang tetap kuat.

“Konsumsi rumah tangga yang kuat juga masih menjadi penopang utama pertumbuhan,” kata Friderica dalam pembacaan Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 26 Agustus 2026 secara virtual, Senin (7/9/2026).

Baca juga : Menperin: Tempat Makan MBG Wajib Memenuhi SNI

Menurut Friderica, tekanan ekonomi masih datang dari inflasi dan ketahanan eksternal. Inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19 persen yoy. Sedangkan aktivitas manufaktur berada di zona kontraksi dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) 49,8.

Defisit transaksi berjalan pada triwulan II-2026 meningkat menjadi 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah (Timteng) juga masih tinggi akibat berlarutnya konflik di Iran dan tertutupnya Selat Hormuz. Kondisi tersebut memicu volatilitas harga minyak dan komoditas serta mempertahankan tekanan inflasi global.

Pertumbuhan ekonomi global pun cenderung termoderasi. Di Amerika Serikat (AS), pertumbuhan ekonomi melambat di bawah ekspektasi. Sementara di China, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan II-2026 turun menjadi 4,3 persen yoy.

Baca juga : Tenang, Layanan BPJS Normal & Tetap Gratis

Di pasar keuangan global, imbal hasil obligasi Pemerintah negara maju kembali meningkat seiring kebutuhan pendanaan belanja modal hyperscalers, sementara kebijakan moneter masih restriktif.

“Aliran keluar dana non-residen di pasar keuangan global juga masih terjadi, khususnya pada beberapa negara emerging markets,” jelas Kiki, sapaan Friderica.

Pasar Modal Menguat

Di tengah tekanan global, pasar saham domestik menguat pada Agustus 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.525,48, naik 4,64 persen secara month to month (mtm), meski masih terkoreksi 24,53 persen secara year to date (ytd).

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menegaskan, ketahanan dan likuiditas pasar modal domestik tetap terjaga.

Baca juga : Liverpool VS Atletico Madrid, Pembuktian Di Anfield

“Aliran modal masuk investor asing di pasar saham domestik juga berlanjut pada Agustus 2026, di mana tercatat adanya net buy investor asing senilai Rp1,19 triliun,” katanya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.