Dark/Light Mode

Bahlil Buka Opsi Setop Ekspor Gas, Kadin & Industri Keramik Dukung

Kamis, 22 Oktober 2026 14:37 WIB
Ilustrasi pipa gas. (Foto: Ist)
Ilustrasi pipa gas. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menyambut baik rencana Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk mengurangi hingga menghentikan ekspor gas bumi demi memprioritaskan kebutuhan industri dalam negeri.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin menilai, langkah tersebut menjadi sinyal kuat keberpihakan pemerintah terhadap industri nasional yang selama ini menghadapi kendala pasokan gas.

Menurut Saleh, ketersediaan gas yang memadai dan berkelanjutan penting untuk meningkatkan kapasitas produksi, menarik investasi, memperkuat daya saing manufaktur, serta menciptakan lapangan kerja.

“Pemerintah menunjukkan keberpihakan dengan mengutamakan kebutuhan industri dalam negeri,” ujar Saleh di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Baca juga : Bahlil Buka Opsi Setop Ekspor Gas, Saleh Husin Kasih Jempol

Ia mengatakan, gas merupakan salah satu sumber energi utama bagi sejumlah sektor industri sehingga pemerintah perlu mengutamakan pemenuhan kebutuhan dalam negeri untuk mendorong produksi manufaktur. Langkah tersebut, lanjutnya, diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk industri sekaligus membuka lapangan kerja yang lebih luas.

“Opsi menyetop ekspor gas ke negara tetangga adalah langkah yang sangat tepat. Berarti pemerintah telah berpaling mengutamakan kebutuhan dalam negeri,” ujar Saleh.

Saleh juga mengapresiasi respons cepat Bahlil terhadap arahan Presiden Prabowo Subianto terkait penguatan industri dan pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri. “Sekali lagi salut buat Mas Menteri Bahlil yang sangat cepat merespons bahasa tubuh dan keinginan Bapak Presiden Prabowo saat rapat kabinet kemarin,” katanya.

Dukungan terhadap rencana tersebut juga disampaikan Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto. Ia menyebut kebijakan itu sangat dinantikan industri keramik yang membutuhkan gas dalam proses pembakaran bersuhu tinggi.

Baca juga : Asaki: Pengetatan Impor Bikin Trader Keramik Beralih Jadi Produsen

Edy menegaskan, kepastian pasokan gas dengan harga yang kompetitif akan menjadi modal penting bagi industri keramik untuk meningkatkan utilisasi pabrik dan melanjutkan rencana ekspansi yang sempat terkendala.

“Inilah kebijakan yang telah lama kami tunggu dan harapkan sebagai industri penerima HGBT. Industri keramik akan kembali bergairah dan siap melanjutkan tahapan ekspansinya,” kata Edy.

Ia berharap, tambahan pasokan gas dapat memperkuat industri keramik sekaligus memberikan efek berganda terhadap sektor konstruksi, properti, transportasi, dan industri bahan baku. “Berikan kami gas, kami ciptakan multiplier effect dan dukung pertumbuhan ekonomi nasional,” tegasnya.

Rencana prioritas pemanfaatan gas untuk kebutuhan domestik juga memiliki rujukan regulasi, antara lain Peraturan Menteri ESDM Nomor 6 Tahun 2016 yang mengatur alokasi dan pemanfaatan gas bumi. Namun, implementasinya tetap perlu mempertimbangkan ketentuan hukum, kontrak penjualan, serta ketersediaan pasokan gas.

Baca juga : Industri Keramik RI Masuk 5 Besar Dunia, Siap Salip Vietnam!

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengakui pemerintah tengah menimbang menghentikan ekspor gas bumi. Langkah ini untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.