Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kemenperin Minta Industri Batik Terapkan Praktik Ramah Lingkungan 

Senin, 7 September 2020 16:10 WIB
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri  (BPPI) Kementerian Perindustrian, Doddy Rahadi. (Foto: ist)
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Doddy Rahadi. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian memberikan pelatihan kepada para pelaku industri batik di Tanah Air agar semakin berdaya saing global. Upaya ini diharapkan dapat memacu kompetensi para perajin batik sekaligus mendorong terciptanya inovasi produk.

“Beberapa waktu lalu, unit litbang di bawah binaan kami, yakni Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) di Yogyakarta telah menyelenggarakan pelatihan kepada perajin yang tergabung dalam Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur (APBJ) di 38 kabupaten dan kota,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri  (BPPI) Kemenperin, Doddy Rahadi di Jakarta, Senin (7/9).

Berita Terkait : Polda Metro Jaya Minta PT LIB Terapkan Protokol Kesehatan Saat Shopee Liga 1 Berlangsung

Salah satu fokus materi pelatihan yang diberikan saat itu adalah tentang proses pembuatan batik yang ramah lingkungan. Tujuannya untuk menciptakan efisiensi pemakaian bahan baku, energi, dan hemat air, sehingga limbah yang dihasilkan lebih sedikit. Hal ini sesuai dengan implementasi prinsip industri hijau yang dapat mendukung konsep ekonomi secara berkelanjutan.  

“Praktik industri hijau ini sangat penting dan mutlak untuk segera dilaksanakan guna tercapainya efisiensi produksi serta menghasilkan produk yang ramah lingkungan. Apalagi, industri ramah lingkungan merupakan sebuah ikon yang harus dipahami dan dilaksanakan dalam menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan,” paparnya.

Berita Terkait : Budi Arie Minta Kades Libatkan Anak Muda Untuk Bangun Desa

Untuk itu, guna mempercepat penerapan industri hijau dalam aktivitasnya, pelaku usaha perlu memanfaatkan teknologi modern atau hasil riset yang sudah ada. “Pengembangan industri yang ramah lingkungan bisa dilakukan melalui sejumlah cara. Mulai dari produksi bersih, konservasi energi, efisiensi sumber daya, proses daur ulang hingga teknologi rendah karbon,” sebut Doddy.

Kepala BBKB Yogyakarta, Titik Purwati Widowati menjelaskan, kegiatan pelatihan ini berlangsung dari Juni hingga Agustus 2020 dengan materi yang terdiri dari delapan topik mengenai praktik industri yang ramah lingkungan. Misalnya, penerapan manajemen bahan baku dan kimia, penghematan energi dan air, melakukan daur ulang lilin batik dan larutan bekas pewarna, pengolahan limbah batik, serta penetapan Standar Industri Hijau untuk batik. [DIT]