Dewan Pers

Dark/Light Mode

Ekonomi RI Resesi, Rupiah Tetap Joss

Kamis, 6 Mei 2021 09:36 WIB
Rupiah dan dolar AS. (Foto: ist)
Rupiah dan dolar AS. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah dibuka menguat. Pagi ini rupiah menguat 22 poin atau setara 0,15 persen di level Rp 14.413 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di level Rp 14.435 per dolar AS.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,01 persen menjadi 91,3130. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro melemah 0,14 persen ke level Rp 17.322, terhadap poundsterling Inggris minus 0,11 persen ke level Rp 20.062, dan terhadap dolar Australia juga melemah 0,16 persen ke level Rp 11.181.

Berita Terkait : Dolar Lesu, Rupiah Joss Lagi

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi menuturkan, hari ini rupiah diprediksi berfluktuasi, namun cenderung melemah tipis. "Kemungkinan bergerak di rentang Rp 14.420 sampai Rp 14.450 per dolar AS,” dalam laporan riset, Kamis (6/5).

Ibrahim menilai, data ekonomi RI kuartal I-2021 tak mampu mengangkat nilai tukar rupiah dari tren pelemahan. Mata uang Garuda tersebut keok di tangan dolar AS. 

Berita Terkait : Jelang Pidato Bos The Fed, Rupiah Lemes

"Ini terjadi karena kontraksi PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia genap terjadi selama empat kuartal beruntun. Artinya, Indonesia terjebak di jurang resesi ekonomi selama satu tahun," sebutnya.

Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2021 masih mengalami kontraksi 0,74 persen secara year on year (yoy). Kontraksi terjadi karena pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun lalu masih positif 2,97 persen.

Berita Terkait : Menguat Lagi, Rupiah Gilas Dolar

Meski begitu, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mengalami kontraksi 0,96 persen dibandingkan dengan kuartal IV-2020. Dengan demikian, maka pertumbuhan ekonomi mengalami perbaikan dengan kontraksi yang lebih rendah.

"Realisasi ini tidak jauh dari ekspektasi pasar, bahkan sedikit lebih baik. Konsensus yang dihimpun pasar memperkirakan PDB terkontraksi 1,09 persen (qtq), sementara secara tahunan diperkirakan terjadi kontraksi 0,87 persen (yoy)," katanya. [DWI]