Dark/Light Mode

OJK: Hingga Mei Pertumbuhan Kredit Masih Minus

Sabtu, 5 Juni 2021 06:44 WIB
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso (kanan) bersama Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka pada acara Sarasehan dan Koordinasi Pemulihan Ekonomi Solo Raya. (Foto: ist)
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso (kanan) bersama Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka pada acara Sarasehan dan Koordinasi Pemulihan Ekonomi Solo Raya. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso menyebut, pertumbuhan kredit nasional hingga Mei 2021 masih terkontraksi alias minus 2,4 persen. Hal ini disebabkan debitor korporasi besar masih menahan modal kerja.

"Kebanyakan debitor perusahaan yang kreditnya besar-besar memilih melunasi. Karena mereka tidak memerlukan modal kerja. Total ada sekitar 200 debitor besar ternyata mengurangi kreditnya. Jadi ini terlalu mahal," jelasnya dalam Sarasehan dan Koordinasi Pemulihan Ekonomi Solo Raya, Jumat (4/6).

Hal itulah yang menurut Wimboh, yang menyebabkan kredit belum naik. "Mudah-mudahan bisa naik dalam waktu dekat. Demand dari masyarakat masih yang belum butuh," imbuhnya. 

Baca juga : Menpora Getol Perjuangkan Pencak Silat Masuk Olimpiade

Saat ini, lanjut Wimboh, sumbangsih kredit hanya didukung oleh bank BUMN dan BPD yang tumbuh positif. BPD luar biasa tumbuhnya. Sekitar 6,35 persen. Bank BUMN pertumbuhannya 2,7 persen kredit. 

“Untuk itu, Bank BUMN digenjot baik lagi kreditnya. Yang masih minus itu bank swasta. Karena memang kondisinya seperti saat ini," harapnya.

Kebijakan OJK telah dilakukan dalam mendorong kredit. Termasuk penyelamatan Garuda supaya ada solusi. Tujuan bagaiaman agar masalah ini tak menimbulkan masalah besar bagi ekonomi nasional.

Baca juga : Prancis Terbuka, Djoker-Fedex Masih Mulus

Wimboh menegaskan, berbagai kebijakan daerah juga didorong. Bagaimana mendorong mobility dibuka aman. Karena berdasarkan kajian OJK, mobility menentukan besarnya PDB yang masih minus kuartal I- 2020 

"Jelang akhir tahun, mobility dibuka PDB naik tapi positif, tapi kasus Covid-19 juga naik. Kemudian kuartal I-2021 diketatkan, PDB turun. Fakta mobility sangat penting," tegasnya.

"Nanti kami berdiskusi lagi supaya jd masukan secara nasional. Mobility dibuka jangan sampai melanggar protap," pesannya. [DWI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.