Dewan Pers

Dark/Light Mode

Ikanu Nilai Pembatasan Kuota Studi Mesir Tepat

Minggu, 16 Mei 2021 19:01 WIB
Sekretaris Jenderal Ikatan Keluarga Alumni NU Mesir (IKANU) Anis Masduki. (Foto: Ist)
Sekretaris Jenderal Ikatan Keluarga Alumni NU Mesir (IKANU) Anis Masduki. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sekretaris Jenderal Ikatan Keluarga Alumni NU Mesir (IKANU) Anis Masduki mendukung kebijakan pembatasan kuota mahasiswa Indonesia ke Timur Tengah, salah satunya, ke Universitas Al Azhar Mesir.

Pembatasan itu dilakukan dengan dengan menaikkan standar kompetensi keilmuan, menguji komitmen wawasan kebangsaan, serta nilai-nilai Islam moderat (wasathiyah) yang menjadi visi dan misi Al-Azhar itu sendiri.

Menurut Gus Anis, sapaan akrabnya, tiga variabel itu penting sebagai bagian dari strategi untuk menjamin calon mahasiswa yang memanfaatkan fasilitas negara dan menikmati beasiswa adalah delegasi bangsa yang akan memperkuat eksistensi dan kontribusi agama dalam pembangunan nasional. Juga, memiliki wawasan kebangsaan yang kuat ketika kembali ke Tanah Air.

Selama ini, dituturkannya, banyak calon mahasiswa yang berangkat ke Mesir justru tidak belajar moderatisme Al Azhar.

Berita Terkait : Pakistan: Serangan Israel Bukan Konflik, Tapi Pembantaian Palestina!

Malah, mereka pulang ke Tanah Air dengan membawa doktrin yang kontradiktif dengan nilai-nilai kebangsaan pendiri Indonesia.

Di samping itu, menurut Anis, seleksi dan pembatasan kuota penerimaan mahasiswa juga sangat dibutuhkan saat ini, mengingat jumlah mahasiswa Indonesia yang berada di Timur Tengah, terutama Mesir, sudah cukup banyak.

"Bahkan di antara mereka banyak yang mengalami disorientasi karena tidak lagi memiliki komitmen belajar. Mereka justru bekerja dengan mengabaikan tujuan dan kewajiban belajar selama di perantauan," ujat Gus Anis, dalam siaran pers, Minggu (16/5).

Dia mengatakan, selain mengalami disorientasi belajar, banyak mahasiswa Indonesia tidak sanggup menyelesaikan studi, bergabung dengan kelompok garis keras atau bahkan teroris.

Berita Terkait : Libur Lebaran, Wisatawan Di Alun-Alun Kota Batu Meningkat

Menurut Gus Anis, pembatasan kuota calon mahasiswa yang akan belajar ke Timur Tengah, terutama Mesir, juga penting dilakukan supaya Kementerian Agama (Kemenag) bisa menyaring calon mahasiswa berdasarkan kompetensi yang dibutuhkan, memperbaiki fungsi pembinaan, dan fokus pada peningkatan kualitas, bukan kuantitas." Karena itu, kebijakan Kemenag kali ini layak untuk didukung dan diapresiasi," tandasnya.

Pelaksanaan seleksi yang transparan dan terbuka ini juga mendapatkan apresiasi dari banyak pihak. KH Abdul Ghofur Maemun yang juga alumni Al-Azhar Mesir, misalnya.

"Saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Kemenag yang telah sukses menyelenggarakan seleksi calon mahasiswa Timur Tengah secara transparan dan terbuka," tegas Kiai yang akrab dipanggil Gus Ghofur ini.

Menurutnya, meski masih ditemui beberapa kendala, hal itu masih wajar. Apalagi, ini pengalaman pertama seleksi ke Timur Tengah pada masa pandemi.

Berita Terkait : Dua Kali Lebaran Tak Ketemu Anak Istri, Dicky Budiman Tetap Semangat

Hal senada juga disampaikan KH Muhammad Faiz Sukron Makmun, pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta, yang juga alumni Al-Azhar, Mesir. Gus Faiz menyatakan, ijtihad Kemenag sudah sangat tepat. Apalagi, seleksi juga sudah disesuaikan dengan skill khas Indonesia, yakni kemampuan membaca kitab kuning.

Pada 11 Mei 2021, Kementerian Agama Republik Indonesia mengumumkan hasil seleksi penerimaan calon mahasiswa baru yang akan belajar ke Mesir dan Maroko.

Ada 1524 peserta seleksi dinyatakan lolos program non beasiswa dan 20 peserta lolos program beasiswa Al-Azhar Mesir, sedangkan 30 peserta dinyatakan lolos beasiswa Maroko.

Adapun total peserta seleksi hampir mencapai 6.000 peserta. Dengan begitu ada sekitar 4.000 peserta yang harus menanggalkan harapan melanjutkan belajar ke Timur Tengah. [TIF]