Dark/Light Mode

Waspada, Jelang Lebaran Banyak Beredar Makanan Tak Layak Konsumsi

Senin, 20 Mei 2019 14:09 WIB
Kepala BPOM Penny K Lukito (berhijab) mengecek makanan tidak layak konsumsi yang disita BPOM, di Kantor BPOM, Jakarta, Senin (20/5). (Foto: Novalliandy/Rakyat Merdeka)
Kepala BPOM Penny K Lukito (berhijab) mengecek makanan tidak layak konsumsi yang disita BPOM, di Kantor BPOM, Jakarta, Senin (20/5). (Foto: Novalliandy/Rakyat Merdeka)

RM.id  Rakyat Merdeka - Untuk mengantisipasi beredarnya produk yang tidak memenuhi syarat konsumsi selama bulan Ramadan dan jelang Lebaran, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan pengawasan pangan secara intensif.

Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito mengatakan, kegiatan ini dilakukan sejak tanggal 22 April 2019 melalui 33 Balai Besar/Balai POM dan 40 Kantor Badan POM di seluruh Indonesia. BPOM bekerja sama dengan berbagai lintas sektor terkait dan hasil pengawasan ini dilaporkan secara bertahap setiap minggu hingga tanggal 7 Juni 2019.

Target intensifikasi pengawasan difokuskan pada pangan olahan Tanpa Izin Edar (TIE)/ilegal, kedaluwarsa, dan rusak. Serta pangan jajanan berbuka puasa (takjil) yang kemungkinan mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks, dan pewarna dilarang (rhodamin B dan methanyl yellow).

Baca juga : Bandara Baru Yogyakarta Bantu Pergerakan Pemudik

 "Sampai dengan tanggal 10 Mei 2019 (tahap III), telah dilakukan pemeriksaan terhadap 1.834 sarana ritel dan distribusi pangan yang terdiri dari 1.553 sarana ritel dan 281 sarana gudang distributor/importir. Hasilnya, ditemukan 170.119 kemasan produk pangan rusak, kedaluwarsa, dan ilegal atau Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) dari 796 sarana distribusi dengan total nilai keekonomian mencapai lebih dari 3,4 miliar rupiah," kata Penny di kantor BPOM, Jakarta, Senin (20/5).

Ia menjelaskan, jika dibandingkan dengan data intensifikasi pangan tahun 2018, terjadi peningkatan jumlah temuan dan besaran nilai keekonomian temuan. Perbandingannya, pada Tahap III tahun 2018, pemeriksaan dilakukan terhadap 1.726 sarana ritel/distributor pangan, jumlah total temuan produk pangan TMK sebanyak 110.555 kemasan dari 591 sarana distribusi dengan total nilai keekonomian lebih dari 2,2 miliar rupiah. 

”Peningkatan jumlah dan nilai keekonomian temuan tersebut merupakan hasil dari semakin meluasnya cakupan pengawasan intensifikasi pangan hingga ke Kabupaten dan Kota,” ungkap Penny.
 Lebih lanjut Penny memaparkan, bahwa berdasarkan lokasi temuan, temuan pangan kedaluwarsabanyak ditemukan di Kendari, Jayapura, Mimika, Palopo, dan Bima, dengan jenis produk susu kental manis, sirup, tepung, makanan ringan, dan biskuit. 

Baca juga : Bamsoet Berhasil Patahkan Mitos

"Sementara untuk temuan pangan ilegal banyak ditemukan di Kendari, Tangerang, Makassar, Baubau dan Banjarmasin, dengan jenis produk garam, makanan ringan, cokelat, Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), dan minuman berperisa,” ujarnya.

Untuk pangan jajanan berbuka puasa (takjil), dari 2.804 sampel yang diperiksa oleh petugas Badan POM di berbagai kota di Indonesia, masih terdapat 83 sampel (2,96%) Tidak Memenuhi Syarat (TMS), yang dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu kelompok agar-agar; kelompok minuman berwarna, kelompok mie, dan kelompok kudapan. Temuan bahan berbahaya yang banyak disalahgunakan pada pangan yaitu formalin (39,29%), boraks (32,14%), dan rhodamin B (28,57%).

 ”Apabila dibandingkan dengan data intensifikasi pangan pada tahun 2018, tahun ini terjadi penurunan persentase produk takjil yang TMS. Pada pelaksanaan intensifikasi tahap III tahun 2018, sampel yang tidak memenuhi syarat sebesar 5,34%,” ungkap Penny. [NOV]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.