Dark/Light Mode

AAJI Gelar Chief Risk Officer Forum 2026, Perkuat Ketahanan Industri Asuransi

Jumat, 8 Mei 2026 19:08 WIB
Foto Dok AAJI
Foto Dok AAJI

RM.id  Rakyat Merdeka - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menggelar Chief Risk Officer (CRO) Forum 2026 untuk memperkuat ketahanan risiko industri asuransi jiwa di tengah ketidakpastian global. Bertema “Navigating Geopolitical Uncertainty: Strengthening Risk Resilience for Indonesia’s Life Insurance Industry”, forum ini mempertemukan regulator, ekonom, dan pelaku industri guna menjembatani perspektif makroekonomi dengan praktik manajemen risiko di perusahaan.

Ketua Bidang Hukum dan Kepatuhan AAJI, Robbi Yanuar Walid, menyebut kompleksitas risiko industri meningkat akibat transformasi digital, pengelolaan data, dan ancaman siber. “Penguatan ketahanan siber bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. AAJI mendorong ini lewat kolaborasi dan inisiatif cyber help desk,” ujarnya.

Dinamika global yang dipicu tensi geopolitik, fragmentasi ekonomi, inflasi, kenaikan suku bunga, dan volatilitas nilai tukar memberi tekanan berlapis pada pasar. Bagi asuransi jiwa, kondisi ini berdampak pada penurunan valuasi aset, fluktuasi hasil investasi, hingga perubahan asumsi aktuaria dan perilaku nasabah. Kenaikan suku bunga memengaruhi kewajiban jangka panjang, sementara tekanan ekonomi berpotensi menaikkan lapse dan surrender. Biaya medis dan pola morbiditas yang berubah juga meningkatkan eksposur risiko asuransi.

Baca juga : Pertagas Resmi Jadi Operator Cisem II, Perkuat Ketahanan Energi

Digitalisasi dan perubahan perilaku nasabah menambah kompleksitas risiko operasional, termasuk tekanan pada sistem. Ketegangan geopolitik turut memperluas ancaman siber yang kini jadi fokus utama menjaga ketahanan operasional dan perlindungan data.

“Kombinasi faktor ini bisa memicu ‘perfect storm’, di mana risiko pasar, likuiditas, asuransi, operasional, dan siber terjadi bersamaan. Perusahaan dituntut punya strategi risiko yang forward-looking, terintegrasi, dan adaptif,” kata Robbi.

Forum dibuka oleh Chief Economist PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, dengan topik “Global Risk Landscape” yang membahas konteks eksternal industri. Sesi berikutnya diisi Bernadeth Sao, Partners Ernst & Young Indonesia, dan Adrianus Darmawan, CRO PT Asuransi Allianz Life Indonesia, membahas “From Global Risks to Local Action: How Life Insurance CROs are Navigating Uncertainty”.

Baca juga : METCONNEX 2026 Perkuat Hilirisasi Tambang dan Industri Metalurgi

Deputi Komisioner OJK, Iwan Pasila, menegaskan industri asuransi menghadapi spektrum risiko luas, dari bencana alam hingga siber. “Best practices CRO bukan sekadar konsep, tapi memastikan kecukupan modal, disiplin mengelola risiko, dan tata kelola efektif. Regulasi adalah pedoman agar perusahaan lebih baik dan berdaya saing,” jelasnya.

Dewan Pengawas AAJI, Firdaus Djaelani, menyebut peran CRO kini krusial sebagai mitra strategis. “Diperlukan pendekatan manajemen risiko proaktif, berbasis data, dan kolaboratif. Hasil forum ini harus diwujudkan dalam langkah konkret,” tutupnya.

Forum dihadiri CRO dan tim manajemen risiko perusahaan anggota AAJI, Dewan Pengurus AAJI, serta Working Group CRO AAJI. AAJI berharap forum ini mendorong kesiapan industri menghadapi ketidakpastian dan menjadi sarana kolaboratif berbagi praktik terbaik.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.